Minggu, Juni 28, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Lulus Seleksi, Gugur di Barak: Tragedi Lima Calon Manajer Kopdes

by dimas
Juni 28, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter
Tragedi lima calon manajer Kopdes Merah Putih yang meninggal saat latihan militer memunculkan sorotan terhadap evaluasi kesehatan dan tanggung jawab negara.

Tabooo.id – Menjelang malam, ruang perawatan di rumah sakit kembali menjadi saksi. Bukan karena perang. Bukan pula karena bencana alam. Seorang perempuan muda yang beberapa jam sebelumnya masih mengikuti kelas sosiologi dan teknik perkebunan kini terbaring tak bergerak. Napasnya semakin berat. Jantungnya akhirnya berhenti.

Namanya Nola Dya Sari.

Ia bukan prajurit. Ia juga bukan peserta operasi militer. Nola mengikuti Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) sebagai calon manajer Koperasi Desa Merah Putih. Namun perjalanan pengabdiannya justru berakhir di ruang gawat darurat.

Nola menjadi peserta kelima yang meninggal dunia selama mengikuti latihan dasar militer.

Lima kematian dalam waktu singkat bukan lagi sekadar angka statistik. Deretan peristiwa itu berubah menjadi alarm yang memaksa publik bertanya: apakah sistem benar-benar bekerja sebagaimana mestinya?

Ini Belum Selesai

Bayar Tepat Waktu, Layanan Kapan Tepat?

Reformati: Ketika Jalanan Menjadi Pengadilan Kekuasaan

Dari Pelatihan Menuju Ruang Gawat Darurat

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Pertahanan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, menjelaskan bahwa Nola mengikuti seluruh kegiatan belajar pada Jumat, 26 Juni 2026 tanpa mengeluhkan gangguan kesehatan.

Situasi berubah menjelang malam.

Sekitar pukul 18.45 WIB, Nola mengeluhkan sesak napas disertai demam. Tim kesehatan segera memberikan pertolongan pertama sebelum membawa Nola ke IGD Rumah Sakit Singkawang. Ketika kondisinya memburuk, tim medis merujuknya ke RSUD Abdul Aziz Singkawang.

Dokter melakukan resusitasi jantung dan berbagai tindakan penyelamatan. Namun semua upaya itu tidak berhasil. Pada pukul 21.03 WIB, dokter menyatakan Nola meninggal dunia.

Kementerian Pertahanan masih mengevaluasi penyebab kematian Nola. Tim pemeriksa sebelumnya mencatat Nola memiliki kelebihan berat badan. Meski begitu, tim tetap menyatakan ia memenuhi syarat kesehatan saat seleksi.

Di atas kertas, panitia telah menjalankan seluruh prosedur seleksi.

Namun di lapangan, satu nyawa kembali melayang.

Bukan Satu Kasus, Melainkan Lima

Kematian Nola menambah daftar panjang peserta yang wafat selama pelatihan.

Sehari sebelumnya, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan meninggal akibat infeksi paru yang memicu komplikasi medis. Dokter juga mencatat riwayat hipertensi dan obesitas dalam evaluasi kesehatannya.

Sebelum itu, tiga peserta lain lebih dahulu meninggal.

Dokumen medis mencatat Novia Rahmadhani Sihotang memiliki riwayat tuberkulosis.

Anisa Muyassaroh meninggal setelah mengalami heat stroke saat menjalani latihan.

Sementara itu, Yonanda Muhammad Taufiq wafat akibat henti jantung ketika mengikuti pendidikan.

Kelima peserta meninggal karena penyebab medis yang berbeda.

Namun seluruh kisah itu berujung pada titik yang sama. Program pendidikan tersebut bertujuan membentuk calon penggerak pembangunan desa, tetapi lima peserta justru kehilangan nyawa selama proses berlangsung.

Di sinilah pertanyaan publik mulai bergeser.

Publik tidak lagi hanya bertanya, “Apa penyebab kematian mereka?” Publik kini mempertanyakan, “Apakah sistem mampu mengantisipasi risiko sejak awal?”

