Oleh: Wartonagoro (Conceptor of Tabooology, Komisaris PT Tabooo Network Indonesia)
Saat budaya tunduk menjadi kearifan lokal, kritik seringkali langsung mendapat anggapan sebagai ancaman. Orang yang bertanya, langsung memperoleh label tidak tahu adat, sementara ketimpangan terus bersembunyi di balik kata tradisi. Padahal yang sedang digugat bukan budaya, melainkan cara elite memakainya untuk membuat orang kecil tetap menunduk.
Tabooo.id – Ada kalimat yang sering tergunakan untuk menghentikan kritik sebelum ia tumbuh, “Jangan begitu, itu sudah tradisi.”
Kalimat itu terdengar tenang. Seolah sedang menjaga warisan. Seolah siapa pun yang menggugat berarti tidak tahu akar, tidak menghargai leluhur, atau terlalu kebarat-baratan.
Padahal, tidak semua yang tampak sebagai tradisi atau budaya, layak kita pertahankan. Ada nilai yang memang perlu kita jaga. Tapi ada juga kebiasaan tua yang hanya bertahan karena terlalu banyak orang takut mempertanyakannya.
Di situlah Tabooology mengkritik.
Bukan untuk memusuhi budaya. Bukan untuk menghina tradisi. Tapi untuk membedakan mana nilai yang membesarkan manusia, dan mana kebiasaan yang membuat manusia terus merasa kecil.
Karena mengkritisi Feodalisme sama sekali bukan kritik terhadap budaya, melainkan kritik terhadap cara sebagian orang memakai budaya untuk melindungi ketimpangan.
Enak sekali jadi elite kalau mereka cukup merespon semua kritikan hanya dengan kalimat “kamu tidak paham budaya”.
Budaya Tidak Sama dengan Kepatuhan Buta
Budaya bisa mengajarkan rasa hormat. Itu benar.
Tapi rasa hormat berbeda dengan kepatuhan buta.
Hormat lahir dari kesadaran. Kepatuhan buta lahir dari rasa takut. Yang satu membuat manusia saling menghargai. Yang lain membuat sebagian orang merasa punya hak untuk selalu berada di atas.
Masalahnya, dua hal ini sering sengaja dicampur.
Orang muda bertanya, lalu lingkungan menuduhnya tidak sopan. Rakyat menggugat, elite menyuruh mereka tahu diri. Bawahan memberi kritik, atasan membacanya sebagai perlawanan. Bahkan ketika seseorang hanya meminta penjelasan, suasana bisa mendadak berubah seperti ia baru saja melakukan dosa sosial.
Aneh.
Pertanyaan mendapat perlakuan layaknya serangan. Menganggap kritik sebagai penghinaan. Dan menyebut diam sebagai kedewasaan.
Lama-lama, masyarakat belajar satu hal, lebih aman menunduk daripada menjelaskan kegelisahan.
Di titik itu, budaya tidak lagi menjadi rumah, tapi sudah berubah menjadi pagar. Sedangkan, pagar paling berbahaya bukan yang terlihat tinggi, namun yang membuat orang merasa bersalah saat ingin melompatinya.
Tradisi Bisa Mulia, Elite Bisa Memakainya
Tradisi tidak otomatis buruk. Banyak tradisi lahir dari pengalaman panjang manusia menjaga hidup bersama.
Tradisi menyimpan banyak hal yang memang layak kita hormati, tata krama, penghargaan kepada orang tua, cara bicara yang menjaga perasaan, upacara yang merawat ingatan, dan simbol yang membuat komunitas merasa punya akar.
Semua itu punya tempat. Tapi jangan naif.
Elite juga bisa memakai tradisi. Kekuasaan sering pandai meminjam bahasa budaya agar terlihat suci. Ia tidak selalu datang dengan larangan keras. Kadang ia datang dengan nasihat lembut.
“Jangan melawan orang tua.”
“Tidak boleh mempermalukan pemimpin.”
“Jangan membuat gaduh.”
Kalimat-kalimat itu terdengar sebagai ajakan menjaga harmoni. Namun di banyak situasi, isinya adalah perintah untuk tidak mengganggu mereka yang sudah nyaman.
Feodalisme bertahan karena ia jarang memperkenalkan diri sebagai penindasan. Ia lebih sering tampil sebagai adab, unggah-ungguh, tata nilai, dan penghormatan.
