Gunung sampah setinggi belasan lantai berdiri di pinggir Jakarta. Truk-truk datang tanpa henti, membawa ribuan ton sampah setiap hari ke satu tempat yang sama Bantargebang. Di sana, sisa kehidupan kota menumpuk, menggunung, dan perlahan berubah menjadi lanskap baru.
Tabooo.id: Life – Pagi di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang dimulai dengan antrean truk yang mengular di pintu masuk. Kendaraan-kendaraan itu bergerak pelan, menunggu giliran menimbang muatan sebelum menumpahkan isi perutnya ke gunungan sampah yang kini menjulang hingga sekitar 40 meter.
Bagi Jakarta, Bantargebang menjadi titik akhir perjalanan sampah. Namun bagi warga yang tinggal di sekitarnya, gunung sampah itu bukan sekadar statistik darurat lingkungan melainkan pemandangan sehari-hari yang terus tumbuh di depan rumah mereka.
Antrean Truk dan Ritme Sampah Kota
Pagi di TPST Bantargebang hampir selalu menghadirkan pemandangan yang sama. Deretan truk sampah berwarna kusam mengular di pintu masuk kawasan. Kendaraan-kendaraan itu bergerak pelan seperti barisan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Mesin truk meraung pelan. Sopir menghentikan kendaraan di timbangan untuk mencatat berat muatan yang mereka bawa dari berbagai sudut Jakarta. Setelah itu, petugas mengarahkan truk menuju zona pembuangan.
Di sana, sopir membuka bak belakang dan menjatuhkan muatan plastik, sisa makanan, kertas, serta berbagai jejak kehidupan kota ke hamparan sampah yang terus meninggi.
Ritme ini berulang setiap hari, hampir tanpa jeda.
Sebagian sopir berhenti sejenak setelah menurunkan muatan. Mereka mencuci kendaraan di area khusus sebelum keluar dari kawasan. Namun banyak sopir langsung kembali ke jalan untuk menjemput tumpukan sampah berikutnya dari ibu kota.
Di kejauhan, alat berat berwarna kuning bekerja tanpa henti. Operator menggerakkan beko untuk mengeruk, meratakan, lalu memindahkan sampah dari satu titik ke titik lain. Dari kejauhan, pemandangan itu menyerupai bukit buatan manusia gunungan sampah yang terus tumbuh setiap hari.
Pembatasan Truk, Sampah Tetap Menggunung
Seorang petugas TPST Bantargebang mengatakan pengelola kini membatasi jumlah truk yang masuk setiap hari.
“Biasanya TPST Bantargebang menerima sekitar 1.200 sampai 1.300 truk per hari. Sekarang kami batasi sekitar 600 sampai 900 truk,” ujarnya.
Pembatasan itu menurunkan volume sampah yang masuk. Catatan April 2026 menunjukkan Bantargebang menerima sekitar 7.120 ton sampah per hari.
Pengelola juga membagi operasional dalam tiga shift kerja agar arus kendaraan tidak menumpuk dalam satu waktu.
Namun pembatasan tersebut tidak mengubah satu kenyataan besar: gunungan sampah di Bantargebang sudah menjulang sangat tinggi.
Tumpukan sampah itu kini mencapai sekitar 40 meter setara belasan lantai gedung.
Hidup di Bawah Bayang Gunung Sampah
Perubahan lanskap itu terasa jelas bagi warga yang tinggal di sekitar lokasi. Salah satunya Jay (nama samaran), yang rumahnya berdiri hanya beberapa meter dari area pembuangan.
“Dulu pembuangan itu kan dalam. Sekarang tingginya sudah tinggi banget, sekitar 35 sampai 40 meter. Udah kayak di puncak,” kata Jay.
Gunung sampah itu tidak hanya mengubah pemandangan. Ia juga membawa bau khas campuran sisa makanan, plastik basah, dan limbah rumah tangga yang membusuk.
Namun Jay mengaku sudah terbiasa dengan aroma itu.
“Kalau udara kayaknya sama saja. Paling kalau musim hujan rada bau karena basah,” ujarnya.
“Enggak terlalu menyengat buat saya, karena sudah biasa.”
Bau biasanya menguat ketika truk membawa sampah basah dari pasar. Jay bahkan bisa mengenali aroma itu sebelum kendaraan melintas di depan rumahnya.
“Kecuali kalau ada sampah dari Pasar Induk lewat. Itu memang baunya terasa,” katanya.
Meski tinggal sangat dekat dengan gunungan sampah, Jay mengaku tidak mengalami gangguan kesehatan serius. Ia lebih sering mengalami keluhan ringan seperti meriang.
“Paling sakit biasa saja, meriang kalau kehujanan,” ujarnya.
Darurat Sampah Jakarta
Cerita Bantargebang tidak hanya menggambarkan kehidupan warga di sekitar gunungan sampah. Tempat ini juga mencerminkan persoalan besar pengelolaan sampah Jakarta.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menilai kondisi tersebut sudah memasuki tahap darurat.
Menurutnya, Jakarta menghasilkan lebih dari 9.000 ton sampah setiap hari. Dari jumlah itu, sekitar 87 persen masih bergantung pada sistem pembuangan terbuka seperti Bantargebang metode yang dinilai sudah melampaui kapasitasnya.
“Kalau diukur, Bantargebang itu seperti gedung 16 sampai 17 lantai,” kata Zulkifli Hasan.
Gunung sampah itu tidak lagi menjadi persoalan daerah semata. Pemerintah pusat juga memberi perhatian khusus pada kondisi tersebut. Presiden Prabowo Subianto bahkan disebut terus memantau perkembangan persoalan ini.
“Kami hampir setiap minggu ditelepon soal sampah, terutama Bantargebang,” ujarnya.
Namun di tengah pembicaraan tentang kebijakan, angka statistik, dan status darurat, kehidupan di Bantargebang tetap berjalan seperti biasa.
Truk-truk terus datang.
Beko-beko terus bekerja.
Gunung sampah terus tumbuh.
Dan bagi sebagian warga seperti Jay, bau yang dulu terasa asing kini telah menjadi bagian dari udara yang mereka hirup setiap hari. @dimas





