Selasa, Mei 5, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

Burnout Society: Kelelahan Modern dan Perang Melawan Diri Sendiri

by dimas
Mei 5, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Laporan ini menyoroti peningkatan kelelahan mental yang muncul akibat tuntutan produktivitas, tekanan untuk selalu “naik level”, dan budaya kerja tanpa jeda yang kini menjadi normal. Laporan ini juga menegaskan satu hal yang semakin jelas kita tidak lagi hanya berhadapan dengan individu yang merasa lelah, tetapi juga menghadapi sistem modern yang secara aktif membentuk manusia untuk terus bergerak, bahkan ketika dirinya sudah runtuh dari dalam.

Tabooo.id: Deep – Fenomena burnout society yang dibahas Byung-Chul Han kini semakin terasa dalam keseharian masyarakat urban Indonesia. Terutama generasi muda yang tumbuh di tengah budaya hustle, target tanpa akhir, dan dorongan untuk selalu tampil produktif di ruang digital. Di satu sisi, narasi “ayo bisa lebih” terdengar seperti motivasi. Namun di sisi lain, narasi itu perlahan berubah menjadi tekanan halus yang bekerja terus-menerus dalam kesadaran.

Selain itu, batas antara kerja, identitas diri, dan istirahat semakin kabur. Orang-orang tidak lagi bekerja karena diperintah dari luar, tetapi mereka mendorong diri mereka sendiri untuk terus membuktikan nilai diri.

Akibatnya, mereka tidak lagi membaca kelelahan sebagai tanda untuk berhenti. Sebaliknya, mereka menganggap kelelahan sebagai tantangan yang harus mereka taklukkan.

Di tengah ritme itu, malam sering kehilangan ketenangannya. Pikiran tetap berjalan bahkan ketika tubuh sudah berhenti. Dalam kondisi seperti itu, The Burnout Society karya Byung-Chul Han tidak hadir sebagai bacaan biasa, tetapi sebagai cermin yang memantulkan kembali cara kita menjalani hidup hari ini.

Lebih jauh, cahaya layar laptop yang dingin dan notifikasi yang terus muncul memperkuat satu kesadaran yang tidak nyaman. Kita tidak sedang dikejar orang lain. Kita justru terus mengejar diri kita sendiri.

Dan pada titik itu, kelelahan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam dari sekadar rasa capek.

Ini Belum Selesai

Hari Kebebasan Pers Sedunia: Benarkah Pers Indonesia Sudah Merdeka?

Dari Gudang ke Global: Perjalanan Sunyi Virus Hanta

Dari Penjara Larangan ke Penjara “Bisa”

Pada masa lalu, kekuasaan bekerja melalui larangan yang jelas. Orang dapat menunjuk langsung siapa yang menekan mereka. Dunia memiliki batas yang tegas antara yang boleh dan yang tidak boleh.

Namun, Han menunjukkan bahwa pola itu telah bergeser.

Kini, masyarakat bergerak dalam logika kinerja. Dorongan tidak lagi datang dalam bentuk perintah, tetapi dalam bentuk motivasi: lebih cepat, lebih baik, lebih sukses.

Yang lebih penting, dorongan itu tidak lagi datang dari luar. Kita justru membentuknya sendiri di dalam pikiran kita.

Dengan demikian, kebebasan dan tekanan mulai menyatu dalam satu ruang yang sama.

Ketika Kebebasan Berubah Menjadi Beban

Di permukaan, kondisi ini tampak seperti kebebasan penuh. Tidak ada pihak yang melarang seseorang untuk berkembang atau berambisi. Namun di balik itu, muncul beban baru yang lebih halus: rasa bersalah ketika seseorang berhenti.

Seiring waktu, orang-orang tidak lagi memahami kelelahan sebagai sinyal biologis yang meminta istirahat. Kelelahan justru berubah menjadi ukuran kegagalan pribadi.

Karena itu, Han menyebut kondisi ini sebagai kelelahan eksistensial. Kelelahan ini tidak muncul karena dunia terlalu keras, tetapi karena manusia menekan dirinya sendiri terlalu jauh.

Budaya hustle, target tanpa akhir, dan tuntutan untuk terus naik level membuat banyak orang menganggap diam sebagai kemunduran.

Akibatnya, istirahat kehilangan maknanya sebagai ruang pemulihan yang murni.

Eksploitasi yang Paling Halus: Diri Sendiri

Perubahan paling penting yang Han jelaskan terletak pada sumber tekanan itu sendiri.

Jika dulu eksploitasi datang dari luar, kini eksploitasi bergerak ke dalam diri. Tidak ada lagi musuh yang jelas. Sebaliknya, manusia menjalankan sekaligus menerima tekanan dari dirinya sendiri.

Kita bekerja bukan hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk membuktikan bahwa kita pantas hidup.

Dengan kata lain, sistem tidak lagi memaksa secara langsung. Sistem bekerja melalui keinginan yang kita anggap sebagai pilihan.

Karena itu, eksploitasi terasa wajar, bahkan alami, padahal ia sudah menjadi kebiasaan yang terus kita ulang.

Ketika Istirahat Pun Ikut Diproduksi

Lebih jauh lagi, bahkan istirahat tidak lagi berdiri di luar logika produktivitas.

