Di banyak wilayah, adat masih berdiri sebagai penjaga kehormatan sosial. Namun di balik itu, muncul pertanyaan yang terus mengganggu: mengapa masyarakat sering membungkam korban demi menjaga nama baik?
Tabooo.id: Deep – Dari Pariaman, Sumatera Barat, Fatmiyeti Kahar atau Teta Sabar membangun jalan perlawanan yang tidak banyak orang pilih. Ia mendampingi korban kekerasan seksual sejak akhir 1980-an, bahkan ketika masyarakat menolak, menghakimi, dan menuduhnya merusak nama baik nagari.
Selain itu, kisahnya memperlihatkan satu pola yang terus berulang korban kehilangan suara, sementara stigma justru menguat.
Awal Perjalanan: Kepulangan yang Mengubah Arah Hidup
Tahun 1989 menjadi titik balik penting bagi Teta. Saat itu, ia kembali ke Pariaman di usia 24 tahun. Namun kepulangan itu tidak membawa ketenangan.
Sebelumnya, ia mendengar kasus seorang perempuan korban kekerasan seksual yang justru warga usir dari kampung. Tokoh adat dan masyarakat mengambil keputusan itu dengan alasan menjaga kehormatan nagari.
Lalu, sebuah percakapan sederhana mengubah hidupnya.
“Kita kawal kasus ini, berani?”
Pertanyaan dari sang kakak itu tidak panjang, tetapi cukup kuat untuk mendorong Teta masuk ke ruang yang penuh risiko sosial.
Berdiri di Tengah Penolakan Sosial
Setahun setelahnya, tepat pada 1990, Teta membangun lembaga perlindungan korban bersama tim kecil. Mereka bekerja tanpa dukungan besar, tanpa sistem, dan tanpa jaminan keamanan sosial.
Namun, masyarakat tidak langsung menerima langkah itu.
“Kami dianggap tidak punya kerjaan,” ujar Teta.
Di sisi lain, mereka justru menghadapi kasus-kasus yang rumit. Banyak kasus terjadi di dalam lingkup keluarga, sehingga korban memilih diam karena takut tekanan sosial.
Kemudian, situasi semakin sulit ketika sebagian pihak menilai mereka telah membuka aib nagari. Tekanan itu tidak hanya datang dari warga, tetapi juga merambah ke ruang politik lokal.
Ketika Adat Berhadapan dengan Keadilan
Di wilayah yang sangat kuat memegang adat, masyarakat sering menempatkan kehormatan komunitas di atas pengalaman korban.
Karena itu, Teta tidak menolak adat. Sebaliknya, ia menantang cara adat digunakan dalam merespons kekerasan seksual.
Namun demikian, ia menemukan pola yang konsisten: korban sering kali dipersalahkan, sementara pelaku tetap berada dalam lingkar perlindungan sosial.
Akibatnya, banyak korban memilih diam.
Dilema Besar: Saat Konflik Menyentuh Lingkar Keluarga
Tahun 1995 menjadi fase paling berat dalam perjalanan Teta. Sebuah kasus kekerasan seksual terjadi di sekitar lingkungan keluarganya sendiri, saat suaminya menjabat sebagai kepala desa.
Tekanan sosial meningkat tajam. Selain itu, konflik moral dan posisi keluarga membuat situasi semakin rumit.
Akhirnya, Teta memutuskan mundur sementara.
Keputusan itu membawa konsekuensi besar. Ia keluar dari lembaga yang ia bantu dirikan. Selama dua tahun berikutnya, ia beralih ke kehidupan rumah tangga dan menjalankan usaha kecil seperti produksi tape kering.
Namun demikian, pengalaman itu tidak memutus komitmennya.
Kembali ke Jalan yang Sama
Pada 1998, Teta kembali ke dunia advokasi. Kali ini, ia membawa pengalaman, luka, dan perspektif yang lebih matang.
Kemudian, pada 2003, lahir Undang-Undang Perlindungan Anak. Regulasi ini memperkuat posisi lembaga-lembaga pendamping korban yang sebelumnya berjalan di luar sistem formal.
Seiring waktu, persepsi masyarakat mulai berubah. Jika sebelumnya mereka dicap sebagai pengganggu, perlahan mereka mulai diakui sebagai bagian dari sistem perlindungan sosial.
Dari Bencana Lahir Ruang Aman
Gempa besar Sumatera Barat pada 2009 membuka babak baru. Di tengah pengungsian, Teta melihat satu pola berulang: perempuan dan anak menjadi kelompok paling rentan dalam kondisi darurat.
Oleh karena itu, ia menggagas konsep “Rumah Tumbuh”. Ruang sederhana berbahan kayu dan triplek itu ia rancang sebagai tempat aman sementara bagi korban.
Inisiatif tersebut kemudian mendapat perhatian lembaga nasional dan internasional. Bahkan, pendekatan ini menjadi salah satu rujukan dalam perlindungan pascabencana.
Dampak Nyata di Lapangan
Salah satu kisah dampingan Teta menunjukkan perubahan yang signifikan.
Seorang anak dari Padang Pariaman yang sebelumnya mengalami tekanan sosial berat akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan hingga SMA. Setelah itu, ia mulai menata hidup dan bersiap masuk dunia kerja.
Walaupun tidak selalu terlihat besar, perubahan seperti ini memberikan dampak langsung pada kehidupan seseorang.
Pola yang Terulang, Bukan Kasus Tunggal
Kisah Teta Sabar tidak berhenti sebagai cerita individu.
Sebaliknya, ia menunjukkan pola sosial yang lebih luas masyarakat masih menempatkan reputasi di atas keadilan. Selain itu, korban sering kehilangan ruang untuk bersuara karena tekanan lingkungan.
Dengan kata lain, kasus di Pariaman bukan pengecualian. Ini bagian dari sistem yang lebih besar.
Ini Bisa Terjadi di Sekitar Kita
Mungkin kisah ini terlihat jauh dari kehidupan sehari-hari.
Namun jika diperhatikan lebih dalam, pola yang sama bisa muncul di banyak tempat.
Ketika korban tidak dipercaya, ketika pelaku memiliki status sosial kuat, dan ketika nama baik lebih penting dari kebenaran, maka sistem perlindungan kehilangan fungsinya.
Karena itu, isu ini tidak bisa dianggap sebagai cerita lokal semata.
Perlawanan yang Tidak Pernah Sepi
Kini, Teta Sabar masih terus bergerak. Ia tidak hanya mendampingi korban, tetapi juga menyiapkan generasi baru untuk melanjutkan perjuangan.
Ia memahami satu hal penting kekerasan seksual mungkin tidak akan hilang sepenuhnya dalam waktu dekat. Namun, cara masyarakat meresponsnya bisa berubah.
Pada akhirnya, dari Pariaman, satu suara kecil pernah menembus sunyi panjang.
Dan sampai hari ini, suara itu masih terus bergerakperlahan, tetapi konsisten. @dimas





