Sabtu, Mei 16, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Realita Program Chromebook Jadi Barang Bukti Politik

by Naysa
Mei 16, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter
Dulu, laptop sekolah dipromosikan sebagai simbol masa depan pendidikan Indonesia. Tapi sekarang, Chromebook justru muncul di ruang sidang sebagai barang bukti kasus korupsi triliunan rupiah. Dari sini publik mulai melihat satu kenyataan pahit: di Indonesia, teknologi sering berubah menjadi arena politik, konflik kekuasaan, dan pertarungan kepentingan.

Tabooo.id – Dulu, laptop sekolah dijual sebagai simbol masa depan pendidikan Indonesia. Pemerintah membawa jargon transformasi digital, pemerataan akses belajar, dan kesiapan generasi muda menghadapi era teknologi.

Tapi sekarang, benda yang dulu dipromosikan sebagai alat belajar itu justru hadir di ruang sidang sebagai barang bukti politik.

Dari Alat Belajar Menjadi Simbol Kekuasaan

Kasus dugaan korupsi Chromebook membuat publik melihat satu kenyataan pahit di Indonesia, teknologi tidak pernah benar-benar netral. Ia selalu membawa kepentingan, kekuasaan, dan pertarungan narasi di belakangnya.

Dan ketika proyek pendidikan berubah menjadi perkara hukum triliunan rupiah, yang runtuh bukan cuma reputasi pejabat. Kepercayaan publik terhadap mimpi digitalisasi juga ikut retak.

Negara Terlalu Cepat Jatuh Cinta pada Teknologi

Masalah terbesar proyek Chromebook mungkin bukan laptopnya.

Ini Belum Selesai

Kapitalisme Fleksibel Lahirkan ‘Dangerous Class’?

Cum Laude Massal: Ketika Nilai Tinggi Kehilangan Harga Diri

Masalahnya adalah cara negara memandang teknologi seperti mantra ajaib yang bisa menyelesaikan semuanya sekaligus.

Sekolah belum punya internet stabil. Daerah 3T masih kesulitan listrik. Guru banyak yang belum siap secara teknis.

Tapi negara tetap memaksa digitalisasi berjalan cepat demi membangun citra modern.

Akibatnya, laptop datang lebih dulu daripada kesiapan sistem.

Dan seperti banyak proyek besar lain di Indonesia, ambisi akhirnya bergerak lebih cepat daripada realitas lapangan.

Ketika Pendidikan Masuk ke Arena Politik

Lebih jauh lagi, kasus ini memperlihatkan sesuatu yang lebih dalam: pendidikan di Indonesia tidak pernah benar-benar bebas dari kepentingan politik.

Setiap pergantian menteri selalu membawa jargon baru. Setiap kebijakan besar selalu berubah menjadi proyek citra. Dan setiap proyek bernilai besar selalu membuka ruang konflik kepentingan.

Chromebook akhirnya bukan lagi soal belajar mengajar. Ia berubah menjadi simbol pertarungan antara birokrasi, vendor teknologi, aparat hukum, dan opini publik.

Ironisnya, siswa yang seharusnya menjadi pusat kebijakan justru menghilang dari percakapan.

Publik sibuk menghitung triliunan rupiah. Sementara banyak sekolah masih sibuk mencari sinyal internet.

Birokrasi Indonesia Suka Modernisasi yang Instan

Indonesia punya kebiasaan unik, selalu ingin terlihat modern tanpa mau membangun fondasi panjang.

Kita suka membeli teknologi. Tapi sering malas membangun ekosistem.

Kita bangga meluncurkan aplikasi. Tapi lupa memperbaiki kualitas sumber daya manusia.

Kita suka berbicara tentang artificial intelligence, smart city, dan digitalisasi nasional.

Padahal banyak pelayanan publik dasar saja masih berantakan.

Kasus Chromebook membuka kenyataan itu secara telanjang. Teknologi akhirnya lebih sering menjadi alat pencitraan daripada solusi nyata.

