Tjidurian 19 pernah menjadi rumah bagi mimpi, perdebatan, dan semangat kebudayaan yang tumbuh di Indonesia pada awal 1960-an. Kini bangunannya telah hilang, tetapi jejak sejarah yang pernah hidup di dalamnya terus menolak untuk dilupakan.
Hari ini, ribuan orang mungkin melewati kawasan itu tanpa pernah mengetahui sebenarnya apa yang pernah tumbuh di sana. Kini, kawasan itu sudah tidak menyisakan prasasti, monumen, maupun penanda apa pun yang mengingatkan publik bahwa Tjidurian 19 pernah menjadi rumah bagi salah satu gerakan kebudayaan terbesar dalam sejarah Indonesia.
Padahal, pada awal 1960-an, Tjidurian 19 bukan sekadar bangunan kolonial di kawasan Cikini. Rumah itu menjadi ruang pertemuan para penyair, pelukis, pematung, penulis, jurnalis, dan pemikir yang percaya bahwa seni harus hadir di tengah kehidupan rakyat.
Di bawah atap Tjidurian 19, diskusi berlangsung hingga larut malam. Puisi dibacakan. Lukisan dipamerkan. Naskah diperdebatkan. Ide-ide tentang keadilan sosial dan masa depan Indonesia bertemu dalam percakapan yang panjang dan penuh gairah.
Rumah itu hidup.
Namun perubahan politik yang datang setelah 1965 menyeret Tjidurian 19 menuju nasib yang tak pernah terlintas dalam benak para penghuninya.
Ketika Seni Bertemu Rakyat
Tjidurian 19 menjadi markas penting Lembaga Kebudayaan Rakyat atau Lekra. Organisasi ini lahir dengan keyakinan bahwa kebudayaan tidak boleh berdiri jauh dari masyarakat.
Para seniman Lekra tidak ingin menciptakan karya dari balik meja atau ruang nyaman di kota besar. Mereka memilih turun langsung ke desa-desa, pesisir, dan kawasan buruh untuk memahami kehidupan rakyat dari dekat.
Mereka menyebut metode itu Turun ke Bawah atau Turba.
Melalui Turba, para seniman tinggal bersama petani, makan bersama nelayan, dan bekerja bersama buruh. Mereka mendengar cerita tentang kemiskinan, ketidakadilan, harapan, dan perjuangan hidup sehari-hari.
Setelah itu, mereka kembali ke Tjidurian 19.
Di rumah itulah pengalaman-pengalaman tersebut berubah menjadi puisi, cerpen, lukisan, patung, dan berbagai karya kebudayaan yang berbicara tentang kehidupan rakyat biasa.
Bagi para penghuni Tjidurian 19, seni bukan sekadar soal estetika.
Seni adalah cara memahami manusia.
Tahun 1965 dan Runtuhnya Sebuah Dunia
Lalu datang tahun 1965.
Peristiwa G30S mengubah arah sejarah Indonesia secara drastis. Setelah itu, rezim Orde Baru menempatkan PKI sebagai musuh utama dan memburu berbagai organisasi yang memiliki kedekatan ideologis dengannya. Di tengah gelombang represi tersebut, Lekra menjadi salah satu target pertama.
Aparat melakukan penangkapan di berbagai daerah.
Ribuan orang masuk penjara tanpa proses pengadilan. Ratusan ribu lainnya menjadi korban kekerasan politik. Banyak seniman kehilangan kebebasan, pekerjaan, keluarga, bahkan nyawa mereka.
Sebagian besar penghuni Tjidurian 19 tidak melawan ketika aparat datang. Mereka percaya tidak melakukan kejahatan apa pun. Mereka mengira pemeriksaan hanya berlangsung sementara.
Kenyataannya jauh berbeda.
Negara tidak hanya menangkap manusia. Negara juga menghancurkan ruang hidup mereka.
Petugas membakar buku. Mereka memusnahkan arsip. Mereka menghapus nama-nama tertentu dari sejarah resmi Indonesia.
Sejarawan Hilmar Farid pernah menyebut sekitar 20 ribu seniman dan pekerja kebudayaan kehilangan jejak kekaryaan akibat tragedi tersebut.
Apa yang terjadi setelah 1965 bukan sekadar pergantian kekuasaan.
Indonesia juga kehilangan sebagian besar ingatan kebudayaannya.
Ketika Penguasa Menghapus Jejak Tjidurian 19
Rumah yang sebelumnya menjadi ruang diskusi sastra dan kebudayaan berubah menjadi mess militer. Selama puluhan tahun, Tjidurian 19 menjalani kehidupan yang sama sekali berbeda dari fungsi awalnya.
Perubahan itu bukan sekadar soal bangunan.
Perubahan itu menyangkut ingatan.
Para sejarawan menggunakan istilah memoricide untuk menjelaskan praktik penghapusan memori melalui penghancuran simbol, arsip, dan ruang fisik yang menyimpan sejarah.
Tjidurian 19 menjadi salah satu korbannya.
