Di balik citra “kuat” yang dilekatkan budaya pada laki-laki, tersimpan realitas yang jarang mendapat ruang: banyak laki-laki mengalami kekerasan seksual. Stigma sosial membuat mereka memilih diam, meski luka terus menghantui dalam senyap. Masyarakat masih percaya bahwa laki-laki tidak mungkin menjadi korban. Keyakinan ini menjebak para penyintas dalam rasa malu, takut tidak dipercaya, dan tekanan untuk selalu tampak tangguh. Trauma itu bertahan di ruang-ruang sunyi tidak terlihat, tidak diakui, tetapi nyata.
Tabooo.id: Talk – Data dan laporan internasional terbaru menunjukkan jutaan laki-laki di berbagai negara mengalami kekerasan seksual, baik di ruang publik, tempat kerja, maupun ranah digital. Pemerintah Inggris sudah memasukkan laki-laki dan anak laki-laki sebagai korban dalam kebijakan resmi penanganan kekerasan seksual. Namun, langkah ini masih menghadapi hambatan besar berupa stigma maskulinitas. Banyak korban tidak melapor karena mereka takut dianggap lemah atau tidak sesuai standar “laki-laki ideal”.
Jika masyarakat selalu menempatkan laki-laki sebagai sosok kuat, mengapa sebagian dari mereka justru runtuh dalam diam? Di balik angka jutaan korban itu, terdapat kelompok yang sejak awal tidak pernah memperoleh pengakuan sosial sebagai korban.
Opini Utama
Selama ini, narasi kekerasan seksual sering menyorot perempuan sebagai pusat perhatian. Narasi itu penting, tetapi tidak menggambarkan seluruh kenyataan.
Data terbaru mengubah cara pandang tersebut. Laki-laki juga mengalami kekerasan seksual dalam jumlah besar, tetapi ruang sosial untuk membicarakannya masih sangat terbatas.
Survei di Inggris mencatat sekitar 2 juta laki-laki pernah mengalami kekerasan seksual. Fakta ini menegaskan bahwa persoalan ini bukan kasus individual, melainkan fenomena sosial yang luas.
Masalah tidak berhenti pada angka. Akar persoalan muncul dari cara masyarakat membentuk definisi tentang laki-laki sejak awal.
Sejak kecil, banyak anak laki-laki menerima pesan tak tertulis: “Boys don’t cry.” Mereka tumbuh dengan tuntutan untuk selalu kuat, menahan emosi, dan tidak boleh terlihat sebagai korban.
Ketika pengalaman hidup justru menempatkan mereka sebagai korban, banyak dari mereka kehilangan ruang bahasa untuk mengakui kenyataan itu.
Stigma yang Lebih Tajam dari Kekerasan
Pemerintah Inggris mengakui laki-laki sebagai korban dalam kebijakan terbaru penanganan kekerasan seksual. Kebijakan ini membuka ruang hukum yang lebih inklusif, tetapi masyarakat belum sepenuhnya mengubah cara merespons korban.
American Bar Association (ABA) mencatat banyak korban laki-laki ragu untuk melapor. Mereka tidak ditolak karena bukti kurang, tetapi karena pengalaman mereka tidak sesuai dengan ekspektasi masyarakat tentang siapa yang layak disebut korban.
Hambatan itu tidak hanya datang dari pelaku kekerasan. Struktur sosial ikut membungkam suara korban laki-laki.
Maskulinitas dan Tekanan Identitas
Psikolog Denis Goncalves Ferreira menjelaskan bahwa masyarakat lama membentuk laki-laki sebagai pelindung, bukan pihak yang perlu dilindungi.
Ketika kekerasan terjadi, dampaknya tidak berhenti pada trauma fisik atau psikologis. Identitas diri ikut terguncang.
Banyak korban tidak hanya bertanya “apa yang terjadi”, tetapi juga “apa yang salah dengan diri saya sebagai laki-laki”.
Luka ini tidak berdiri sendiri. Luka itu menumpuk dan saling menguatkan.
Kekerasan yang Tidak Selalu Terlihat
Kekerasan seksual terhadap laki-laki tidak selalu muncul dalam bentuk yang mudah dikenali.
Di Jepang, sekitar satu dari enam laki-laki pengguna transportasi umum mengalami pelecehan di kereta. Di Australia, 26% laki-laki mengaku mengalami pelecehan di tempat kerja dalam lima tahun terakhir.
Namun, sebagian besar kasus itu tidak pernah masuk laporan resmi.
Diam tidak menghapus kejadian. Diam justru membuat luka menetap dalam kehidupan sehari-hari.
Kekerasan juga berkembang di ruang digital. Inggris mencatat peningkatan kasus eksploitasi seksual online terhadap anak laki-laki.
Ruang digital yang tampak aman justru memperkuat pola yang sama: korban tidak terlihat, pelaku sulit teridentifikasi, dan trauma berkembang tanpa pengakuan sosial yang memadai.
Mengapa Ini Terus Berulang
Masalah ini terus berulang karena masyarakat belum mengubah cara memandang korban laki-laki secara utuh.
Sebagian orang masih menolak gagasan bahwa laki-laki bisa menjadi korban. Sebagian lainnya tetap mempertahankan citra maskulinitas yang membuat pengalaman korban dianggap tidak sesuai dengan “standar laki-laki”.
Akibatnya, banyak korban berhenti berbicara bahkan sebelum sistem formal mendengar mereka.
Human Impact
Yang hilang bukan sekadar data atau laporan kasus. Yang hilang adalah ruang aman untuk mengakui luka.
Setiap laki-laki yang memilih diam karena takut tidak dipercaya menunjukkan satu hal: masyarakat belum memahami kekerasan secara menyeluruh.
Analisis Tabooo
Isu ini menunjukkan bahwa empati sosial masih bekerja secara tidak merata.
Perempuan masih sering menghadapi keraguan saat melapor. Laki-laki bahkan lebih sering tidak diakui sebagai korban sejak awal.
Kedua kondisi itu menciptakan ruang yang sama: korban yang tidak benar-benar terdengar.
Di ruang sunyi inilah, luka sosial paling dalam terus bertahan.
Penutup
Jika kalimat “Boys don’t cry” masih dianggap wajar, maka masyarakat masih mempertahankan cara pandang yang tidak utuh terhadap realitas.
Pertanyaan akhirnya tetap tidak bisa dihindari ketika korban harus sesuai ekspektasi agar dipercaya, sebenarnya kita sedang melindungi siapa manusia yang terluka, atau citra tentang manusia yang ingin kita pertahankan? @dimas





