Senin, Oktober 19, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Dari Takjil ke Toleransi, Balai Kota Solo Jadi Episentrum Ramadan

by eko
Februari 25, 2026
in Regional
A A
Home Reality Regional
Share on Facebook
Share on Twitter

Tabooo.id: Regional – Ramadan tahun ini tak hanya tentang azan magrib dan takjil. Di jantung kota, Surakarta menyalakan suasana lewat Ramadan Light Festival dan Kampung Ramadan di kawasan Balai Kota Solo. Pemerintah kota menyulap ruang publik menjadi panggung kreativitas sekaligus mesin penggerak ekonomi warga.

Puluhan pedagang membuka lapak di halaman Balai Kota. Mereka berjualan di bawah tenda-tenda rapi, menawarkan kuliner yang akrab di lidah dari mi ayam bangka, dimsum mentai, tahu gejrot telur gulung, siomai, cireng, hingga zuppa soup, batagor, tempe mendoan, bakso tusuk, dan bakso goreng. Pilihannya sederhana, tetapi denyut ekonominya nyata.

Lampion Imlek dan Ramadan, Simbol Toleransi Kota

Pengunjung tak sekadar membeli untuk dibawa pulang. Meja-meja makan tersedia. Pendopo dan halaman Balai Kota juga terbuka untuk siapa saja yang ingin menikmati santapan di tempat. Sementara itu, instalasi lampion bertema Imlek dan Ramadan menggantung di atas kepala, memantulkan cahaya hangat yang membuat suasana terasa lebih hidup dan, tentu saja, Instagramable.

Wakil Wali Kota Solo, Astrid Widayani, menyebut festival ini sebagai kelanjutan dari rangkaian perayaan sebelumnya. Menurutnya, ornamen tematik dipasang sejak Imlek lalu disambungkan ke Ramadan. Pemerintah Kota Surakarta, kata dia, ingin menjaga semarak kota sekaligus menegaskan pesan toleransi.

“Kami menggabungkan kreativitas yang sudah berjalan, mulai dari perayaan Imlek kemudian nyambung ke Ramadan. Banyak ornamen dipasang di sepanjang kawasan Balai Kota Solo dan Pasar Gede, serta banyak UMKM yang kami berikan ruang untuk berjualan,” ujar Astrid.

Ini Belum Selesai

Bus Hantam Truk Pecah Ban di Tol Ngawi-Solo, Tiga Nyawa Melayang

Empat Suporter PSS Sleman Tewas dalam Kecelakaan di Tol Madiun

Pesan toleransi itu bukan sekadar slogan. Lampion merah khas Imlek berdampingan dengan dekorasi Ramadan. Simbol-simbol budaya saling menyapa, tanpa saling meniadakan. Di tengah polarisasi yang sering riuh di media sosial, pemandangan ini terasa seperti pengingat sunyi: kota bisa merayakan perbedaan tanpa kehilangan identitas.

UMKM Dapat Panggung, Ekonomi Berputar

Namun, di balik cahaya lampu dan unggahan media sosial, ada soal yang lebih mendasar: perputaran uang. Ramadan selalu menjadi momentum ekonomi. Konsumsi naik, kebutuhan bertambah, dan ruang-ruang publik berubah menjadi pasar musiman. Bagi UMKM, inilah waktu emas.

Daniel, pedagang di tenant Teh Tarik Brims, mengaku penjualan hari itu menjadi yang terbaik selama ia berjualan di lokasi tersebut. “Hari ini pengunjung dan penjualan lebih baik daripada beberapa hari selama jualan di sini. Kendalanya hujan, kemungkinan membuat pengunjung sepi,” katanya kepada Tabooo.id, Rabu (25/2/26).

Ia membuka lapak sejak pukul 15.00 hingga malam. Momentum Ramadan dan mendekati Lebaran ia manfaatkan untuk memperluas pasar. Strateginya sederhana: hadir di pusat keramaian, memanfaatkan arus pengunjung yang datang berburu takjil dan suasana.

Siapa Paling Terdampak?

Pertama, tentu para pelaku UMKM. Mereka mendapat ruang jualan tanpa harus menyewa tempat mahal di pusat perbelanjaan. Kedua, pekerja informal karyawan tenant, penjaga parkir, hingga pemasok bahan baku ikut merasakan efek domino. Ketiga, warga kota, terutama anak muda dan keluarga, yang memperoleh alternatif ruang rekreasi murah meriah di tengah naiknya biaya hidup.

Di sisi lain, ada tantangan yang tak bisa diabaikan. Cuaca menjadi faktor penentu. Hujan bisa membuyarkan rencana, mengurangi jumlah pengunjung, dan otomatis memangkas omzet. Selain itu, pengelolaan kebersihan dan ketertiban harus dijaga agar ruang publik tetap nyaman.

Lebih dari Sekadar Festival Musiman

Ramadan Light Festival dan Kampung Ramadan di Balai Kota Solo menjadi cermin bagaimana perayaan keagamaan bisa bersanding dengan pemberdayaan ekonomi. Ia bukan sekadar panggung hiasan, melainkan ruang pertemuan antara budaya, bisnis, dan kebersamaan.

Lampu-lampu itu mungkin akan padam setelah Ramadan usai. Namun pertanyaannya sederhana: apakah semangat memberi ruang bagi UMKM dan merawat toleransi juga akan tetap menyala, atau hanya ikut redup bersama dekorasi musiman? @eko

Tags: KulinerRamadanSolo

Kamu Melewatkan Ini

Museum ke Hotel: Budaya Solo atau Pajangan Wisata?

Museum ke Hotel: Budaya Solo atau Pajangan Wisata?

by teguh
Oktober 13, 2026

Museum tak harus menunggu pengunjung datang. Kali ini, koleksi sejarah dan budaya Solo yang biasanya tersimpan di gedung museum justru...

Patriot Bengawan Bidik Posisi Kedua PORPROV Jateng

Patriot Bengawan Bidik Posisi Kedua PORPROV Jateng

by eko
Oktober 8, 2026

Patriot Bengawan siap berlaga di PORPROV Jateng 2026. Kontingen Surakarta membidik posisi kedua dengan target 95 medali emas. Tabooo.id: Surakarta...

Api Padam, Panas Belum Pergi: Apa yang Sebenarnya Terjadi di TPA Putri Cempo?

Api Padam, Panas Belum Pergi: Apa yang Sebenarnya Terjadi di TPA Putri Cempo?

by teguh
September 25, 2026

Api kembali muncul di TPA Putri Cempo, Solo, Kamis 24/9/2026. Petugas sebelumnya terus membasahi titik panas setelah kebakaran besar melanda...

Next Post
Tameng Hidup Sea Dragon: Hukuman Mati untuk Anak Buah

Tameng Hidup Sea Dragon: Hukuman Mati untuk Anak Buah

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id