Selasa, Juli 28, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Dari Karaton ke Masjid Agung, Gunungan Garebeg Pasa Jadi Rebutan Ratusan Warga

by dimas
Maret 22, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Regional – Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar kembali Hajad Dalem Garebeg Pasa Tahun Dal 1959 untuk memperingati Idulfitri 1447 Hijriah, Minggu (22/3/2026) siang. Tradisi tahunan ini berlangsung meriah dan menarik ribuan warga yang memadati kawasan keraton hingga Masjid Agung.

Pengageng Parentah Karaton Surakarta, KGPH Adipati Panembahan Dipokusumo, memimpin langsung prosesi sakral ini. Kirab mulai bergerak sekitar pukul 10.00 WIB saat abdi dalem mengeluarkan dua gunungan dari dalam keraton.

Dari Karaton ke Masjid Agung, Gunungan Garebeg Pasa Jadi Rebutan Ratusan Warga
Ratusan warga berebut isi gunungan di depan Kamandungan Karaton Surakarta usai prosesi Garebeg Pasa, Minggu (22/3/2026) siang.

Barisan prajurit dan sentana dalem mengawal perjalanan menuju Masjid Agung. Di sepanjang rute, warga berjejal dan terus memadati sisi jalan. Mereka menyaksikan kirab sekaligus menunggu kesempatan mendapatkan bagian gunungan yang mereka yakini membawa berkah.

Dari Khidmat ke Rebutan: Momen Puncak Garebeg

Sesampainya di halaman Masjid Agung, suasana berubah menjadi khidmat. KRT KH Muhtarom memimpin doa bersama sebagai Penghulu Tafsir Anom, menandai inti prosesi spiritual.

Namun, suasana itu segera bergeser. Begitu doa selesai, ratusan warga langsung menyerbu gunungan. Susunan hasil bumi yang sebelumnya rapi seketika berubah menjadi pusat rebutan. Dalam hitungan menit, warga menghabiskan isi gunungan, mulai dari hasil bumi hingga jajanan pasar.

Ini Belum Selesai

Nelayan Kecil Kehilangan Solar, Kapal Besar Dapat BBM Murah

Kekeringan Ekstrem di Gunungkidul, Warga Jual Ternak Demi Air

Bagi sebagian warga, momen ini bukan sekadar berebut. Mereka memaknainya sebagai ikhtiar untuk memperoleh berkah.

Filosofi Gunungan: Simbol Keseimbangan Hidup

Dua gunungan yang ikut dalam kirab menampilkan bentuk dan isi berbeda. Gunungan jaler memuat hasil bumi seperti kacang panjang, sedangkan gunungan estri menghadirkan rengginang dan makanan siap santap.

KGPH Adipati Panembahan Dipokusumo menyampaikan bahwa gunungan menyimpan filosofi mendalam tentang kehidupan. Ia menyebut tiga unsur utama, yakni pala kependem, pala kesampar, dan pala gumantung, yang menggambarkan perjalanan hidup manusia dari masa lalu, masa kini, hingga masa depan.

“Gunungan ini mencerminkan siklus kehidupan manusia yang harus dijaga keseimbangannya,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa gunungan jaler dan estri melambangkan harmoni. Filosofi Jawa memandang kehidupan sebagai pasangan yang saling melengkapi, seperti siang dan malam atau panas dan dingin.

Tradisi Spiritual Sekaligus Penggerak Ekonomi

Garebeg Pasa tidak hanya menjadi simbol rasa syukur setelah Ramadhan, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.

Ribuan pengunjung yang datang langsung meningkatkan aktivitas di kawasan keraton. Pedagang makanan, minuman, dan cendera mata melayani lonjakan pembeli sepanjang acara. Momentum ini membuka peluang bagi pelaku usaha kecil untuk meraih tambahan pendapatan.

Pedagang kaki lima dan pelaku ekonomi informal menjadi kelompok yang paling merasakan dampaknya. Mereka bergantung pada keramaian acara seperti ini untuk menjaga perputaran usaha.

Antara Keyakinan, Tradisi, dan Realitas Zaman

Setiap tahun, warga selalu menghabiskan gunungan dalam waktu singkat. Tidak semua orang berhasil membawa pulang bagian, tetapi hal itu tidak menyurutkan antusiasme mereka untuk kembali hadir.

Di tengah arus modernisasi, masyarakat tetap menjaga Garebeg Pasa sebagai ruang pertemuan antara tradisi, spiritualitas, dan dinamika sosial.

KGPH Adipati Panembahan Dipokusumo mengajak generasi muda untuk terus merawat warisan budaya agar tidak hilang ditelan zaman.

Pada akhirnya, tradisi ini tidak sekadar menghadirkan seremoni tahunan. Ia mengingatkan bahwa di balik perebutan berkah, manusia tetap membutuhkan keseimbangan hidup sesuatu yang sering terabaikan justru di tengah hiruk-pikuk zaman. @dimas

Tags: 1447 H2026BudayaIdul FitriJawalebaranLokalNusantaraPB XIVPesonaSurakarta

Kamu Melewatkan Ini

Road to Porprov: Battle of Surakarta Uji Mental Atlet Jateng

Road to Porprov: Battle of Surakarta Uji Mental Atlet Jateng

by dimas
Juli 25, 2026

Battle of Surakarta 2026 menguji mental atlet Muaythai Jawa Tengah menjelang Porprov. Kejurprov menjadi tolok ukur kesiapan bertanding, disiplin, dan...

Battle of Surakarta 2026: Mencetak Masa Depan Muaythai Jateng

Battle of Surakarta 2026: Mencetak Masa Depan Muaythai Jateng

by dimas
Juli 25, 2026

Battle of Surakarta 2026 menjadi ajang pembuktian pembinaan Muaythai Jawa Tengah. Kejurprov mengukur kesiapan atlet menuju Porprov, PON, hingga panggung...

Muaythai Jateng Perkuat Prestasi Lewat Penataran Pelatih dan Wasit Juri

Muaythai Jateng Perkuat Prestasi Lewat Penataran Pelatih dan Wasit Juri

by dimas
Juli 23, 2026

Muaythai Jateng memperkuat pembinaan atlet melalui penataran pelatih dan wasit juri sebagai langkah mencetak prestasi di level nasional hingga internasional....

Next Post
Gelar Griya di Istana, Prabowo Satukan Elite Politik dalam Suasana Lebaran

Gelar Griya di Istana, Prabowo Satukan Elite Politik dalam Suasana Lebaran

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id