Penguasa memahami bahwa bangunan tidak hanya menyimpan batu bata dan kayu. Bangunan juga menyimpan cerita. Selama sebuah ruang masih berdiri, orang masih bisa bertanya tentang masa lalu yang pernah terjadi di sana.
Karena itulah banyak ruang sejarah menghilang lebih dulu sebelum generasi berikutnya sempat mengenalnya.
Pada dekade berikutnya, Tjidurian 19 berpindah tangan beberapa kali hingga akhirnya pemilik terakhir merobohkan bangunan tersebut. Bulldozer meratakan rumah yang pernah menjadi salah satu pusat kebudayaan paling berpengaruh di Indonesia. Bersamaan dengan itu, Jakarta kehilangan satu lagi jejak sejarahnya.
Ketika Film Menggantikan Batu Bata
Meski bangunannya hilang, Tjidurian 19 tidak sepenuhnya lenyap. Ingatan selalu menemukan jalannya sendiri.
Pada 2009, Lasja Fauzia Susatyo bersama M. Abduh Aziz mengangkat kisah Tjidurian 19 ke layar dokumenter dan mengembalikannya ke ruang ingatan publik.
Alih-alih mengikuti narasi resmi negara, dokumenter tersebut memberi ruang kepada orang-orang yang pernah hidup dan berkarya di Tjidurian 19.
Mereka berbicara tentang diskusi, persahabatan, karya seni, dan mimpi-mimpi yang tumbuh di Tjidurian 19.
Tak hanya itu, mereka juga berbicara tentang penangkapan, pemenjaraan, dan kehilangan.
Yang menarik, hampir tidak ada penyesalan dalam kesaksian mereka.
Banyak dari mereka kehilangan masa muda, kehilangan karier, bahkan kehilangan kebebasan selama bertahun-tahun. Namun mereka tetap memegang keyakinan yang sama: seni harus berpihak pada manusia.
Film itu akhirnya melakukan sesuatu yang gagal dilakukan bangunan yang telah runtuh.
Film itu membuat Tjidurian 19 kembali hadir dalam ingatan publik.
Ketika Lagu Menjadi Arsip
Perlawanan terhadap lupa tidak hanya hadir melalui film.
Paduan Suara Dialita merawat ingatan tentang tragedi 1965 lewat harmoni suara yang mereka nyanyikan.
Para perempuan penyintas dan keluarga korban represi politik membangun kelompok ini dari pengalaman hidup yang penuh luka dan ketahanan.
Setiap lagu yang mereka bawakan mengangkat kembali suara-suara yang pernah ingin dihapus, lalu mengembalikannya ke ruang ingatan publik.
Lagu-lagu yang mereka bawakan bercerita tentang kehilangan, kerinduan, harapan, dan ketahanan hidup.
Jika Tjidurian 19 pernah menjadi rumah bagi percakapan dan kebudayaan, Dialita menjelma ruang baru yang merawat ingatan kolektif.
Kehadiran kelompok ini menunjukkan bahwa sejarah tidak selalu hidup di museum atau arsip resmi negara.
Kadang sejarah bertahan dalam suara.
Kadang sejarah bertahan dalam lagu.
Rumah yang Menolak Mati
Tjidurian 19 memang sudah tidak berdiri lagi. Jakarta menghapus bentuk fisiknya, sementara waktu perlahan mengaburkan sebagian kisah yang pernah tumbuh di dalamnya. Generasi baru melintasi kawasan itu setiap hari tanpa mengetahui bahwa di tempat tersebut pernah lahir perdebatan, karya seni, dan gagasan yang ikut membentuk sejarah kebudayaan Indonesia.
Namun, Tjidurian 19 tidak pernah benar-benar hilang.
Film dokumenter, lagu-lagu Dialita, kesaksian para penyintas, dan cerita yang terus diwariskan membuat nama itu tetap bertahan di ruang ingatan. Apa yang pernah hidup di Tjidurian 19 mungkin tidak lagi memiliki dinding, jendela, atau halaman yang bisa disentuh, tetapi jejaknya masih berdenyut dalam memori mereka yang memilih untuk mengingat.
Pada akhirnya, Tjidurian 19 bukan hanya kisah tentang sebuah rumah yang lenyap dari peta Jakarta. Ia adalah cermin tentang bagaimana sebuah bangsa memperlakukan ingatannya sendiri. Sebab ketika sebuah ruang budaya menghilang tanpa jejak, yang sesungguhnya dipertaruhkan bukan sekadar bangunan, melainkan kemampuan kita untuk memahami siapa diri kita dan dari mana kita berasal.
Barangkali yang paling rapuh bukanlah tembok atau atap sebuah rumah, melainkan ingatan. Tembok bisa runtuh, arsip bisa musnah, dan nama bisa dihapus dari buku sejarah. Namun selama masih ada orang yang bercerita, menulis, menyanyi, dan mengingat, masa lalu akan selalu menemukan jalan untuk kembali berbicara.
Dan mungkin, di situlah makna terbesar Tjidurian 19 hari ini: mengingatkan kita bahwa sejarah tidak selalu mati ketika bangunannya hilang. Sejarah benar-benar hilang hanya ketika tidak ada lagi yang mau mengingatnya. @anisa