Saat ini, banyak orang mengubah jeda menjadi strategi peningkatan performa. Mereka tidak lagi berhenti untuk benar-benar berhenti, tetapi untuk mengembalikan energi agar bisa bekerja lebih baik.

Meditasi, healing, dan self-care sering bergerak ke arah yang sama: meningkatkan performa berikutnya.

Dengan demikian, bahkan diam pun kehilangan sifat bebasnya.

Pada akhirnya, pertanyaan sederhana muncul: kapan manusia benar-benar berhenti?

Kita Kaya Informasi, tetapi Kehilangan Kedalaman

Selain kelelahan fisik dan mental, Han juga menyoroti perubahan cara kita memperhatikan dunia.

Manusia kini hidup dalam banyak lapisan perhatian yang berjalan bersamaan. Kita berpindah dari satu notifikasi ke notifikasi lain, dari satu layar ke layar lain, tanpa benar-benar tinggal di satu titik.

Akibatnya, perhatian tidak pernah menjadi utuh.

Kita memang mengonsumsi lebih banyak informasi, tetapi kita kehilangan ruang untuk memahami makna secara mendalam.

Dengan demikian, kelelahan juga muncul dalam cara kita berpikir.

Twist: Ini Bukan Sekadar Burnout, Ini Pola Hidup

Jika dilihat lebih jauh, kondisi ini tidak lagi bisa disebut sekadar burnout.

Sebaliknya, ini sudah menjadi pola hidup yang kita jalankan setiap hari.

Kita tidak lagi bertanya apa yang cukup. Kita terus bertanya apa yang masih bisa ditambahkan.

Oleh karena itu, batas antara diri dan proyek hidup semakin hilang. Kita tidak hanya menjalani hidup, tetapi juga mengelola diri seperti proyek yang harus terus berkembang.

Human Impact: Kamu Tidak Mengalami Ini Sendiri

Jika kamu merasa lelah tanpa alasan yang jelas, hal itu tidak selalu berarti ada sesuatu yang salah dengan dirimu.

Sebaliknya, kamu mungkin sedang hidup di dalam sistem yang tidak pernah mengajarkan cara untuk berhenti.

Selain itu, berhenti sejenak tidak selalu berarti mundur. Justru, itu bisa menjadi cara paling sederhana untuk kembali menyadari diri sendiri.

Closing: Pulang, Bukan Menang

Pada akhirnya, semua dorongan untuk menjadi “lebih” membawa kita pada satu pertanyaan yang sering kita hindari:

kapan terakhir kali kita merasa cukup?

Mungkin kita tidak perlu terburu-buru menjawabnya.

Namun satu hal menjadi jelas tidak semua hal perlu dikejar, dan tidak semua diri perlu ditingkatkan.

Sebagian hidup hanya perlu dijalani, bukan dioptimalkan.

Dengan begitu, pulang pada diri sendiri mungkin bukan kekalahan. Justru, itu bisa menjadi bentuk kemenangan paling sunyi yang tidak pernah dunia yang terlalu sibuk ini ajarkan. @dimas

Tags: burnout societyHustle CultureKelelahan Mentalmental healthModern SocietyOverwork CultureSelf ExploitationToxic ProductivityWork Life Balance

Kamu Melewatkan Ini

Fleksibilitas atau Eksploitasi Baru: Benarkah Pekerja Digital Sudah Merdeka?

Fleksibilitas atau Eksploitasi Baru: Benarkah Pekerja Digital Sudah Merdeka?

by dimas
Mei 5, 2026

Ketika kerja semakin fleksibel dan bebas dari kantor, kelelahan justru menjadi pengalaman paling umum bagi generasi pekerja hari ini. Di...

Penyakit Baru Generasi Online, Saat AI Jadi Tempat Pelarian Pikiran

Penyakit Baru Generasi Online, Saat AI Jadi Tempat Pelarian Pikiran

by Anisa
April 29, 2026

Curhat ke chatbot kini terasa normal. Cepat, murah, dan selalu tersedia. Namun di balik kenyamanan itu, para ahli mulai melihat...

9 to 5 tapi Hidup Nggak Naik?

9 to 5 tapi Hidup Nggak Naik?

by Waras
April 25, 2026

Setiap pagi kamu bangun, berangkat kerja, lalu pulang dengan rasa lelah yang sama. Gaji tetap masuk, rutinitas tetap jalan tapi...

Next Post
Saat Dunia Tertekan, Saham Energi Justru Bersinar

Saat Dunia Tertekan, Saham Energi Justru Bersinar

Pilihan Tabooo

Buku, Diskusi, dan Anak Muda: Cara Komunitas Madiun Book Party Menghidupkan Literasi Kota

Buku, Diskusi, dan Anak Muda: Cara Komunitas Madiun Book Party Menghidupkan Literasi Kota

Mei 3, 2026

Realita Hari Ini

Jual Beli Titik Dapur MBG Mengemuka, Siapa Bermain di Program Makan Gratis?

Jual Beli Titik Dapur MBG Mengemuka, Siapa Bermain di Program Makan Gratis?

Mei 5, 2026

Jurnalis di Papua Terus Diteror, Kebebasan Pers Masih Sekadar Janji?

Mei 5, 2026

Virus Langka Pecah di Laut: 3 Tewas, Dunia Mulai Khawatir

Mei 5, 2026

Saat Dunia Guncang, Barito Pacific Justru Tancap Gas 200% Lebih

Mei 5, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id