Harga BBM naik lagi. Namun reaksi kita tidak lagi sekeras dulu. Kenaikan ini terasa seperti rutinitas, bukan kejutan.
Pertanyaannya sederhana: kamu memilih menerima, atau mulai mempertanyakan?
Tabooo.id: Talk – Setiap kali BBM naik, banyak orang kaget sebentar. Setelah itu, hidup berjalan seperti biasa. Di titik ini, kita perlu jujur: ini wajar, atau kita mulai terbiasa?
Narasi Lama yang Terus Diputar
Alasan kenaikan hampir selalu sama. Harga minyak global naik, lalu harga disesuaikan.
Secara logika, hal ini masuk akal.
Energi memang mengikuti pasar dunia.
Namun masalahnya bukan di sana.
Masalahnya ada pada cara kita merespons.
Normalisasi yang Terjadi Pelan-Pelan
Dulu, kenaikan BBM bisa memicu protes besar. Jalanan ramai dan suara publik terdengar kuat.
Sekarang berbeda.
Keluhan muncul di media sosial, lalu cepat hilang.
Apakah masyarakat makin dewasa?
Atau justru makin lelah untuk bereaksi?
Kita mulai menganggap kenaikan harga sebagai hal biasa.
Padahal dampaknya nyata.
Biaya hidup naik.
Tekanan ekonomi bertambah.
Ruang pilihan makin sempit.
Realistis atau Sudah Pasrah
Sebagian orang memilih realistis. Harga minyak dunia memang naik. Negara tidak bisa terus menahan harga.
Pendapat ini masuk akal.
Namun ada pertanyaan penting.
Mengapa dampak kenaikan terasa cepat, tetapi solusi datang lebih lambat?
Harga bisa naik dalam hitungan hari.
Sebaliknya, penyesuaian upah dan perlindungan sosial berjalan lambat.
Di sinilah letak konfliknya.
Kamu Tim Mana
Kamu mungkin berada di salah satu sisi ini.
Tim Maklum
“Memang sistemnya seperti ini.”
Tim Bertanya
“Sampai kapan kita harus terus menyesuaikan?”
Keduanya bisa dipahami.
Namun berhenti bertanya bukan pilihan yang aman.
Ini Bukan Sekadar BBM
Kenaikan BBM bukan hanya soal energi.
Ini tentang cara masyarakat menghadapi tekanan ekonomi yang berulang.
Apakah kita akan terus menyesuaikan diri?
Atau mulai mempertanyakan pola yang sama?
Saat sesuatu terus terjadi tanpa dipertanyakan,
ia berubah dari masalah menjadi kebiasaan.@eko





