Tabooo.id: Regional – Ramadan tahun ini tak hanya tentang azan magrib dan takjil. Di jantung kota, Surakarta menyalakan suasana lewat Ramadan Light Festival dan Kampung Ramadan di kawasan Balai Kota Solo. Pemerintah kota menyulap ruang publik menjadi panggung kreativitas sekaligus mesin penggerak ekonomi warga.
Puluhan pedagang membuka lapak di halaman Balai Kota. Mereka berjualan di bawah tenda-tenda rapi, menawarkan kuliner yang akrab di lidah dari mi ayam bangka, dimsum mentai, tahu gejrot telur gulung, siomai, cireng, hingga zuppa soup, batagor, tempe mendoan, bakso tusuk, dan bakso goreng. Pilihannya sederhana, tetapi denyut ekonominya nyata.
Lampion Imlek dan Ramadan, Simbol Toleransi Kota
Pengunjung tak sekadar membeli untuk dibawa pulang. Meja-meja makan tersedia. Pendopo dan halaman Balai Kota juga terbuka untuk siapa saja yang ingin menikmati santapan di tempat. Sementara itu, instalasi lampion bertema Imlek dan Ramadan menggantung di atas kepala, memantulkan cahaya hangat yang membuat suasana terasa lebih hidup dan, tentu saja, Instagramable.
Wakil Wali Kota Solo, Astrid Widayani, menyebut festival ini sebagai kelanjutan dari rangkaian perayaan sebelumnya. Menurutnya, ornamen tematik dipasang sejak Imlek lalu disambungkan ke Ramadan. Pemerintah Kota Surakarta, kata dia, ingin menjaga semarak kota sekaligus menegaskan pesan toleransi.
“Kami menggabungkan kreativitas yang sudah berjalan, mulai dari perayaan Imlek kemudian nyambung ke Ramadan. Banyak ornamen dipasang di sepanjang kawasan Balai Kota Solo dan Pasar Gede, serta banyak UMKM yang kami berikan ruang untuk berjualan,” ujar Astrid.
Pesan toleransi itu bukan sekadar slogan. Lampion merah khas Imlek berdampingan dengan dekorasi Ramadan. Simbol-simbol budaya saling menyapa, tanpa saling meniadakan. Di tengah polarisasi yang sering riuh di media sosial, pemandangan ini terasa seperti pengingat sunyi: kota bisa merayakan perbedaan tanpa kehilangan identitas.
UMKM Dapat Panggung, Ekonomi Berputar
Namun, di balik cahaya lampu dan unggahan media sosial, ada soal yang lebih mendasar: perputaran uang. Ramadan selalu menjadi momentum ekonomi. Konsumsi naik, kebutuhan bertambah, dan ruang-ruang publik berubah menjadi pasar musiman. Bagi UMKM, inilah waktu emas.
Daniel, pedagang di tenant Teh Tarik Brims, mengaku penjualan hari itu menjadi yang terbaik selama ia berjualan di lokasi tersebut. “Hari ini pengunjung dan penjualan lebih baik daripada beberapa hari selama jualan di sini. Kendalanya hujan, kemungkinan membuat pengunjung sepi,” katanya kepada Tabooo.id, Rabu (25/2/26).
Ia membuka lapak sejak pukul 15.00 hingga malam. Momentum Ramadan dan mendekati Lebaran ia manfaatkan untuk memperluas pasar. Strateginya sederhana: hadir di pusat keramaian, memanfaatkan arus pengunjung yang datang berburu takjil dan suasana.
Siapa Paling Terdampak?
Pertama, tentu para pelaku UMKM. Mereka mendapat ruang jualan tanpa harus menyewa tempat mahal di pusat perbelanjaan. Kedua, pekerja informal karyawan tenant, penjaga parkir, hingga pemasok bahan baku ikut merasakan efek domino. Ketiga, warga kota, terutama anak muda dan keluarga, yang memperoleh alternatif ruang rekreasi murah meriah di tengah naiknya biaya hidup.
Di sisi lain, ada tantangan yang tak bisa diabaikan. Cuaca menjadi faktor penentu. Hujan bisa membuyarkan rencana, mengurangi jumlah pengunjung, dan otomatis memangkas omzet. Selain itu, pengelolaan kebersihan dan ketertiban harus dijaga agar ruang publik tetap nyaman.
Lebih dari Sekadar Festival Musiman
Ramadan Light Festival dan Kampung Ramadan di Balai Kota Solo menjadi cermin bagaimana perayaan keagamaan bisa bersanding dengan pemberdayaan ekonomi. Ia bukan sekadar panggung hiasan, melainkan ruang pertemuan antara budaya, bisnis, dan kebersamaan.
Lampu-lampu itu mungkin akan padam setelah Ramadan usai. Namun pertanyaannya sederhana: apakah semangat memberi ruang bagi UMKM dan merawat toleransi juga akan tetap menyala, atau hanya ikut redup bersama dekorasi musiman? @eko




