Rabu, Oktober 21, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Bukan Kartini dari Jepara, Ini Kartini dari Pariaman yang Melawan Stigma Kekerasan Seksual

by dimas
April 21, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Di banyak wilayah, adat masih berdiri sebagai penjaga kehormatan sosial. Namun di balik itu, muncul pertanyaan yang terus mengganggu: mengapa masyarakat sering membungkam korban demi menjaga nama baik?

Tabooo.id: Deep – Dari Pariaman, Sumatera Barat, Fatmiyeti Kahar atau Teta Sabar membangun jalan perlawanan yang tidak banyak orang pilih. Ia mendampingi korban kekerasan seksual sejak akhir 1980-an, bahkan ketika masyarakat menolak, menghakimi, dan menuduhnya merusak nama baik nagari.

Selain itu, kisahnya memperlihatkan satu pola yang terus berulang korban kehilangan suara, sementara stigma justru menguat.

Awal Perjalanan: Kepulangan yang Mengubah Arah Hidup

Tahun 1989 menjadi titik balik penting bagi Teta. Saat itu, ia kembali ke Pariaman di usia 24 tahun. Namun kepulangan itu tidak membawa ketenangan.

Sebelumnya, ia mendengar kasus seorang perempuan korban kekerasan seksual yang justru warga usir dari kampung. Tokoh adat dan masyarakat mengambil keputusan itu dengan alasan menjaga kehormatan nagari.

Lalu, sebuah percakapan sederhana mengubah hidupnya.

Ini Belum Selesai

Starbucks Global Pangkas Gerai, Lalu Indonesia?

Membaca Pengamanan Demo Dua Tahun Prabowo–Gibran: Jalan Dijaga, Suara Diawasi?

“Kita kawal kasus ini, berani?”

Pertanyaan dari sang kakak itu tidak panjang, tetapi cukup kuat untuk mendorong Teta masuk ke ruang yang penuh risiko sosial.

Berdiri di Tengah Penolakan Sosial

Setahun setelahnya, tepat pada 1990, Teta membangun lembaga perlindungan korban bersama tim kecil. Mereka bekerja tanpa dukungan besar, tanpa sistem, dan tanpa jaminan keamanan sosial.

Namun, masyarakat tidak langsung menerima langkah itu.

“Kami dianggap tidak punya kerjaan,” ujar Teta.

Di sisi lain, mereka justru menghadapi kasus-kasus yang rumit. Banyak kasus terjadi di dalam lingkup keluarga, sehingga korban memilih diam karena takut tekanan sosial.

Kemudian, situasi semakin sulit ketika sebagian pihak menilai mereka telah membuka aib nagari. Tekanan itu tidak hanya datang dari warga, tetapi juga merambah ke ruang politik lokal.

Ketika Adat Berhadapan dengan Keadilan

Di wilayah yang sangat kuat memegang adat, masyarakat sering menempatkan kehormatan komunitas di atas pengalaman korban.

Karena itu, Teta tidak menolak adat. Sebaliknya, ia menantang cara adat digunakan dalam merespons kekerasan seksual.

Namun demikian, ia menemukan pola yang konsisten: korban sering kali dipersalahkan, sementara pelaku tetap berada dalam lingkar perlindungan sosial.

Akibatnya, banyak korban memilih diam.

Dilema Besar: Saat Konflik Menyentuh Lingkar Keluarga

Tahun 1995 menjadi fase paling berat dalam perjalanan Teta. Sebuah kasus kekerasan seksual terjadi di sekitar lingkungan keluarganya sendiri, saat suaminya menjabat sebagai kepala desa.

Tekanan sosial meningkat tajam. Selain itu, konflik moral dan posisi keluarga membuat situasi semakin rumit.

Akhirnya, Teta memutuskan mundur sementara.

Keputusan itu membawa konsekuensi besar. Ia keluar dari lembaga yang ia bantu dirikan. Selama dua tahun berikutnya, ia beralih ke kehidupan rumah tangga dan menjalankan usaha kecil seperti produksi tape kering.

Namun demikian, pengalaman itu tidak memutus komitmennya.

Kembali ke Jalan yang Sama

Pada 1998, Teta kembali ke dunia advokasi. Kali ini, ia membawa pengalaman, luka, dan perspektif yang lebih matang.

Kemudian, pada 2003, lahir Undang-Undang Perlindungan Anak. Regulasi ini memperkuat posisi lembaga-lembaga pendamping korban yang sebelumnya berjalan di luar sistem formal.

