Tabooo.id: Bisnis – Indonesia memang kaya emas, dari Sabang sampai Merauke. Belakangan ini, perhatian publik mengarah ke Tambang Emas Martabe di Sumatra Utara. PT Agincourt Resources mengelola tambang tersebut sebagai anak usaha PT United Tractors Tbk (UNTR).
Pemerintah Siap Ambil Alih Martabe
Pemerintah kini bersiap mengambil alih konsesi Martabe melalui PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas). Namun hingga kini, UNTR mengaku belum menerima surat resmi terkait rencana tersebut. Saat ini, PT Danusa Tambang Nusantara anak usaha UNTR menguasai 95% saham Agincourt. Sementara itu, PT Artha Nugraha Agung, unit BUMD Tapanuli Selatan, memegang 5% sisanya.
Martabe mulai berkembang sejak 2008 dan memasuki fase produksi emas pada 2012. Awalnya, konsesi tambang ini membentang seluas 6.560 km². Seiring waktu, wilayah konsesi menyusut menjadi 130.252 hektare yang mencakup Tapanuli Selatan, Tengah, Utara, serta Mandailing Natal.
Hingga Juni 2025, perusahaan memproyeksikan cadangan mineral mencapai 6,4 juta ons emas dan 58 juta ons perak. Selain itu, cadangan bijih tercatat sekitar 3,56 juta ons emas dan 31 juta ons perak.
Tambang Emas Lain yang Jadi Sorotan
Selain Martabe, Indonesia juga memiliki sejumlah tambang besar lain yang tak kalah strategis.
Pertama, Grasberg di Papua. PT Freeport Indonesia mengoperasikan tambang emas-tembaga terbesar di dunia ini. Sepanjang 2025, perusahaan menghasilkan 1,01 miliar pon tembaga. Berdasarkan studi terbaru, cadangan hingga 2041 diperkirakan mencapai 8 miliar pon tembaga dan 8 juta ons emas. Saat ini, Freeport tengah memulihkan operasi usai longsor pada September lalu.
Berikutnya, Batu Hijau di Nusa Tenggara Barat. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mengelola tambang yang menyimpan 16,6 miliar pon tembaga dan 22,5 juta ons emas. Untuk menjaga keberlanjutan produksi, perusahaan menyiapkan proyek eksplorasi Elang yang akan beroperasi mulai 2027 sebagai pengganti Batu Hijau yang diproyeksikan habis pada 2030.
Di Jawa Timur, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mengoperasikan tambang Tujuh Bukit sejak 2016. Tambang ini menyimpan cadangan 8,2 juta ton tembaga dan 27,9 juta ons emas. Tak heran, banyak pihak menilai deposit ini sebagai salah satu porfiri tembaga-emas terbesar yang belum sepenuhnya dikembangkan.
Sementara itu di Gorontalo, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) menargetkan Tambang Pani mulai berproduksi pada kuartal I 2026. Proyek ini menyimpan lebih dari 7 juta ons emas. Perusahaan juga merancang tambang terbuka berbiaya rendah dengan kapasitas pengolahan 19 juta ton bijih per tahun.
Di Sulawesi Tengah, PT Citra Palu Minerals anak usaha Bumi Resources Minerals Tbk mengelola tambang Pobaya. Cadangan tambang ini mencapai 34,1 juta ton bijih emas. Perusahaan pun mengantongi izin produksi hingga 2050.
Terakhir, Toka Tindung di Sulawesi Utara. PT Meares Soputan Mining bersama PT Tambang Tondano Nusajaya (Archi Indonesia Tbk) mengelola tambang ini. Hingga akhir 2020, perusahaan mencatat sumber daya 5,5 juta ons emas dan cadangan 3,9 juta ons emas.
Dampak dan Tantangan
Jika pemerintah benar-benar mengambil alih Martabe, masyarakat lokal dan negara berpeluang memperoleh kontrol lebih besar atas sumber daya serta potensi royalti. Di sisi lain, investor dan UNTR menghadapi ketidakpastian terkait kelanjutan operasi serta kepastian iklim investasi.
Pada akhirnya, di balik angka-angka fantastis tersebut, satu hal tetap jelas: Indonesia memiliki cadangan emas yang melimpah. Namun demikian, mengelolanya secara tepat tanpa mengusik kepercayaan investor masih menjadi pekerjaan rumah besar. Sebab, satu langkah keliru bisa membuat emas tetap tertimbun di tanah, sementara peluang dan modal justru hengkang ke luar negeri. @sigit