Padahal yang sedang terjadi sederhana. Ada pihak yang ingin terus mendapat penghormatan. Ada orang yang terus menuntut kepatuhan, tapi malas menjelaskan alasan. Atau ada kelompok yang ingin menjaga posisi, lalu memakai tradisi sebagai baju kebesaran.
Jangan Menyebut Semua Kritik adalah Kurang Ajar
Kata “kurang ajar” seringkali menjadi palu sosial.
Sekali label itu jatuh, substansi kritik langsung hilang. Orang tidak lagi membahas isi pertanyaan. Mereka sibuk menilai cara bicara, usia, posisi, latar belakang, dan keberanian orang yang bertanya.
Kritiknya benar atau tidak, itu urusan belakangan. Yang penting, bagaimana membuat si pengkritik harus merasa bersalah dulu. Ini pola lama.
Ketika kekuasaan tidak punya jawaban kuat, ia menyerang etika penanya. Ketika elite tidak nyaman, ia menggeser masalah dari isi kritik ke sikap pengkritik. Lalu publik ikut terseret.
“Cara ngomongnya tidak pantas.”
“Dia siapa berani bicara begitu?”
Kalimat terakhir itu paling jujur.
“Dia siapa?”
Artinya, masalahnya bukan cuma kritik, tapi pada posisi. Dalam kepala feodal, kebenaran tidak berdiri sendiri. Kebenaran harus datang dari orang yang mereka anggap pantas mengucapkannya.
Saat rakyat kecil mengkritik, elite mudah menyebut mereka lancang. Orang biasa harus tahu diri bahkan sebelum pendapatnya selesai terucapkan. Orang yang lebih tua menyuruh para anak muda belajar lebih banyak dulu, seolah usia otomatis membuat kritik mereka tidak layak masuk percakapan.
Begitulah cara Feodalisme menyaring suara. Bukan berdasarkan kebenaran, tapi berdasarkan derajat sosial.
Tabooology menolak permainan itu.
Pertanyaan tidak menjadi salah hanya karena keluar dari mulut orang yang tidak punya gelar. Kritik tidak otomatis gugur hanya karena terkatakan dari orang yang tidak punya jabatan. Kegelisahan rakyat tidak boleh menjadi batal hanya karena bahasanya tidak cukup halus untuk telinga elite.
Kadang, yang mereka sebut kurang ajar hanyalah keberanian yang muncul dari tempat yang tidak mereka perhitungkan.
Kearifan Lokal Tidak Boleh Jadi Tameng Kekuasaan
“Kearifan lokal” sering terdengar indah.
Masalahnya, frasa indah juga bisa menyembunyikan luka. Orang menyebut ketimpangan sebagai bagian dari tradisi, membungkus kemiskinan sebagai kesederhanaan, merayakan kepatuhan sebagai keluhuran budi, lalu memuji diam sebagai kedewasaan.
Sementara itu, siapa pun yang berani menggugat, langsung mendapat tuduhan sebagai perusak harmoni. Harmoni macam apa yang hanya membuat pihak atas tetap nyaman?
Para elite terus meminta rakyat untuk sabar, sedangkan mereka duduk nyaman di tempatnya. Itu bukan kearifan. Itu pembodohan yang memakai bahasa halus. Orang kecil harus menerima nasib, sementara pemegang kuasa jarang bertanggung jawab.
Di titik itu, budaya berubah menjadi pengalihan beban. Saat kritik dianggap mengganggu ketenangan, kita perlu curiga. Jangan-jangan ketenangan itu memang berdiri di atas sesuatu yang busuk.
Tabooology tidak tertarik pada budaya yang hanya terlihat megah dan cantik, tapi tak memiliki dampak positif untuk masyarakat.
Coba lihat dampaknya. Budaya itu membuat orang lebih bebas berpikir, atau justru makin hati-hati sebelum bicara? Ia memberi ruang bagi yang lemah untuk bersuara, atau malah membuat kekuasaan makin nyaman tanpa koreksi?
Saat orang kecil makin takut mengangkat kepala, kita patut curiga. Jangan-jangan yang mereka jaga selama ini bukan kearifan, melainkan hierarki.
Pertanyaan ini penting. Karena budaya yang terlarang untuk mendapat kritikan, perlahan akan berubah menjadi dogma. Tradisi yang kebal kritik akan menjadi alat kuasa. Kearifan yang selalu membela pihak kuat akan kehilangan unsur arifnya.