Seiring waktu, persepsi masyarakat mulai berubah. Jika sebelumnya mereka dicap sebagai pengganggu, perlahan mereka mulai diakui sebagai bagian dari sistem perlindungan sosial.

Dari Bencana Lahir Ruang Aman

Gempa besar Sumatera Barat pada 2009 membuka babak baru. Di tengah pengungsian, Teta melihat satu pola berulang: perempuan dan anak menjadi kelompok paling rentan dalam kondisi darurat.

Oleh karena itu, ia menggagas konsep “Rumah Tumbuh”. Ruang sederhana berbahan kayu dan triplek itu ia rancang sebagai tempat aman sementara bagi korban.

Inisiatif tersebut kemudian mendapat perhatian lembaga nasional dan internasional. Bahkan, pendekatan ini menjadi salah satu rujukan dalam perlindungan pascabencana.

Dampak Nyata di Lapangan

Salah satu kisah dampingan Teta menunjukkan perubahan yang signifikan.

Seorang anak dari Padang Pariaman yang sebelumnya mengalami tekanan sosial berat akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan hingga SMA. Setelah itu, ia mulai menata hidup dan bersiap masuk dunia kerja.

Walaupun tidak selalu terlihat besar, perubahan seperti ini memberikan dampak langsung pada kehidupan seseorang.

Pola yang Terulang, Bukan Kasus Tunggal

Kisah Teta Sabar tidak berhenti sebagai cerita individu.

Sebaliknya, ia menunjukkan pola sosial yang lebih luas masyarakat masih menempatkan reputasi di atas keadilan. Selain itu, korban sering kehilangan ruang untuk bersuara karena tekanan lingkungan.

Dengan kata lain, kasus di Pariaman bukan pengecualian. Ini bagian dari sistem yang lebih besar.

Ini Bisa Terjadi di Sekitar Kita

Mungkin kisah ini terlihat jauh dari kehidupan sehari-hari.

Namun jika diperhatikan lebih dalam, pola yang sama bisa muncul di banyak tempat.

Ketika korban tidak dipercaya, ketika pelaku memiliki status sosial kuat, dan ketika nama baik lebih penting dari kebenaran, maka sistem perlindungan kehilangan fungsinya.

Karena itu, isu ini tidak bisa dianggap sebagai cerita lokal semata.

Perlawanan yang Tidak Pernah Sepi

Kini, Teta Sabar masih terus bergerak. Ia tidak hanya mendampingi korban, tetapi juga menyiapkan generasi baru untuk melanjutkan perjuangan.

Ia memahami satu hal penting kekerasan seksual mungkin tidak akan hilang sepenuhnya dalam waktu dekat. Namun, cara masyarakat meresponsnya bisa berubah.

Pada akhirnya, dari Pariaman, satu suara kecil pernah menembus sunyi panjang.

Dan sampai hari ini, suara itu masih terus bergerakperlahan, tetapi konsisten. @dimas

Tags: emansipasi perempuanHari KartiniKeadilan GenderKekerasan SeksualSumatera Barat

Kamu Melewatkan Ini

Banjir Bandang Padang, 55 Rumah Rusak dan 40 KK Mengungsi

Banjir Bandang Padang, 55 Rumah Rusak dan 40 KK Mengungsi

by dimas
Oktober 12, 2026

Banjir bandang menerjang Padang dan merusak 55 rumah serta memutus akses jalan di Kuranji. Sebanyak 40 KK mengungsi, sementara warga...

Dugaan Kekerasan Seksual, Guru Pesantren Bekasi Jadi Tersangka

Dugaan Kekerasan Seksual, Guru Pesantren Bekasi Jadi Tersangka

by dimas
Oktober 9, 2026

Guru pesantren di Bekasi menjadi tersangka dugaan kekerasan seksual. Lebih dari 10 orang diduga menjadi korban, sementara penyidik mendalami kemungkinan...

Bechi Bebas Bersyarat: Ketika Hak Narapidana Bertemu Hak Korban

Bechi Bebas Bersyarat: Ketika Hak Narapidana Bertemu Hak Korban

by teguh
September 28, 2026

Ada pintu yang terbuka karena masa pidana mendekati batas hukum dan Bechi bebas bersyarat. Namun, bagi korban kekerasan seksual, pintu...

Next Post
Rp 28 Miliar Uang Jemaat Dikembalikan: Skandal CU Aek Nabara Masuk Babak Akhir

Rp 28 Miliar Uang Jemaat Dikembalikan: Skandal CU Aek Nabara Masuk Babak Akhir

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id