Selasa, Mei 5, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

Fleksibilitas atau Eksploitasi Baru: Benarkah Pekerja Digital Sudah Merdeka?

by dimas
Mei 5, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter
Ketika kerja semakin fleksibel dan bebas dari kantor, kelelahan justru menjadi pengalaman paling umum bagi generasi pekerja hari ini. Di balik janji kemandirian ekonomi digital, muncul pertanyaan yang lebih mendasar apakah kebebasan kerja modern benar-benar membebaskan, atau justru melahirkan bentuk eksploitasi baru yang lebih halus?

Tabooo.id: Talk – Kapitalisme abad ke-21 menghadirkan wajah baru dunia kerja. Sistem ini tidak lagi menekan pekerja melalui mandor atau pabrik. Sistem bekerja melalui aplikasi, algoritma, dan logika produktivitas yang mendorong pekerja menekan dirinya sendiri. Filsuf Korea-Jerman Byung-Chul Han menyebut fenomena ini sebagai lahirnya “subjek prestasi”, yaitu generasi pekerja yang memandang keberhasilan dan kelelahan sebagai tanggung jawab pribadi.

Fenomena ini menandai perubahan besar dalam cara eksploitasi bekerja. Pada masa industri, pekerja berhadapan langsung dengan majikan. Kini banyak pekerja platform digital berhadapan dengan sistem tanpa wajah algoritma yang mengatur pekerjaan, menilai performa, dan menentukan penghasilan setiap hari. Eksploitasi paling efektif tidak selalu memaksa orang bekerja lebih keras. Eksploitasi justru bekerja lebih kuat ketika seseorang merasa sedang memilihnya sendiri.

Dari Pabrik ke Algoritma

Pada 1934, filsuf Prancis Simone Weil mengambil langkah yang mengejutkan banyak orang. Ia meninggalkan pekerjaannya sebagai guru lycée dan memilih bekerja sebagai buruh di pabrik logam selama satu tahun. Ia ingin memahami kehidupan buruh secara langsung, bukan hanya melalui teori.

Weil mencatat pengalaman tersebut dengan sangat rinci. Ia tidak hanya membahas upah rendah atau jam kerja panjang. Ia menyoroti sesuatu yang lebih dalam: kerja modern dapat membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri.

Hampir satu abad berlalu, tetapi kesaksian itu terasa semakin dekat dengan realitas hari ini.

Ini Belum Selesai

Dokter Semakin Banyak, Tapi Mengapa Kesejahteraan Semakin Tipis?

Berpikir Tanpa Bergerak: Ilusi Produktif yang Bikin Hidup Mandek

Pabrik memang berubah bentuk. Mesin industri digantikan oleh aplikasi digital, server, dan sistem algoritmik. Namun logika kerjanya tetap bertahan. Jika dulu tekanan datang dari luar melalui mandor atau atasan kini tekanan sering muncul dari dalam diri pekerja.

Dalam analisis Byung-Chul Han, perubahan ini menunjukkan karakter utama kapitalisme kontemporer. Dalam bukunya The Burnout Society, ia memperkenalkan konsep Leistungssubjekt atau “subjek prestasi”.

Konsep ini menggambarkan manusia modern yang terus mendorong dirinya bekerja lebih keras demi produktivitas. Sistem tidak lagi memerlukan paksaan langsung. Sistem membentuk individu yang mengawasi dan menekan dirinya sendiri.

Eksploitasi pun berpindah tempat:
dari pabrik ke kepala,
dari mandor ke algoritma.

Pekerja generasi sekarang jarang melihat majikan secara langsung. Mereka lebih sering berhadapan dengan aplikasi. Skor performa di layar ponsel menggantikan pengawasan manusia. Ketika skor menurun, banyak pekerja langsung menyalahkan diri sendiri.

Eksploitasi yang Tersamar

Kapitalisme tahap ini mencapai efektivitas baru. Sistem menyamarkan eksploitasi sebagai pilihan pribadi.