Ia hanya jadi dekorasi moral. Terlihat indah, namun berbahaya saat dipercaya mentah-mentah.
Diam adalah Pilihan Terbaik?
Yang paling menyedihkan dari budaya tunduk bukan hanya orang takut bicara, tapi mereka mulai merasa bahwa diam adalah pilihan terbaik.
Mulut terbungkam. Mata melihat. Kepala tahu ada yang tidak adil. Tapi tubuh memilih aman.
Di ruang keluarga, seseorang ingin membantah, lalu menelan kalimatnya. Di kantor, bawahan melihat keputusan buruk, namun hanya menatap layar laptop. Dalam forum warga, orang tahu ada yang janggal, tapi memilih pulang lebih cepat.
Tidak ada keributan. Semua tampak tertib. Padahal ketertiban itu berasal dari pembungkaman suara.
Di sana Feodalisme bekerja paling halus. Ia tidak perlu memukul, tapi cukup membuat orang menghitung risiko sebelum mengatakan kebenaran.
Nanti mendapat anggapan tidak tahu adat, tidak sopan, merusak hubungan, atau akses jadi tertutup. Akhirnya, orang memilih diam. Bukan karena setuju, tapi karena lelah membayangkan akibatnya.
Dan ketika terlalu banyak orang menahan mulut, ketidakadilan tidak perlu lagi bersembunyi. Ia cukup duduk di tengah ruangan sambil tetap terlihat semuanya baik-baik saja.
Tabooology Melawan Budaya Tunduk
Tabooology tidak memusuhi akar. Tapi justru bertanya, akar seperti apa yang sedang kita rawat?
Kalau akar itu memberi manusia keberanian, rawat. Jika ia menjaga martabat, pertahankan. Bila ia membuat hidup bersama lebih manusiawi, teruskan.
Tapi kalau akar itu dipakai untuk mengikat kaki orang kecil, kita perlu berhenti sebentar.
Budaya tidak boleh membuat manusia takut menjadi setara. Tradisi tidak boleh membuat elite kebal pertanyaan. Tata krama tidak boleh dipakai untuk mematikan keberanian. Kearifan lokal tidak boleh menjadi kain penutup bagi ketimpangan yang sudah terlalu lama dibiarkan.
Kritikan terhadap Feodalisme bukan kebencian pada budaya.
Justru sebaliknya.
Kritik itu muncul karena budaya terlalu berharga untuk dibiarkan menjadi alat pembenaran bagi mereka yang ingin terus dihormati tanpa pernah bertanggung jawab.
Ada warisan yang perlu dibaca ulang. Ada pula yang harus dipisahkan dari kepentingan elite. Bahkan, beberapa kebiasaan mungkin memang layak ditinggalkan, karena ia tidak lagi merawat manusia. Tapi hanya menjaga ketakutan tetap hidup. Sedangkan ketakutan yang diwariskan terlalu lama akan terasa seperti identitas.
Boleh Mencintai Budaya, Bukan Ketundukan
Pada akhirnya, budaya tunduk bertahan bukan karena semua orang mencintainya. Tapi, bertahan karena terlalu banyak orang takut membayar harga dari pertanyaan.
Rasa takut itu datang dari banyak arah. Takut dianggap tidak sopan, kehilangan tempat, atau berjalan sendirian. Yang paling sulit, kamu diminta melawan sesuatu yang sejak kecil diperkenalkan sebagai kebaikan.
Tapi manusia tidak akan merdeka kalau setiap pikirannya harus meminta restu lebih dulu.
Kita boleh mencintai budaya. Tapi cinta yang sehat tidak menutup mata. Ia berani memeriksa, lalu membedakan mana warisan yang menghidupkan, dan mana kebiasaan yang hanya membuat manusia terus mengecil.
Budaya yang hanya boleh dipuji, sebenarnya pelan-pelan menuju museum. Tradisi yang kebal kritik berubah menjadi tembok. Dan ketika kearifan lokal terus dipakai untuk membungkam orang kecil, masalahnya bukan pada mereka yang bertanya, tapi pada kekuasaan yang terlalu takut mendapat pertanyaan.
Masalahnya ada pada mereka yang terlalu nyaman duduk di atas kepala orang lain.
Tabooology hanya ingin bertanya, kamu benar-benar menjaga budaya, atau sedang menjaga kekuasaan? @tabooo







