Tabooo.id: Deep – Ledakan pertama terdengar seperti petir yang pecah terlalu dekat.
Tak lama berselang, lantai ikut terguncang oleh dentuman kedua.
Sementara itu, ledakan ketiga datang ketika sebagian orang belum sempat berdiri dari sujud.
Di sebuah bangunan setengah runtuh di utara Khan Younis, Aisha (28) menggendong anak bungsunya yang masih bernapas. Di lantai, tubuh anak sulungnya terbaring, tertutup debu putih dan darah yang mulai mengering.
Aisha tidak menjerit.
Tak ada pingsan.
Tak pula keluar teriakan memanggil nama Tuhan.
Perempuan itu hanya duduk sambil memandangi kehancuran yang tersisa.
Seorang tetangga menepuk bahunya, berharap mendapat respons. Namun, Aisha tetap diam. Di kejauhan, sirene ambulans meraung, lalu tenggelam oleh dengungan drone yang berputar di langit seperti serangga raksasa.
Beberapa jam kemudian, radio tua di sudut ruangan menyiarkan satu kalimat singkat:
“Gencatan senjata masih berlaku.”
Namun bagi Aisha, kalimat itu tidak memiliki arti.
Saat Kata “Damai” Kehilangan Makna
Pada Sabtu, 31 Januari 2026, gelombang serangan udara Israel menghantam Jalur Gaza. Sedikitnya 32 warga Palestina tewas. Di antara korban terdapat perempuan dan anak-anak. Selain itu, puluhan orang mengalami luka-luka, banyak di antaranya dalam kondisi kritis.
Militer Israel menyebut serangan tersebut sebagai respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata oleh Hamas. Sebaliknya, Hamas membantah tudingan itu.
Di atas kertas, perjanjian gencatan senjata masih berlaku.
Akan tetapi, di lapangan, langit Gaza tetap menyala.
Sejak Oktober 2025, saat kesepakatan diumumkan, ratusan warga sipil Palestina tetap kehilangan nyawa. Hingga kini, angka korban terus bertambah tanpa jeda berarti.
Bagi komunitas internasional, situasi ini disebut eskalasi.
Sementara bagi warga Gaza, inilah keseharian.
Rumah Sakit Menjadi Ruang Antara Hidup dan Mati
Di Kompleks Medis Al-Shifa, dokter Mohammed Abu Salmiya berdiri di lorong dengan lantai basah oleh campuran darah dan air. Seorang perawat lalu menarik lengannya.
“Dokter, ruang operasi penuh.” ujarnya.
Abu Salmiya mengangguk pelan. Ia sudah menduganya.
Tak lama kemudian, petugas membawa seorang bocah dengan luka di dada ke atas brankar. Napas anak itu pendek, sedangkan matanya terbuka tetapi kosong.
Di ruangan lain, seorang ayah memeluk jasad anak perempuannya yang terbungkus kain. Tangannya terus mengusap rambut putrinya, seolah gadis kecil itu hanya tertidur.
Lebih dari 30 korban luka membutuhkan perawatan segera. Namun rumah sakit kekurangan alat, obat, dan pasokan listrik.
Karena itu, rumah sakit tak lagi sekadar tempat penyembuhan.
Kini, ia berubah menjadi ruang tunggu antara hidup dan mati.
Di Tempat Lain, Orang Berbicara tentang Perdamaian
Ribuan kilometer dari Gaza, Wakil Ketua Komisi I DPR RI Sukamta berbicara kepada wartawan. Ia menyebut serangan Israel sebagai ujian nyata bagi Board of Peace (BoP), Dewan Perdamaian bentukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
BoP digadang-gadang sebagai terobosan baru.
Selain itu, lembaga ini diklaim mampu melampaui kebuntuan PBB.
Tak sedikit pihak menaruh harapan besar padanya.
Namun Sukamta mengajukan satu pertanyaan sederhana:
Di mana BoP ketika bom jatuh?
Menurutnya, setiap inisiatif perdamaian akan kehilangan makna jika tidak mampu menghentikan serangan terhadap warga sipil, pengungsi, dan anak-anak.
Pernyataan itu terdengar tegas.