Seorang pengemudi ojek daring yang bekerja hingga empat belas jam sehari jarang menyebut dirinya dipaksa sistem. Ia lebih sering mengatakan performanya hari itu kurang baik.

Seorang pekerja kreatif lepas yang membalas pesan klien pada pukul sebelas malam juga jarang menyebut dirinya dieksploitasi. Ia menyebut aktivitas itu sebagai upaya “membangun jejaring”.

Perubahan cara berpikir ini tidak muncul secara kebetulan.

Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu menyebut proses ini sebagai kekerasan simbolik. Dominasi bekerja secara halus melalui bahasa, kebiasaan, dan cara berpikir. Orang yang berada dalam sistem bahkan ikut mengulang logika yang menekan mereka.

Pada masa industri, buruh mengetahui siapa lawannya. Pemilik pabrik, mandor, atau kebijakan perusahaan menjadi sasaran kemarahan. Dari situ solidaritas tumbuh. Serikat buruh berkembang karena para pekerja menghadapi musuh yang sama.

Ekonomi platform mengubah situasi tersebut.

Algoritma tidak dapat bernegosiasi.
Aplikasi tidak mengenal mogok kerja dalam arti klasik.
Pengemudi yang berhenti di lampu merah yang sama justru bersaing memperebutkan pesanan.

Fleksibilitas dan Hegemoni

Ekonomi platform sering menawarkan satu janji utama: fleksibilitas.

Pekerja dapat menentukan jam kerja.
Perusahaan tidak menempatkan atasan langsung.
Perusahaan menyebut pekerja sebagai “mitra”.

Klaim tersebut memang mengandung sebagian kebenaran. Namun pemikir Italia Antonio Gramsci menjelaskan bahwa hegemoni bekerja melalui kebenaran parsial. Sistem menonjolkan satu sisi kenyataan sambil menutupi sisi lainnya.

Fleksibilitas memang hadir. Namun berbagai perlindungan kerja justru menghilang.

Banyak pekerja platform tidak memperoleh jaminan kesehatan, hari libur berbayar, masa pensiun, atau perlindungan sosial yang dulu diperjuangkan gerakan buruh selama puluhan tahun.

Dengan kata lain, “kemerdekaan kerja” sering berarti berkurangnya jaring pengaman sosial.

Generasi muda akhirnya memasuki dunia kerja yang kehilangan banyak perlindungan. Ironisnya, banyak orang justru menganggap kondisi ini sebagai bentuk kebebasan.

Reruntuhan sistem lama diberi nama baru: fleksibilitas.

Bahasa dan Politik Pekerjaan

Bahasa memainkan peran penting dalam perubahan ini.

Istilah yang digunakan untuk menyebut pekerjaan menentukan hak apa yang dapat diperjuangkan.

“Mitra” tidak memiliki perlindungan yang sama dengan “buruh”.
“Rekan” tidak memiliki jaminan yang sama dengan “karyawan”.
“Freelancer” tidak memiliki basis kolektif yang sama dengan “pekerja”.

Perubahan istilah ini bukan sekadar perkembangan bahasa. Perubahan ini juga menyembunyikan hubungan kerja yang sebenarnya. Ketika hubungan kerja menjadi kabur, hak-hak pekerja ikut melemah.

Situasi ini memunculkan pertanyaan besar: bagaimana pekerja membangun gerakan kolektif ketika sistem memecah mereka menjadi individu-individu yang terisolasi?

Pada masa lalu, pabrik menjadi ruang pertemuan pekerja. Kini ruang itu sering berpindah ke forum daring atau grup percakapan digital.

Gerakan pekerja abad ke-21 perlu menemukan bahasa baru yang mampu menjelaskan kondisi tersebut.

Menemukan Kembali Kesadaran Kolektif

Kapitalisme kontemporer menanamkan satu keyakinan kuat: kelelahan merupakan masalah pribadi.

