Rabu, Juli 22, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Pancasila di Mata Gen Z: Masih Hidup atau Sekadar Simbol?

by dimas
Juni 1, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter
Generasi Z masih mengenal dan memahami Pancasila. Namun, jarak antara nilai dan praktik membuat sebagian anak muda mulai mempertanyakan relevansinya di era modern.

Tabooo.id – Setiap 1 Juni, Indonesia merayakan Hari Lahir Pancasila. Upacara berlangsung khidmat. Para pejabat menyampaikan pidato kebangsaan. Garuda Pancasila menghiasi panggung-panggung resmi. Sementara itu, media sosial kembali dipenuhi kutipan tentang persatuan, toleransi, dan gotong royong.

Namun, perayaan selalu berhadapan dengan satu hal yang sulit dikendalikan: kenyataan.

Begitu seremoni berakhir, masyarakat kembali menghadapi persoalan sehari-hari. Di ruang digital, perbedaan pendapat sering berubah menjadi permusuhan. Di ruang publik, sebagian orang masih menghadapi tekanan ketika menyampaikan kritik. Pada saat yang sama, ketimpangan sosial dan ekonomi tetap menjadi keluhan yang berulang.

Situasi itulah yang mendorong generasi Z mengajukan pertanyaan penting: apakah Pancasila masih menjadi pedoman hidup bersama, atau sekadar simbol yang terus diperingati setiap tahun?

Pertanyaan itu lahir bukan karena mereka membenci Pancasila. Justru sebaliknya, mereka masih menaruh harapan besar pada nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Ini Belum Selesai

Papua Terus Berdarah: Saat Dialog Kalah oleh Senjata

AI Makin Pintar, Mengapa Manusia Justru Berhenti Berpikir?

Mereka Hafal, Mereka Paham, Mereka Menilai

Banyak orang menganggap generasi muda semakin jauh dari ideologi bangsa. Fakta di lapangan menunjukkan gambaran berbeda.

Survei nasional memperlihatkan sebagian besar generasi Z masih mengenal dan memahami Pancasila dengan baik. Kelompok usia muda bahkan mencatat tingkat pengenalan yang lebih tinggi dibandingkan beberapa kelompok usia lainnya.

Michael Ugrasena, siswa SMA Kolese Kanisius Jakarta, memandang Pancasila sebagai kompas moral yang tetap relevan. Menurutnya, nilai-nilai Pancasila dapat membantu anak muda menghadapi hoaks, polarisasi politik, perundungan digital, hingga perkembangan kecerdasan buatan.

Pandangan itu menunjukkan satu hal penting. Anak muda tidak mempersoalkan usia Pancasila. Mereka justru menyoroti jarak antara nilai yang diajarkan dan kenyataan yang mereka lihat setiap hari.

Sekolah mengajarkan toleransi. Akan tetapi, media sosial sering menampilkan kebencian. Negara berbicara tentang keadilan sosial. Namun, banyak warga masih kesulitan memperoleh kesempatan yang setara. Para pemimpin menyerukan persatuan, sementara konflik identitas terus muncul dalam berbagai momentum politik.

Kontras tersebut memunculkan kegelisahan yang nyata.

Yang Bermasalah Bukan Pancasila, Melainkan Keteladanan

Pancasila tidak sedang kehilangan relevansi.

Sebaliknya, sebagian masyarakat mulai meragukan keseriusan banyak pihak dalam menjalankan nilai-nilai tersebut.

Presiden Mahasiswa Universitas Khairun Ternate, M. Fatahuddin, melihat berbagai persoalan sosial sebagai bukti adanya jarak antara cita-cita dan praktik. Ketimpangan ekonomi, ancaman terhadap kebebasan berpendapat, serta ketidakadilan sosial membuat sebagian warga mempertanyakan arah kehidupan berbangsa saat ini.

Ironi muncul di berbagai sudut kehidupan.

Pemerintah mengampanyekan keadilan sosial, tetapi banyak masyarakat masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Negara mengajak rakyat menjaga persatuan, tetapi polarisasi terus menguat setiap kali suhu politik meningkat. Para elite berbicara tentang gotong royong, namun publik sering menyaksikan kepentingan kelompok berjalan lebih cepat daripada kepentingan bersama.

Karena itu, generasi muda mulai melakukan evaluasi.

Alih-alih menolak Pancasila, mereka menguji konsistensi penerapan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan nyata.

Ketika Kekecewaan Berubah Menjadi Sinisme

Keresahan anak muda tidak boleh dianggap remeh.