Ketika Standar Administrasi Bertemu Realitas Lapangan

Kementerian Pertahanan menegaskan seluruh peserta lolos seleksi kesehatan.

Pernyataan itu memang penting. Namun justru di situlah letak persoalannya.

Lolos seleksi administrasi kesehatan tidak selalu berarti seseorang siap menghadapi tekanan fisik yang tinggi.

Obesitas, hipertensi, riwayat tuberkulosis, hingga potensi gangguan jantung menuntut tim kesehatan melakukan pemantauan ketat selama pelatihan. Pemeriksaan awal hanyalah pintu masuk. Pengawasan harian menentukan keselamatan setiap peserta.

Dalam dunia kedokteran olahraga maupun pendidikan militer, proses skrining hanya menjadi lapisan pertama.

Lapisan berikutnya mencakup deteksi dini, evaluasi harian, penyesuaian intensitas latihan, hingga respons medis yang cepat ketika gejala awal muncul.

Jika lima peserta meninggal dalam rentang waktu yang relatif berdekatan, publik tentu berhak mempertanyakan apakah seluruh lapisan perlindungan itu benar-benar berjalan optimal.

Ambisi Besar Negara, Risiko Besar di Lapangan

Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia hadir untuk menyiapkan sumber daya manusia yang akan mengelola Koperasi Desa Merah Putih dan Koperasi Kampung Nelayan Merah Putih.

Program ini membawa misi besar.

Pemerintah ingin memperkuat ekonomi desa melalui koperasi.

Namun pembangunan tidak pernah hanya berbicara tentang target.

Pembangunan selalu berbicara tentang manusia yang menjalankannya.

Ketika negara mengirim ribuan anak muda mengikuti pendidikan, negara wajib menjaga keselamatan mereka hingga kembali ke rumah.

Jumlah koperasi yang berdiri bukan satu-satunya ukuran keberhasilan program.

Publik juga menilai keberhasilan program dari keseriusan negara melindungi orang-orang yang membangun desa.

Komnas HAM Masuk, Kepercayaan Publik Dipertaruhkan

Lima kematian itu membuat perhatian publik semakin besar.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia meminta pemerintah melakukan autopsi terhadap jenazah lima peserta agar penyebab kematian mereka dapat dipastikan secara transparan.

Permintaan itu menunjukkan bahwa persoalan ini tidak lagi berhenti pada ranah kesehatan.

Kasus ini kini memasuki ruang akuntabilitas publik.

Semakin terbuka pemerintah menjalankan investigasi, semakin besar peluang memulihkan kepercayaan masyarakat.

Sebaliknya, jika pemerintah hanya berhenti pada penjelasan administratif, ruang spekulasi akan terus melebar.

Ini Bukan Sekadar Lima Kematian

Lima peserta meninggal bukan berarti seluruh sistem gagal.

Namun publik sulit menganggap lima kematian itu sekadar rangkaian kebetulan.

Setiap peserta meninggal karena penyebab medis yang berbeda.

Namun polanya tetap sama. Seluruh kematian terjadi di lingkungan pendidikan yang menjadi tanggung jawab negara.

Karena itu, pemerintah tidak cukup memeriksa diagnosis masing-masing korban.

Pemerintah juga harus membedah desain pelatihan, mekanisme skrining kesehatan, sistem pengawasan medis, dan standar keselamatan agar kasus serupa tidak kembali terjadi.

Pada akhirnya, pembangunan desa membutuhkan pemimpin yang sehat.

Lebih dari itu, pembangunan membutuhkan negara yang mampu melindungi setiap orang yang datang untuk mengabdi agar mereka tidak kehilangan nyawanya sebelum sempat bekerja.

Sebab desa membutuhkan manajer.

Bukan nama-nama baru dalam daftar duka. @dimas

Tags: Kementerian PertahananKoperasi Desa Merah PutihLatihan Dasar MiliterManajer KopdesSPPITragedi

Kamu Melewatkan Ini

No Content Available
Next Post
From Reality to Narrative: Mengubah Tradisi Menjadi Karya

From Reality to Narrative: Mengubah Tradisi Menjadi Karya

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id