Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Jalan Santai Banjar Legian Kulod: Dari Langkah Kecil ke Rasa Satu Keluarga

by eko
Maret 22, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Regional – Warga Banjar Legian Kulod merawat kebersamaan dengan cara sederhana jalan santai. Pada Minggu (22/3/2026), ratusan warga dari berbagai usia ikut jalan santai yang dimulai dari Gedung Banjar Legian Kulod dan menyusuri lingkungan setempat.

Kegiatan ini bukan sekadar soal keringat. Di tengah ritme hidup yang makin padat, jalan santai berubah jadi “ruang sosial dadakan”. Warga saling sapa, tertawa, dan mengingat kembali bahwa mereka hidup dalam satu komunitas.

Kelian Adat Banjar Legian Kulod, I Nyoman Suma Nata, menegaskan tujuan utamanya: menjaga silaturahmi dan memperkuat rasa kebersamaan. “Sederhana, tapi penting,” katanya. Kalimat ini terdengar klise tapi justru itu yang sering hilang di kehidupan modern.

Menghidupkan Ruang Sendiri, Bukan Sekadar Tren

Panitia sengaja memilih kawasan banjar sebagai lokasi kegiatan. Alasannya jelas: dekat, mudah diakses, dan punya nilai emosional kuat. Saat banyak komunitas berlomba mencari tempat “instagramable”, warga di sini justru menghidupkan ruang yang sudah mereka miliki.

Namun, proses di balik acara tidak selalu mulus. Panitia menghadapi tantangan koordinasi waktu karena warga memiliki jadwal berbeda. Mereka juga harus menyiapkan konsumsi, perlengkapan, dan mengantisipasi cuaca.

Ini Belum Selesai

DPR Sahkan RUU Polri, Pengawasan dan Netralitas Jadi Taruhan

Chatib Basri Dipanggil ke Istana, Apakah Purbaya Akan Diganti?

“Tidak mudah menyatukan banyak orang dengan kesibukan berbeda,” ujar Suma Nata. Meski begitu, kerja sama warga jadi kunci. Mereka mengatasi tantangan teknis dan memastikan acara tetap berjalan lancar.

Dari Lansia Hingga Generasi Muda

Kegiatan ini memberi dampak langsung, terutama bagi lansia dan anak-anak yang sering tertinggal dalam dinamika sosial. Jalan santai membuka ruang interaksi lintas generasi sesuatu yang makin jarang terjadi di era layar dan kesibukan individual.

Generasi muda juga jadi fokus penting. Tanpa keterlibatan mereka, tradisi kebersamaan di banjar bisa berubah jadi sekadar cerita masa lalu. Karena itu, warga berharap partisipasi anak muda terus meningkat di kegiatan berikutnya.

Di sisi lain, jalan santai ini juga mengingatkan pentingnya gaya hidup sehat bukan hanya fisik, tapi juga hubungan sosial. Relasi yang renggang sering kali lebih berbahaya daripada tubuh yang kurang olahraga.

Lebih dari Sekadar Jalan Kaki

Warga berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti sebagai acara seremonial. Mereka ingin menjaga kebersamaan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya saat ada panitia dan konsumsi gratis.

Pada akhirnya, yang diuji bukan seberapa jauh warga berjalan bersama melainkan seberapa lama mereka bisa tetap saling mendekat, tanpa harus menunggu undangan.@eko

Tags: baliKutaLegian

Kamu Melewatkan Ini

NIK Bocor, OTP Jebol: Salah Hacker atau Negara Terlambat?

NIK Bocor, OTP Jebol: Salah Hacker atau Negara Terlambat?

by teguh
Mei 17, 2026

Pernah tiba-tiba dapat OTP padahal kamu tidak login apa-apa? Atau mendadak muncul SMS pinjaman yang tidak pernah kamu ajukan? Kalau...

NIK Kamu Sudah Dijual, Negara Baru Sibuk di Hilir

NIK Kamu Sudah Dijual, Negara Baru Sibuk di Hilir

by teguh
Mei 16, 2026

Bayangkan NIK Kamu sudah dijual seseorang? mereka memakai identitasmu untuk membuka akses digital, membeli nomor telepon, lalu melewati sistem keamanan...

Bali Tidak Kotor, Kita yang Menunda Masalah Sampai Jadi Gunung

Gunung Sampah di Bali: Surga Wisata yang Diam-Diam Tenggelam oleh Limbah?

by dimas
Mei 5, 2026

Sampah Bali kini tak lagi sekadar persoalan kebersihan kota, melainkan sinyal krisis pengelolaan destinasi wisata. Lonjakan volume limbah dari rumah...

Next Post
Dari Karaton ke Masjid Agung, Gunungan Garebeg Pasa Jadi Rebutan Ratusan Warga

Dari Karaton ke Masjid Agung, Gunungan Garebeg Pasa Jadi Rebutan Ratusan Warga

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id