Peneliti senior BRIN, Lili Romli, mengingatkan pemerintah agar segera merespons kegelisahan tersebut. Jika jarak antara nilai dan praktik terus melebar, kekecewaan dapat berkembang menjadi sinisme. Dalam jangka panjang, sinisme berpotensi melahirkan antipati terhadap simbol dan institusi negara.

Perkembangan teknologi mempercepat proses itu.

Media sosial memungkinkan jutaan orang menyaksikan kontradiksi yang sama dalam waktu bersamaan. Setiap kegagalan menjaga kepercayaan publik dapat menyebar dalam hitungan detik. Setiap ketidaksesuaian antara ucapan dan tindakan pun langsung mendapat sorotan luas.

Kondisi tersebut menghadirkan tantangan baru bagi pemerintah dan para pemimpin.

Masyarakat tidak lagi membutuhkan slogan tambahan. Publik justru menunggu contoh nyata.

Pancasila Membutuhkan Bukti, Bukan Sekadar Peringatan

Tantangan terbesar saat ini bukan membuat generasi Z menghafal lima sila.

Tantangan sesungguhnya terletak pada kemampuan bangsa menghadirkan lima sila itu dalam kehidupan sehari-hari.

Pemimpin harus menunjukkan nilai kemanusiaan melalui kebijakan yang melindungi warga. Pemerintah perlu memperjuangkan keadilan sosial melalui program yang benar-benar menyentuh masyarakat. Seluruh elemen bangsa wajib menjaga persatuan dengan menghormati perbedaan. Pada saat yang sama, negara harus membuka ruang bagi kritik dan partisipasi publik.

Generasi Z tumbuh di era yang memberi akses luas terhadap informasi. Mereka terbiasa memeriksa klaim, membandingkan data, dan menguji konsistensi. Karena itu, kelompok muda tidak meminta kesempurnaan. Mereka hanya menuntut kesesuaian antara kata dan tindakan.

Bukan Sekadar Hari Lahir, Tetapi Ujian Kepercayaan

Hari Lahir Pancasila seharusnya menjadi momen refleksi bersama.

Bangsa ini perlu menilai kembali sejauh mana nilai-nilai Pancasila hadir dalam kebijakan, perilaku pemimpin, dan kehidupan masyarakat. Ancaman terbesar terhadap Pancasila bukan datang dari ideologi asing. Ancaman itu muncul ketika publik terus melihat jurang yang lebar antara pidato dan kenyataan.

Sebuah ideologi tidak kehilangan makna karena perdebatan.

Sebaliknya, sebuah ideologi mulai kehilangan daya hidup ketika masyarakat terus memujinya tetapi enggan menjalankannya.

Karena itu, pertanyaan terpenting pada usia Pancasila yang ke-81 bukanlah apakah generasi Z masih percaya kepada Pancasila.

Pertanyaan yang jauh lebih mendesak ialah apakah bangsa ini masih memberikan alasan yang cukup bagi mereka untuk mempertahankan kepercayaan itu? dan seluruh elemen bangsa masih memberikan alasan yang cukup bagi mereka untuk tetap percaya? @dimas

Tags: Dasar NegaraGenerasi ZHari Lahir PancasilaIdeologi BangsaIndonesiaNilai PancasilaPancasila

Kamu Melewatkan Ini

Istana Pastikan Belum Ada Reshuffle, Presiden Terus Evaluasi Kinerja Menteri

Istana Pastikan Belum Ada Reshuffle, Presiden Terus Evaluasi Kinerja Menteri

by teguh
Juli 21, 2026

Spekulasi perombakan kabinet atau Reshuffle kembali mencuat. Namun, Istana memastikan Presiden Prabowo Subianto belum mengambil langkah itu. Sebaliknya, Presiden memilih...

SIM Digital: Negara Menyimpan Identitasmu di Server, Sudah Siapkah Sistem Menjaganya?

SIM Digital: Negara Menyimpan Identitasmu di Server, Sudah Siapkah Sistem Menjaganya?

by teguh
Juli 21, 2026

Suatu hari nanti, orang mungkin tidak lagi panik karena dompet tertinggal di rumah dan SIM fisik ikut tertinggal karena sekarang...

SIM Digital: Dompet Tak Lagi Penting, Baterai Ponsel Jadi Penentu Perjalanan

SIM Digital: Dompet Tak Lagi Penting, Baterai Ponsel Jadi Penentu Perjalanan

by teguh
Juli 20, 2026

Lupa membawa dompet dulu identik dengan kepanikan. Kini, situasinya berubah. SIM fisik boleh tertinggal di rumah, selama smartphone masih berada...

Next Post
Aturan Pajak UMKM Berubah, CV dan PT Tak Lagi Masuk

Aturan Pajak UMKM Berubah, CV dan PT Tak Lagi Masuk

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id