Kamis, Oktober 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Hijrah Bangsa: Ketika Kritik Menuntun Keadilan

by dimas
Juni 15, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on Facebook
Share on Twitter
Momentum Tahun Baru Islam menguji keberanian pemerintah mendengar kritik rakyat. Hijrah bangsa tak cukup dengan janji, tetapi harus menghadirkan keadilan yang nyata.

Tabooo.id – Setiap Tahun Baru Islam, masyarakat kembali mendengar satu kata yang terasa akrab: hijrah. Banyak orang memaknai hijrah sebagai perpindahan dari keadaan yang kurang baik menuju kehidupan yang lebih baik. Namun, makna hijrah jauh melampaui perjalanan spiritual pribadi. Hijrah menuntut keberanian untuk mengoreksi diri, mengakui kekurangan, lalu mengambil langkah perubahan.

Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya siapa yang perlu berhijrah sebagai individu. Pertanyaan yang lebih besar justru mengarah kepada bangsa ini: apakah kita berani berubah?

Aksi demonstrasi mahasiswa dan masyarakat sipil pada 12 Juni 2026 membawa pertanyaan itu ke ruang publik. Ribuan orang turun ke jalan untuk menyampaikan kegelisahan mereka. Massa aksi menyoroti tekanan ekonomi, kenaikan biaya hidup, penggunaan anggaran negara, harga kebutuhan pokok, hingga sejumlah program pemerintah yang mereka nilai perlu evaluasi.

Sebagian orang mungkin melihat demonstrasi sebagai bentuk perlawanan. Namun, demokrasi justru membutuhkan ruang seperti itu. Kehadiran demonstran menunjukkan bahwa masyarakat masih peduli terhadap arah perjalanan bangsa.

Kritik Menjaga Demokrasi Tetap Hidup

Banyak negara menghadapi masalah ketika penguasa menganggap kritik sebagai gangguan. Padahal, demokrasi membutuhkan kritik sebagaimana manusia membutuhkan cermin. Tanpa cermin, seseorang sulit melihat bagian mana yang perlu diperbaiki.

Ini Belum Selesai

Dua Tahun Prabowo-Gibran: Ekonomi Tumbuh, Kesejahteraan Masih Tertinggal

Langit Oranye, Napas Terancam: Kabut Asap Uji Tanggung Jawab Negara

Mahasiswa yang turun ke jalan tidak sedang melawan negara. Mereka berusaha mengingatkan negara agar tetap berpihak kepada rakyat. Lewat demonstrasi, mereka menggunakan hak konstitusional sekaligus mengawasi jalannya pemerintahan.

Karena itu, pemerintah sebaiknya tidak memandang kritik sebagai ancaman. Pemerintah justru bisa memanfaatkan kritik sebagai bahan evaluasi. Langkah itu akan memperkuat kepercayaan publik sekaligus memperbaiki kualitas kebijakan.

Selain itu, dialog yang terbuka mampu mempererat hubungan antara negara dan masyarakat. Ketika pemerintah mendengar, rakyat merasa dihargai. Sebaliknya, pengabaian terhadap suara publik hanya memperlebar jarak antara kekuasaan dan warga negara.

Tekanan Ekonomi yang Tidak Bisa Diabaikan

Di balik berbagai tuntutan demonstrasi, terdapat persoalan yang jauh lebih mendasar. Banyak keluarga menghadapi tekanan ekonomi setiap hari. Harga kebutuhan pokok terus menyita perhatian. Pada saat yang sama, biaya hidup meningkat sementara kesempatan kerja belum tumbuh sesuai harapan.

Kondisi tersebut mendorong masyarakat mengajukan pertanyaan yang terus berulang. Sudahkah kebijakan pemerintah menyentuh kebutuhan paling mendesak? Sudahkah pembangunan menjawab persoalan yang masyarakat hadapi setiap hari?

Pertanyaan itu lahir dari harapan, bukan kebencian. Publik ingin melihat pemerintah menghadirkan solusi yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itulah masyarakat mengkritisi penggunaan APBN, Program Makan Bergizi Gratis, maupun pembangunan Koperasi Desa Merah Putih. Mereka ingin memastikan setiap rupiah anggaran negara memberi manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat.

Di sisi lain, masyarakat juga menginginkan transparansi yang lebih kuat. Mereka ingin memahami alasan di balik setiap kebijakan. Mereka ingin mengetahui arah prioritas pembangunan. Dengan cara itu, pemerintah dapat membangun kepercayaan melalui keterbukaan, bukan sekadar melalui pencitraan.

Teladan Kepemimpinan yang Mau Mendengar

Momentum Tahun Baru Islam mengingatkan publik pada cara Nabi Muhammad SAW memimpin masyarakat. Dalam banyak kesempatan, beliau membuka ruang musyawarah dan mendengarkan berbagai pandangan.

