Senin, November 2, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Bupati Kaya, Rakyat Sengsara: Pola Lama yang Tak Pernah Mati

by Naysa
April 27, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on Facebook
Share on Twitter
Gaya hidup mewah pejabat di tengah rakyat yang kesulitan sering terasa seperti ironi modern. Namun, ini bukan cerita baru. Sejak era kolonial, pola yang sama terus muncul, bahkan elite menikmati kekayaan, sementara rakyat menanggung beban.

Tabooo.id: Deep – Pada awal abad ke-19, Cianjur menjelma menjadi salah satu wilayah paling makmur di Pulau Jawa. Tanahnya subur, hasil perkebunannya melimpah, dan kopi mendorong roda ekonomi dengan sangat kuat.

Bahkan, produksi kopi di wilayah Priangan mencapai angka luar biasa. Pada 1806, Cianjur menghasilkan sekitar 1,5 juta satuan kopi. Angka ini menunjukkan betapa besarnya peran wilayah tersebut dalam ekonomi kolonial.

Akibatnya, kekayaan mulai terkonsentrasi pada elite lokal. Para bupati naik kelas menjadi simbol status dan kekuasaan. Mereka tidak hanya menerima gaji, tetapi juga mengumpulkan pemasukan dari pajak dan praktik feodal yang mengakar.

Namun, kemakmuran itu tidak lahir dari sistem yang adil.

Tanam Paksa: Mesin Kekayaan yang Menekan Rakyat

Di balik angka produksi yang tinggi, sistem tanam paksa bekerja tanpa kompromi. Pemerintah kolonial memaksa petani menanam kopi demi kepentingan mereka.

Ini Belum Selesai

Banjir Aceh Barat: 12 Desa Terendam, Infrastruktur Terkikis, Mitigasi Kembali Diuji

Dua Korporasi Tersangka Karhutla, Ancaman Kerusakan Hutan Berlanjut

Para petani harus menyerahkan tenaga, waktu, bahkan hidup mereka. Mereka tidak punya ruang untuk menolak.

Sementara itu, hasil panen tidak kembali ke rakyat. Kopi mengalir ke kas kolonial, lalu memperkaya elite lokal.

Akibatnya, jurang ketimpangan semakin dalam.

Kemewahan yang Dibayar Banyak Orang

Di tengah situasi itu, gaya hidup elite justru semakin mencolok.

Bupati Cianjur kerap berkeliling menggunakan kereta berlapis emas. Ia menikmati kemewahan yang lahir dari sistem yang menekan rakyatnya sendiri.

Lebih jauh lagi, setiap perjalanan sang bupati membawa konsekuensi besar. Rombongan besar yang ia bawa harus ditanggung oleh daerah yang disinggahi.

Akibatnya, ratusan orang harus diberi makan. Kuda-kuda mereka juga harus dirawat.

Satu perjalanan, banyak yang menanggung.

Kekuasaan Sebagai Panggung

Fenomena ini tidak muncul tanpa sebab. Pada masa itu, kekuasaan menuntut pertunjukan.

Kabupaten berfungsi seperti panggung.
Sementara itu, bupati menjadi aktor utama.

Ia harus terlihat besar, berkuasa, dan kaya.

Karena itu, kemewahan bukan sekadar gaya hidup. Ia berubah menjadi simbol legitimasi kekuasaan.

Namun, “penonton” dalam pertunjukan itu adalah rakyat sendiri, yang justru membayar semuanya.

Ini Bukan Cerita Lama

Kalau cerita ini terasa familiar, itu bukan kebetulan.

Sejarah menunjukkan satu hal yang konsisten. Kekuasaan sering berjalan berdampingan dengan kemewahan elite. Di sisi lain, rakyat tetap menanggung beban.

Dengan kata lain, ini bukan sekadar cerita masa lalu. Ini pola yang terus berulang.

Bedanya hanya satu: hari ini, panggungnya lebih modern.

Namun, perannya masih sama.


Tags: elite lokalFeodalismeketimpangan sosialKolonialismekritik sosialPejabattanam paksa

Kamu Melewatkan Ini

Arogansi Ajudan Gubernur Kaltim dan Bayang-Bayang Feodalisme

Arogansi Ajudan Gubernur Kaltim dan Bayang-Bayang Feodalisme

by dimas
Oktober 21, 2026

Dugaan arogansi ajudan Gubernur Kaltim memicu sorotan terhadap kultur kekuasaan dan bayang-bayang feodalisme dalam hubungan pejabat dengan rakyat. Tabooo.id -...

Kebijakan Pemerintah Berubah, Kehidupan Warga Ikut Berubah?

Kebijakan Pemerintah Berubah, Kehidupan Warga Ikut Berubah?

by Naysa
Oktober 13, 2026

Kebijakan pemerintah lahir di tingkat nasional, tetapi dampaknya langsung menyentuh kehidupan warga di tingkat lokal. Bagi sebagian orang, kebijakan baru...

Jabatan Publik: Pengabdian, Kekuasaan atau Risiko Hukum?

Jabatan Publik: Pengabdian, Kekuasaan atau Risiko Hukum?

by dimas
September 23, 2026

Jabatan publik berada di antara pengabdian, kekuasaan, dan risiko hukum. Bagaimana menjaga tanggung jawab, pengawasan, serta kepastian bagi pejabat? Tabooo.id...

Next Post
Harga PS5 Terbaru 2026: Tembus Rp11 Juta

Harga PS5 Terbaru 2026: Tembus Rp11 Juta

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id