Oleh: Wartonagoro (Conceptor of Tabooology, Komisaris PT Tabooo Network Indonesia)
Tabooology mengajak untuk merdeka berpikir. Mulai dari melihat satu hal yang jarang orang mau mengakuinya, yaitu banyak kepatuhan terhadap sesuatu, tapi sebenarnya bukan karena setuju, tapi karena takut kehilangan tempat. Di negeri yang terlalu lama mengajarkan kesungkanan, diam sering mendapatkan pujian sebagai kesopanan. Padahal kadang, yang kamu sebut tata krama cuma cara halus untuk menutupi rasa takutmu.
Tabooo.id – Ada negeri yang katanya sudah merdeka, tapi ternyata hanya untuk berpikir saja masih belum merdeka, terlalu banyak meminta izin.
Orang boleh bicara, bebas memilih, dan juga punya pendapat. Tapi begitu pendapat itu mulai mengganggu orang tua, atasan, tokoh, tradisi, mayoritas, atau figur yang “lebih tinggi”, suara itu langsung mengecil sendiri.
Bukan karena terlarang. Tapi, karena takut.
Tabooology bukan sekadar ajakan berpikir kritis. Itu terlalu dangkal. Karena orang sering memakainya agar terlihat pintar di forum-forum diskusi.
Tabooology adalah perlawanan terhadap budaya izin, budaya sungkan, budaya “jangan macam-macam”. Budaya yang membuat manusia merasa sopan, padahal ia cuma takut kehilangan tempat.
Kadang yang kamu sebut tata krama, cuma bahasa halus untuk tidak punya keberanian alias takut.
Yakin Kepatuhanmu Berarti Setuju?
Banyak orang tidak benar-benar setuju pada sesuatu. Mereka hanya tidak berani menolak, lalu mengangguk karena suasana menuntut itu.
Mereka diam karena semua orang juga diam. Dan terpaksa tersenyum karena takut seakan tidak tahu diri.
Lalu setelah cukup lama, kepatuhan itu terasa seperti pilihan.
Di rumah, anak belajar bahwa membantah berarti durhaka. Lalu, di sekolah, murid yang terlalu banyak bertanya berarti mencari masalah. Di kantor, bawahan belajar bahwa kritik bisa merusak karier. Sementara itu, di masyarakat, warga yang menggugat tokoh besar mendapat anggapan kurang ajar.
Akhirnya, manusia tidak hanya patuh pada aturan. Ia patuh pada bayangan hukuman yang belum tentu datang. Itu yang membuat Feodalisme bertahan lebih lama daripada istana.
Takhta bisa runtuh. Gelar bisa kehilangan kuasa politik. Tapi mental tunduk bisa tetap hidup dalam tubuh manusia modern yang memakai sneakers, bekerja di ruang ber-AC, dan menulis opini progresif di media sosial.
Lucu juga.
Orang bisa mengutuk raja, tapi masih gemetar pada jabatan. Mereka bisa mengejek bangsawan, tapi tetap menilai manusia dari nama keluarga. Siapapun bisa bicara demokrasi, tapi di dalam organisasi kecil saja sudah mencari figur “bapak” untuk ditaati.
Kepatuhan seperti ini tidak lahir dari kesadaran, tapi dari kebiasaan. Sedikit demi sedikit, manusia belajar untuk membaca suasana sebelum membaca kebenaran.
Sopan Santun Bisa Jadi Penjara
Sopan santun punya tempat. Tidak semua hal harus menjadi benturan. Dan, tidak semua percakapan perlu berubah jadi perdebatan. Hidup bersama memang butuh tata cara.
Masalahnya, sopan santun seringkali menjadi penjara bagi pikiran.
Kamu tidak boleh terlalu tajam.
Jangan terlalu frontal.
Tidak perlu terlalu banyak tanya.
Tidak boleh membuat orang “tidak enak”.
Lucu.
Orang yang merampas hak orang lain bisa tetap dihormati selama bahasanya halus. Tapi orang yang membongkar ketidakadilan bisa mendapat tudingan sebagai tidak sopan hanya karena suaranya tidak cukup lembut.
Di situ sopan santun berubah fungsi.
Ia tidak lagi menjaga martabat manusia, tapi sekadar menjaga kenyamanan pihak yang tidak boleh terganggu.