Ketika menghadapi persoalan sosial maupun pemerintahan, Nabi mengajak para sahabat berdiskusi sebelum mengambil keputusan. Bahkan dalam beberapa peristiwa penting, beliau menerima pandangan mayoritas meskipun berbeda dari pendapat awalnya.

Sikap tersebut menunjukkan satu hal penting. Seorang pemimpin tidak kehilangan wibawa ketika mendengar kritik. Justru kemampuan mendengar memperkuat legitimasi dan kepercayaan masyarakat.

Sayangnya, politik modern sering bergerak ke arah yang berbeda. Banyak elite lebih sibuk menjaga citra daripada memahami kegelisahan publik. Akibatnya, sebagian pihak memandang kritik sebagai pengganggu stabilitas. Padahal, kritik yang lahir secara damai sering membantu pemerintah menemukan persoalan yang luput dari perhatian.

Hijrah Politik yang Sesungguhnya

Tahun Baru Islam tidak seharusnya berhenti pada seremoni dan ucapan selamat. Momentum ini bisa menjadi kesempatan untuk memulai hijrah politik yang lebih bermakna.

Pemimpin dapat memulai hijrah politik dengan mengevaluasi kebijakan yang kurang efektif. Pemerintah juga dapat memperkuat transparansi, membuka ruang dialog, dan menempatkan kepentingan rakyat sebagai prioritas utama.

Lebih jauh lagi, para pemegang kekuasaan perlu menunjukkan komitmen nyata dalam memberantas korupsi, menegakkan hukum secara adil, dan mengelola anggaran negara secara bertanggung jawab. Masyarakat tidak membutuhkan janji tambahan. Mereka membutuhkan bukti yang dapat mereka rasakan.

Keberhasilan pemerintahan juga tidak hanya bergantung pada jumlah proyek atau angka pertumbuhan ekonomi. Ukuran yang lebih penting terletak pada kualitas hidup rakyat.

Apakah kehidupan masyarakat membaik?

Apakah rakyat merasa suaranya memiliki arti?

dan apakah keadilan hadir dalam keseharian mereka?

Dari Janji Menuju Keadilan

Demonstrasi mahasiswa pada 12 Juni 2026 bukan sekadar peristiwa jalanan. Aksi tersebut membawa pesan yang lebih dalam. Masyarakat ingin ikut menentukan arah perjalanan bangsa. Mereka juga ingin terlibat dalam proses pengambilan keputusan yang memengaruhi kehidupan mereka.

Karena itu, pemerintah memiliki kesempatan untuk menunjukkan makna hijrah yang sesungguhnya. Kesempatan tersebut bukan tentang mengganti slogan atau program semata. Pemerintah perlu berpindah dari budaya defensif menuju budaya mendengar.

Pelajaran paling penting dari Tahun Baru Islam terletak pada keberanian melakukan koreksi. Selain itu, perubahan hanya akan menghasilkan keadilan ketika pemimpin mau mendengar suara rakyatnya.

Bangsa ini tidak membutuhkan lebih banyak slogan. Bangsa ini membutuhkan lebih banyak keberanian untuk mendengar.

Sejarah berkali-kali membuktikan satu hal negara yang besar bukan negara yang bebas kritik, melainkan negara yang mampu tumbuh karena kritik. @dimas

Tags: Aspirasi RakyatDemonstrasi MahasiswaHijrah BangsaKeadilan SosialTahun Baru Islam

Kamu Melewatkan Ini

Kericuhan Demo Prabowo-Gibran, Malioboro Jadi Arena Kejaran

Kericuhan Demo di DPRD DIY, Massa Berlarian hingga Malioboro

by dimas
Oktober 21, 2026

Kericuhan mewarnai demo dua tahun Prabowo-Gibran di Yogyakarta. Massa berlarian hingga Malioboro saat aparat mengejar demonstran. Tabooo.id - Suara dentuman...

Aliansi BEM Solo Raya Kritik Prioritas MBG, Aksi Demo Memanas saat Ban Dibakar

Aliansi BEM Solo Raya Kritik Prioritas MBG, Aksi Demo Memanas saat Ban Dibakar

by teguh
Oktober 21, 2026

Selasa (20/10/2026), Aliansi BEM Solo Raya mengevaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo–Gibran di Monumen Solo. Mahasiswa mengkritik prioritas MBG, menyoroti pendidikan...

Dari Orasi ke Api: Demo Mahasiswa di DPR Memanas

Dari Orasi ke Api: Demo Mahasiswa di DPR Memanas

by dimas
Agustus 27, 2026

Demo mahasiswa di depan Gedung DPR/MPR memanas. Massa merusak pagar gerbang utama dan membakar ban, sementara tuntutan terus menggema di...

Next Post
Asal Mula Bersih Desa, Tradisi yang Hidup di Jawa

Asal Mula Bersih Desa, Tradisi yang Hidup di Jawa

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id