Banyak orang percaya bahwa burnout muncul karena manajemen waktu yang buruk. Mereka mencari solusi melalui aplikasi meditasi, kursus produktivitas, atau pelatihan pengembangan diri.

Pendekatan tersebut sering mengabaikan satu fakta penting: banyak bentuk kelelahan muncul dari struktur kerja yang tidak adil.

Sejarah menunjukkan bahwa kelelahan kolektif sering memicu kesadaran bersama. Kesadaran tersebut kemudian melahirkan gerakan yang mendorong perubahan sosial.

Karena itu, tantangan intelektual hari ini bukan sekadar memahami kelelahan pekerja. Tantangan utamanya adalah menerjemahkan pengalaman tersebut ke dalam bahasa yang dapat dibagikan bersama.

Kelelahan yang tidak memiliki nama akan selalu terlihat sebagai kegagalan individu.

Sebaliknya, kelelahan yang memiliki nama dapat membuka jalan menuju kesadaran kolektif. Sepanjang sejarah dunia kerja, kesadaran kolektif inilah yang paling sering mendorong perubahan.

Di tengah masyarakat yang mempromosikan kesepian sebagai kemandirian, menemukan kembali rasa kolektif mungkin menjadi pekerjaan politik paling penting bagi generasi pekerja hari ini. @dimas

Tags: algoritma kerjaburnout societyekonomi platformeksploitasi modernfleksibilitas kerjagig economykapitalisme abad 21pekerja digitalpekerja gig

Kamu Melewatkan Ini

Burnout Society: Kelelahan Modern dan Perang Melawan Diri Sendiri

Burnout Society: Kelelahan Modern dan Perang Melawan Diri Sendiri

by dimas
Mei 5, 2026

Laporan ini menyoroti peningkatan kelelahan mental yang muncul akibat tuntutan produktivitas, tekanan untuk selalu “naik level”, dan budaya kerja tanpa...

Bagaimana Kelanjutan Perpres Ojol di Tengah Ekonomi Gig?

Bagaimana Kelanjutan Perpres Ojol di Tengah Ekonomi Gig?

by dimas
Mei 3, 2026

Jakarta Presiden Prabowo Subianto mengumumkan Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2026 tentang Perlindungan Pekerja Transportasi Online dalam peringatan Hari Buruh...

Gig Economy Indonesia: Fleksibel atau Eksploitasi Gaya Baru?

Gig Economy Indonesia: Fleksibel atau Eksploitasi Gaya Baru?

by Naysa
April 30, 2026

Gig economy Indonesia tumbuh cepat dan menjanjikan fleksibilitas yang terasa menggiurkan. Namun di balik kebebasan itu, pekerja justru menghadapi pendapatan...

Next Post
Ketika Celurit Naik Kelas: Dari Ladang Madura ke Layar Hollywood

Ketika Celurit Naik Kelas: Dari Ladang Madura ke Layar Hollywood

Pilihan Tabooo

Buku, Diskusi, dan Anak Muda: Cara Komunitas Madiun Book Party Menghidupkan Literasi Kota

Buku, Diskusi, dan Anak Muda: Cara Komunitas Madiun Book Party Menghidupkan Literasi Kota

Mei 3, 2026

Realita Hari Ini

Jual Beli Titik Dapur MBG Mengemuka, Siapa Bermain di Program Makan Gratis?

Jual Beli Titik Dapur MBG Mengemuka, Siapa Bermain di Program Makan Gratis?

Mei 5, 2026

Jurnalis di Papua Terus Diteror, Kebebasan Pers Masih Sekadar Janji?

Mei 5, 2026

Virus Langka Pecah di Laut: 3 Tewas, Dunia Mulai Khawatir

Mei 5, 2026

Saat Dunia Guncang, Barito Pacific Justru Tancap Gas 200% Lebih

Mei 5, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id