Feodalisme paling pandai memakai bahasa halus. Ia jarang berkata, “Tunduklah.” Ia lebih sering berkata, “Tahu tempatlah.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi isinya bisa brutal.
“Tahu tempat” sering terdengar seperti nasihat yang sopan. Padahal, diam-diam orang lain sedang memasang batasan, yakni batasan untuk jangan melangkah terlalu jauh, jangan merasa setara, jangan bicara lebih keras dari mereka yang sudah mendapat “kehormatan” sebagai pihak yang lebih berhak untuk kita dengar.
Di banyak ruang, sopan santun bukan lagi etika, tapi menjadi pagar. Dan pagar paling efektif selalu terlihat seperti nasihat.
Feodalisme Paling Kuat Ada di Kepala
Feodalisme tidak selalu datang dengan mahkota, keris, kursi tinggi, atau upacara panjang.
Kadang ia datang dalam bentuk panggilan “beliau” yang tidak boleh mendapat kritikan. Kadang ia muncul lewat atasan yang merasa idenya otomatis benar. Atau hidup dalam keluarga yang menganggap usia lebih tua selalu lebih bijak.
Kadang ia sesederhana rasa takut sebelum menekan tombol kirim.
Kamu sudah mau mengatakan sesuatu. Kamu tahu itu benar. Tapi mulutmu terkunci.
Anehnya, yang mengunci adalah kamu sendiri. Dengan berpikir, nanti tidak sopan. Khawatir orang jadi tersinggung. Takut seolah melawan. Atau malah merusak hubungan.
Lalu kamu tidak jadi bicara.
Tidak perlu ada polisi, surat peringatan, atau ancaman. Sensor di otak otomatis bekerja.
Itulah feodalisme yang paling kuat. Bukan yang menjaga pintu istana. Tapi yang menjaga isi kepalamu agar tetap jinak.
Sensor yang membuat orang kecil merasa terlalu kecil untuk bertanya. Ia membuat anak muda merasa belum cukup umur untuk mengkritik. Ia yang membuat bawahan merasa gajinya bisa hilang hanya karena punya pendapat.
Sensor itu juga yang membuat rakyat merasa harus menghormati pemimpin lebih dulu, bahkan sebelum kita mengujinya. Padahal kekuasaan yang sehat harus teruji lebih dahulu.
Kalau sebuah otoritas hanya bisa bertahan karena semua orang sungkan, mungkin yang berdiri di sana bukan wibawa. Mungkin cuma ketakutan yang terbungkus dengan pakaian adat.
Tabooology masuk dari titik itu. Ia bertanya dengan kasar, tapi perlu, ini benar-benar hormat, atau kamu cuma takut?
Berpikir Merdeka Itu Tidak Akan Terasa Nyaman
Banyak orang ingin merdeka berpikir, tapi tetap ingin semua orang menyukainya. Itu hampir mustahil.
Berpikir merdeka berarti kamu harus siap kehilangan kenyamanan. Kamu akan menemukan bahwa beberapa nilai yang kamu anggap benar, ternyata cuma kebiasaan dari warisan. Beberapa prinsip yang kamu bela mati-matian, ternyata cuma suara orang lain yang terlalu lama tinggal di kepalamu.
Dan beberapa bentuk “kedewasaan” ternyata hanya rasa takut yang sudah pandai memilih kata.
Tabooology tidak menawarkan ketenangan. Ia justru mengganggu ketenangan palsu.
Ia memaksamu bertanya, kenapa aku diam? Untuk apa aku takut? Apa gunanya aku selalu menunggu restu orang lain, sebelum menyimpulkan sesuatu? Lalu, kenapa aku merasa bersalah saat pikiranku tidak cocok dengan lingkungan?
Pertanyaan seperti itu tidak enak.
Karena begitu kamu mulai jujur, kamu tidak bisa kembali menjadi manusia lama dengan mudah. Kamu mulai melihat ruang keluarga dengan cara berbeda. Melihat kantor dengan mata lain. Melihat politik tidak lagi sebagai panggung orang besar, tapi sebagai cara panjang untuk membuat rakyat tetap merasa kecil.
Dan tentu saja, itu melelahkan.
Tapi lebih melelahkan lagi hidup sebagai manusia yang harus terus menyesuaikan diri, sampai lupa bentuk aslinya.