Ketika Laptop Berubah Jadi Simbol Ketakutan Baru

Yang membuat kasus ini terasa berbeda adalah dampak psikologisnya. Banyak profesional muda mulai melihat birokrasi sebagai ruang yang berbahaya.

Mereka melihat bagaimana proyek inovasi bisa berubah menjadi tuntutan pidana puluhan tahun.

Mereka melihat bagaimana keputusan kebijakan bisa ditafsirkan sebagai niat jahat.

Dan perlahan muncul ketakutan baru, lebih aman menghindari negara daripada mencoba memperbaikinya.

Masalahnya, negara tetap membutuhkan orang-orang kompeten.

Tapi kalau sistem membuat semua orang takut mengambil risiko, birokrasi akhirnya hanya akan diisi orang-orang yang bermain aman.

Di Indonesia, Barang Bukti Sering Lebih Besar dari Barangnya

Pada dasarnya, laptop dalam kasus ini sebenarnya hanya benda biasa. Tapi di ruang publik Indonesia, ia berubah menjadi simbol yang jauh lebih besar.

Ia menjadi simbol kegagalan tata kelola. Kasus ini mencerminkan benturan antara kultur startup dan birokrasi negara. Selain itu, kasus ini juga memperlihatkan ambisi digital yang bergerak terlalu cepat sekaligus memperbesar ketidakpercayaan publik terhadap negara.

Lebih ironis lagi, kasus ini menunjukkan bahwa pendidikan masih terus menjadi arena perebutan kekuasaan.

Padahal di banyak daerah, siswa cuma butuh ruang kelas layak, guru yang hadir, dan koneksi internet stabil.

Ini Bukan Sekadar Kasus Laptop

Kasus Chromebook bukan cuma cerita tentang pengadaan barang. Ini cerita tentang cara negara bekerja.

Tentang bagaimana ambisi modernisasi sering berjalan tanpa kesiapan.

Tentang bagaimana birokrasi dan politik bisa mengubah alat pendidikan menjadi alat konflik.

Dan tentang bagaimana publik sekarang mulai kehilangan kemampuan membedakan inovasi, kesalahan, kebijakan, dan korupsi murni.

Di negeri ini, laptop ternyata bisa berubah menjadi barang bukti politik.

Dan mungkin itu lebih berbahaya daripada kerusakan perangkatnya sendiri. @naysa

Tags: birokrasi indonesiadigitalisasi pendidikankasus Chromebookkorupsi teknologipolitik pendidikan

Kamu Melewatkan Ini

Saat Inovator Mulai Menjauh dari Negara

Saat Inovator Mulai Menjauh dari Negara

by Naysa
Mei 16, 2026

Negara terus bilang butuh anak muda cerdas dan inovatif untuk memperbaiki birokrasi. Masalahnya, semakin banyak profesional muda justru mulai melihat...

Di Balik 'Shadow Organization' Chromebook Nadim Makarim

Di Balik ‘Shadow Organization’ Chromebook Nadim Makarim

by Naysa
Mei 15, 2026

Dulu, Nadiem Anwar Makarim dipuji sebagai simbol inovasi dan masa depan pendidikan Indonesia. Kini, ia justru menghadapi tuntutan 18 tahun...

Next Post
Kapitalisme Fleksibel Lahirkan 'Dangerous Class'?

Kapitalisme Fleksibel Lahirkan 'Dangerous Class'?

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Jurnalis Kalteng Diteror Usai Ajakan Nobar “Pesta Babi”, Diancam Disiram Air Keras

Mei 15, 2026

Disekap dan Diperkosa: Ironi Mahasiswi Makassar Saat Mencari Pekerjaan

Mei 15, 2026

“Sepatu Kekecilan” dan Tragedi Siswa SMK Samarinda yang Mengguncang Publik

Mei 15, 2026

300 Rumah Terendam Saat Warga Tidur: Banjir Lumajang Datang dari Hulu

Mei 15, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id