Meski demikian, di Gaza, kata-kata tidak memadamkan api.
Anak-Anak yang Tumbuh Bersama Ledakan
Youssef berusia 13 tahun. Tahun lalu, sebuah roket menghantam rumahnya dan merenggut kaki kirinya. Sebelumnya, ia bercita-cita menjadi pemain sepak bola.
Kini, ia belajar berjalan menggunakan kruk buatan relawan.
Nama-nama pemain idolanya masih dihafal.
Di buku bekas, ia masih menggambar lapangan bola.
Namun setiap kali mendengar suara pesawat, tubuhnya menegang dan tangannya bergetar.
Bagi anak-anak Gaza, masa kecil bukan tentang dongeng sebelum tidur.
Sebaliknya, masa kecil mereka adalah daftar tempat berlindung.
Gencatan Senjata sebagai Ilusi
Secara konsep, gencatan senjata berarti jeda kekerasan.
Di Gaza, istilah itu hanya menandai fase ketika jumlah kematian sedikit lebih rendah.
Setiap pihak saling menuding.
Masing-masing membawa versinya sendiri.
Sementara itu, warga sipil memegang satu kebenaran sederhana:
mereka tetap mati.
Gencatan senjata tanpa mekanisme penegakan berubah menjadi janji kosong. Ia bergantung pada niat baik pihak bersenjata sesuatu yang cepat menguap dalam perang panjang.
Analisis Tabooo: Perdamaian dalam Kerangka Kekuasaan
Board of Peace lahir dari kritik terhadap sistem lama. Namun lembaga ini dibangun oleh aktor yang sama.
Di sinilah paradoks muncul.
Dewan baru, tetapi logika lama.
Perdamaian tetap dinegosiasikan oleh negara-negara besar dengan kepentingan geopolitik yang tidak berubah. Selama kekuatan militer lebih dihargai daripada nyawa sipil, lembaga apa pun akan kesulitan bekerja.
BoP tidak kekurangan konsep.
Akan tetapi, BoP berdiri di atas fondasi dunia yang belum menempatkan keadilan sebagai prioritas.
Hukum Tinggal Slogan
Hukum humaniter internasional menjanjikan perlindungan bagi warga sipil. Di Gaza, janji itu terasa seperti poster usang.
Tak ada mekanisme cepat.
Tak terlihat sanksi yang menakutkan.
Pun tak muncul efek jera.
Sukamta menyebut kondisi ini sebagai tebang pilih hukum.
Banyak warga Gaza menyebutnya lebih singkat dunia tidak peduli.
Indonesia dan Batas Suara Moral
Indonesia terus menyuarakan dukungan bagi Palestina. Pemerintah menyerukan penghentian kekerasan serta mengirim bantuan kemanusiaan.
Namun suara moral sering berhenti di podium.
Untuk menghentikan perang, dunia membutuhkan lebih dari pidato.
Diperlukan tekanan nyata.
Diperlukan keberanian menghadapi sekutu sendiri.
Di titik inilah banyak negara ragu.
Malam Kembali Turun di Gaza
Di Khan Younis, malam kembali menyelimuti puing-puing.
Aisha memandikan jasad anaknya dengan air dingin, lalu membungkus tubuh kecil itu dengan kain putih.
Ia tidak tahu apakah esok rumahnya masih berdiri.
Ia juga tidak tahu apakah anak bungsunya akan selamat.
Namun satu hal ia pahami ia harus bertahan satu malam lagi.
Di layar televisi dunia, pejabat berbicara tentang perdamaian.
Sementara itu, di Gaza, seorang ibu menguburkan anak.
Pertanyaan yang Tak Terelakkan
Jika Board of Peace gagal menghentikan bom saat gencatan senjata berlaku, kapan lembaga itu akan berfungsi?
Jika dunia membiarkan anak-anak mati sambil berbicara tentang proses, proses apa yang sebenarnya dijaga?
Di Gaza, orang-orang tidak meminta konsep besar.
Mereka hanya menginginkan satu hal sederhana, Besok pagi, tidak ada bom.
Dan mungkin, justru kesederhanaan itulah yang paling sulit diberikan dunia. @dimas




