Kesehatan mental sering dibicarakan seolah ini krisis baru. Padahal, yang berubah bukan hanya tekanan hidup. Cara kita berpikir ikut bergeser diam-diam. Dari tahan banting menjadi rapuh, dari berproses menjadi serba instan.
Tabooo.id: Deep – Fenomena kesehatan mental yang ramai dibicarakan hari ini sering terlihat seperti krisis yang berdiri sendiri. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, ada pola besar yang diam-diam berubah. Pola itu membentuk cara manusia berpikir, merespons tekanan, dan memaknai hidup.
Perubahan ini tidak terjadi tiba-tiba. Sebaliknya, ia bergerak pelan, mengikuti arus teknologi, pendidikan, dan budaya digital yang membentuk generasi baru.
Ketika “Aman” Justru Melemahkan
Salah satu riset dalam buku The Coddling of the American Mind menyoroti munculnya pola pikir yang disebut safetyism. Pola ini mendorong individu untuk memprioritaskan kenyamanan emosional di atas segalanya.
Sekilas, pendekatan ini terlihat positif. Namun, dalam praktiknya, banyak orang justru menjadi semakin sensitif terhadap tekanan. Akibatnya, tantangan kecil terasa seperti ancaman besar.
Sejak 2011, data menunjukkan lonjakan kecemasan dan depresi yang sejalan dengan meningkatnya penggunaan media sosial. Karena itu, fenomena ini bukan kebetulan. Perubahan ini mencerminkan cara baru otak dan emosi beradaptasi dengan dunia digital.
Di sisi lain, anak muda dengan growth mindset menunjukkan ketahanan yang lebih kuat. Mereka memiliki risiko depresi 30 hingga 50 persen lebih rendah. Dengan kata lain, bukan tekanan yang berubah drastis, tetapi cara memandang tekanan yang menentukan.
Otak yang Terbiasa Instan
Di era konten cepat seperti TikTok dan Reels, otak manusia terus mencari kepuasan instan. Setiap video pendek memicu lonjakan dopamin yang cepat.
Akibatnya, otak mulai terbiasa dengan hasil instan, bukan proses panjang. Bahkan, rentang perhatian manusia turun dari sekitar 12 detik pada tahun 2000 menjadi sekitar 8 detik hari ini.
Perubahan ini mungkin terlihat kecil. Namun, dampaknya besar. Proses belajar yang membutuhkan waktu kini terasa membosankan. Selain itu, aktivitas yang tidak memberi hasil cepat sering dianggap melelahkan secara mental.
Padahal, justru dalam proses panjang itulah pertumbuhan terjadi.
Rasa Tidak Berdaya yang Diam-Diam Tumbuh
Selain itu, ada perubahan lain yang lebih halus namun berbahaya, yaitu pergeseran locus of control.
Dulu, banyak orang percaya bahwa usaha pribadi menentukan hidup mereka. Namun sekarang, semakin banyak yang merasa hidup dikendalikan oleh faktor luar seperti ekonomi, sistem, bahkan algoritma.
Meta-analisis terhadap mahasiswa menunjukkan peningkatan signifikan pada external locus of control sejak tahun 1960-an. Artinya, semakin banyak individu merasa kehilangan kendali atas hidupnya sendiri.
Akibatnya, muncul pola learned helplessness. Dalam kondisi ini, seseorang berhenti berusaha karena merasa usahanya tidak akan mengubah apa pun.
Ini bukan sekadar perasaan. Sebaliknya, kondisi ini menjadi fondasi dari banyak masalah kesehatan mental saat ini.
Media Sosial: Masalahnya Ada pada Cara Pakai
Data dari McKinsey Health Institute menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 4 Gen Z mengalami tekanan mental berat akibat perbandingan sosial di media sosial.
Namun, masalah utamanya bukan pada teknologinya. Justru, perbedaannya terletak pada cara penggunaan.
Mereka yang aktif berinteraksi secara bermakna cenderung memiliki kesejahteraan lebih baik. Sebaliknya, penggunaan pasif seperti scrolling tanpa arah justru memperparah tekanan mental.
Dengan demikian, pertanyaannya bukan lagi soal teknologi. Pertanyaannya adalah bagaimana kita menggunakannya.
Dunia Kerja dan “Otot Mental” yang Hilang
Ketika masuk ke dunia kerja, tekanan menjadi semakin nyata. Data Deloitte tahun 2023 menunjukkan hampir setengah Gen Z merasa stres atau cemas sepanjang waktu.
Meski faktor ekonomi berperan, ada faktor lain yang lebih mendasar. Banyak individu tumbuh dalam sistem yang meminimalkan kegagalan.
Akibatnya, mereka tidak terbiasa menghadapi kritik atau tekanan nyata. Ketika akhirnya masuk ke lingkungan profesional yang kompetitif, mereka dipaksa menggunakan “otot mental” yang belum pernah dilatih.
Ini Bukan Sekadar Masalah Mental
Jika semua data ini disusun, terlihat satu pola yang jelas.
Kesehatan mental sering kali hanya menjadi gejala. Sementara itu, akar masalahnya terletak pada pola pikir yang berubah.
Pola pikir instan menurunkan daya tahan. Ketergantungan pada faktor luar menghilangkan rasa kendali. Selain itu, budaya yang terlalu melindungi membuat tantangan normal terasa berbahaya.
Dengan kata lain, ini bukan sekadar fenomena individu. Ini adalah perubahan sistemik.
Karena itu, pertanyaannya bukan lagi apakah ini terjadi. Pertanyaannya adalah ke mana arah perbaikannya.
Apakah kita perlu membenahi sistem pendidikan sejak awal. Atau justru mendorong individu untuk membangun kesadaran dan ketahanan dari dalam.
Pada akhirnya, cara kita berpikir akan menentukan cara kita bertahan. @jeje