Banyak orang menyebut dirinya realistis. Padahal sebenarnya ia sudah menyerah.
Cara Halus Feodalisme Menanamkan Rasa Takut
Bagian paling menakutkan dari Feodalisme bukan istananya. Bukan gelar kebangsawanan atau para bangsawannya itu sendiri. Tapi, pada cara halusnya untuk menanamkan rasa takut.
Rasa takut itu bentuknya macam-macam, misalnya takut berbeda, takut dibenci, atau takut dianggap kurang ajar. Ada juga yang lebih halus, yaitu takut kehilangan akses, lalu tidak lagi diterima oleh lingkaran yang selama ini memberi rasa aman.
Feodalisme tidak menanamkan rasa takut itu dengan kasar, tapi menyamarkannya menjadi pertimbangan, etika, kehati-hatian. Menjadi kalimat, “Sudahlah, jangan dibahas.”
Padahal justru yang tidak dibahas sering kali paling menentukan hidup manusia.
Tabooology melawan Feodalisme, karena membuat manusia berhenti sebelum berpikir sampai ujung. Ia memotong keberanian sejak masih berbentuk niat. Ia membuat orang sibuk menjaga hubungan, tapi membiarkan ketidakadilan tetap duduk di ruang tengah. Lalu semua orang pura-pura baik-baik saja.
Di permukaan, masyarakat tampak rukun. Di dalam, banyak kepala sudah lama menyerah.
Itu bukan harmoni, melainkan ketakutan yang berhasil diatur.
Tabooology Melawan Feodalisme
Tabooology melawan Feodalisme bukan berarti membenci tradisi. Itu pemelintiran.
Tabooology melawan kebiasaan memakai tradisi untuk membungkam pikiran. Ia menggugat cara kekuasaan menyamar sebagai kesopanan, dan membongkar mentalitas tunduk yang membuat manusia merasa tidak pantas berdiri sejajar.
Budaya boleh dihormati, tapi bukan menjadi alasan untuk memelihara ketimpangan.
Kita wajib menghargai orang tua. Tapi usia tidak membuat semua pendapat otomatis menjadi benar.
Pemimpin boleh dihormati. Tapi jabatan tidak boleh membuat kritik terlihat seperti dosa.
Tradisi boleh dijaga. Namun, manusia tidak boleh menjadi korban, supaya simbol tetap tampak agung.
Di titik ini, Tabooology berdiri sebagai gangguan yang diperlukan.
Ia tidak meminta orang menjadi kasar. Ia meminta orang berhenti berbohong pada dirinya sendiri.
Karena ada perbedaan besar antara menjaga adab dan memelihara ketakutan. Ada jarak lebar antara menghormati manusia dan menyembah posisi. Ada batas tegas antara kebijaksanaan dan kepengecutan yang diberi wewangian moral.
Mungkin kita terlalu lama hidup di negeri yang mengajarkan cara menunduk lebih cepat daripada cara bertanya. Diam pun sering naik kelas menjadi tanda kedewasaan. Padahal, apa yang selama ini kita sebut “aman” bisa saja hanya penjara yang penuh warna-warni kesopanan.
Dan mungkin, merdeka berpikir memang harus dimulai dari tindakan kecil yang paling sulit, yaitu berhenti meminta izin kepada rasa takut sendiri.
Berhenti Tunduk
Tabooology tidak datang untuk membuatmu merasa pintar, melainkan untuk menyadarkan kamu bahwa sebagian isi kepalamu mungkin bukan milikmu.
Di dalam kepalamu, banyak suara ikut tinggal. Suara keluarga yang dulu mengatur batas. Sekolah yang mengajari mana yang boleh dipikirkan. Atasan yang membuat kritik terasa berbahaya. Tradisi, mayoritas, dan kekuasaan juga ikut bicara, sampai kamu keliru mengira semua itu sebagai nurani sendiri.
Maka pertanyaannya adalah saat kamu diam, siapa yang sebenarnya bicara di dalam kepalamu?
Kalau jawabannya rasa takut, Feodalisme belum pergi. Ia hanya pindah alamat. Dari istana ke pikiranmu. Jadi, mau tetap menunduk atau berhenti tunduk? @tabooo







