Kiri sering hadir sebagai ancaman dalam ingatan publik. Namun, benarkah ia musuh bangsa, atau hanya korban sejarah yang dipelintir?
Tabooo.id – Ada sesuatu yang aneh dalam cara bangsa ini mengingat masa lalu.
Kita begitu mudah menyebut kata “kiri” dengan nada curiga. Sebaliknya, kita sering menyambut “kanan” dengan rasa nyaman. Akibatnya, dua istilah yang awalnya hanya menunjukkan arah berubah menjadi simbol moral. Banyak orang menempatkan satu sisi sebagai ancaman dan mengangkat sisi lainnya sebagai kewajaran.
Padahal, sejarah tidak pernah sesederhana itu.
Filsuf bahasa Ferdinand de Saussure menjelaskan bahwa makna lahir dari perbedaan. Putih memperoleh makna karena manusia mengenal hitam. Siang hadir berdampingan dengan malam. Kiri menemukan artinya karena kanan juga ada.
Karena itu, keberadaan satu sisi tidak otomatis membuat sisi lain lebih rendah.
Justru melalui perbedaan itulah manusia memahami dunia. Saussure melihat setiap tanda sebagai bagian dari hubungan yang saling melengkapi. Jika satu sisi hilang, manusia kehilangan ruang untuk membangun makna.
Namun, sejarah politik sering bergerak ke arah berbeda. Penguasa kerap mengangkat satu gagasan ke pusat perhatian lalu mendorong gagasan lain ke pinggiran. Dari proses itulah stigma tumbuh. Dari proses itu pula masyarakat mulai memandang satu gagasan lebih sah daripada yang lain.
Dan Indonesia memiliki hubungan yang rumit dengan kata “kiri”.
Ketakutan yang Melampaui Zaman
Selama puluhan tahun, masyarakat menerima berbagai cerita tentang bahaya kiri. Sekolah mengajarkannya. Film mengulangnya. Buku pelajaran menyebarkannya. Ruang keluarga memperkuatnya. Lambat laun, ketakutan itu berubah menjadi refleks sosial.
Banyak orang tidak lagi bertanya mengapa mereka takut.
Mereka memilih menerima rasa takut sebagai kebenaran.
Akibatnya, masyarakat tidak melihat sejarah sebagai rangkaian peristiwa yang rumit. Mereka mengubah sejarah menjadi kisah hitam-putih. Dalam kisah seperti itu, selalu ada pahlawan dan musuh. Selalu ada pihak yang layak mendapat pujian dan pihak yang harus menerima penolakan.
Padahal kenyataan jauh lebih rumit daripada cerita propaganda.
Ironisnya, generasi muda tidak mengalami langsung konflik ideologi masa lalu. Meski begitu, mereka tetap mewarisi kecemasan terhadap simbol, istilah, atau diskusi tertentu. Orang tua, sekolah, film, dan lingkungan sosial terus menyalurkan ketakutan tersebut dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu, rasa takut bertahan lebih lama daripada peristiwanya.
Ketika Kita Membaca Sejarah Setengah Jalan
Masalah terbesar muncul ketika masyarakat membaca sejarah secara setengah-setengah.
Sebagian orang membuka satu halaman lebar-lebar. Namun mereka menutup halaman lain rapat-rapat. Bahkan ada kelompok yang sengaja menjauhkan bagian tertentu dari ruang publik. Akibatnya, masyarakat membangun pemahaman di atas cerita yang tidak utuh.
Kita sering lupa bahwa Indonesia lahir dari pertemuan banyak gagasan. Nasionalisme, Islam, sosialisme, marhaenisme, dan berbagai pemikiran anti-kolonial ikut membentuk perjalanan bangsa.
Bung Karno tumbuh di tengah perdebatan berbagai ideologi. Ia berdialog dengan banyak pemikiran yang berkembang pada masanya. Gagasan tentang kesetaraan sosial, pembebasan rakyat, dan perlawanan terhadap kolonialisme ikut membentuk cara pandangnya.
Namun kini, sebagian masyarakat bertindak seolah jejak sejarah itu tidak pernah hadir.
Kita menerima sebagian sejarah sebagai kebanggaan nasional. Pada saat yang sama, kita menolak bagian lain karena menganggapnya berbahaya. Kita merayakan tokohnya, tetapi enggan memahami konteks yang melahirkan pemikirannya.
Di titik inilah kontradiksi itu muncul.
Mengapa Kita Takut pada Diskusi?
Ketika ketakutan bertahan terlalu lama, masyarakat mulai memandang diskusi sebagai ancaman.
Sebagian kelompok mencurigai festival budaya. Kelompok lain mempersoalkan pementasan sejarah. Ada pula yang menekan forum diskusi dan menolak percakapan akademik. Semua itu menunjukkan satu hal: rasa takut sering mengalahkan rasa ingin tahu.
Padahal diskusi tidak selalu berarti persetujuan.
Seseorang bisa mempelajari sebuah gagasan tanpa harus mendukungnya. Sebaliknya, pemahaman yang baik justru membantu seseorang mengkritik sebuah ide secara lebih rasional.
Sayangnya, banyak orang memilih menghindari pembahasan daripada memahami persoalannya.
Akibatnya, ruang publik kehilangan kesempatan untuk belajar dari sejarah secara dewasa.
Selain itu, pelarangan sering menghasilkan dampak yang berlawanan. Semakin keras suatu kelompok menekan sebuah gagasan, semakin besar rasa penasaran publik terhadapnya. Karena itu, upaya membungkam percakapan jarang menyelesaikan persoalan.
Indonesia Tumbuh di Antara Dua Arus
Indonesia tidak pernah berdiri di satu kutub tunggal.
Bangsa ini tumbuh melalui tarik-menarik berbagai gagasan, kepentingan, dan kekuatan politik. Proses tersebut memang melahirkan konflik. Namun proses yang sama juga membentuk identitas Indonesia modern.
Karena itu, sulit membayangkan sejarah Indonesia tanpa keberadaan berbagai arus pemikiran yang pernah bertarung di dalamnya.
Kita menikmati hasil perjalanan sejarah yang kompleks. Akan tetapi, kita sering menolak mengakui kerumitannya. Kita bangga pada warisan nasional. Namun kita kerap menghindari bagian-bagian sejarah yang terasa tidak nyaman.
Padahal bangsa yang dewasa berani menghadapi masa lalunya secara utuh.
Bangsa yang dewasa tidak memuja, bangsa yang dewasa juga tidak menghapus, bangsa yang dewasa berusaha memahami.
Bukan Memilih Sisi, Melainkan Memahami
Pada akhirnya, persoalan ini bukan sekadar soal kiri atau kanan.
Persoalan utamanya terletak pada cara kita memandang sejarah, ingatan, dan perbedaan. Jika kita hanya menerima bagian yang terasa nyaman, kita kehilangan kesempatan untuk memahami diri sendiri. Sebaliknya, jika kita berani menatap seluruh sejarah secara utuh, kita bisa belajar tanpa mengulangi luka yang sama.
Kiri tidak harus menerima pemujaan.
Kanan tidak perlu memperoleh pengagungan.
Namun masyarakat perlu memahami keduanya sebagai bagian dari perjalanan bangsa.
Sebab tanpa keberanian untuk memahami, kita hanya akan mewariskan ketakutan yang sama kepada generasi berikutnya.
Dan mungkin, yang paling berbahaya bukanlah sebuah ide.
Yang paling berbahaya adalah ketika masyarakat kehilangan keberanian untuk membicarakannya. @dimas







