Rabu, Mei 13, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Desa Dibiarkan Mengurus Sampah Sendiri, Lalu Negara Mengurus Apa?

by teguh
Mei 8, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Pagi di Jalan Raya Dusun Seruni, Desa Banjartanggul, selalu datang bersama bau menyengat. Sebelum kendaraan melintas ramai, tumpukan sampah sudah lebih dulu memenuhi pinggir jalan.

Tabooo.id – Warga sebenarnya tidak sedang menghadapi masalah baru. Mereka hidup berdampingan dengan gunungan sampah liar hampir tiga tahun tanpa sistem pengelolaan yang jelas. Tumpukan sampah liar di pinggir Jalan Raya Dusun Seruni, Desa Banjartanggul, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, kembali memicu keresahan warga. Sampah rumah tangga yang menumpuk tinggi memunculkan bau tajam hampir setiap hari, terutama saat cuaca panas.

Irfan (34), pengguna jalan yang rutin melintas menuju kawasan industri Ngoro, mengaku kondisi itu mengganggu aktivitasnya.

“Setiap hari saya lewat sini untuk kerja. Bau dari sampah itu kadang sangat menyengat, apalagi saat panas. Selain tidak enak dipandang, ini juga mengganggu kenyamanan pengguna jalan,” ujarnya, Rabu, 22/04/2026.

Namun persoalannya tidak berhenti pada aroma busuk di pinggir jalan.

Warga setempat, Buadi (56), mengatakan praktik pembuangan sampah liar sudah berlangsung sekitar tiga tahun. Aktivitas itu muncul hampir setiap hari, baik pagi maupun malam.

Ini Belum Selesai

Hustle Culture Gen Z: Agar Sukses atau Terlihat Sukses?

Perempuan Pembela HAM: Demokrasi Butuh Mereka, Kekuasaan Takut Suara Mereka

“Siang hari sudah menumpuk, kadang juga ada yang membakar,” katanya.

Kalimat itu membuka persoalan yang lebih besar: desa berjalan tanpa sistem pengelolaan limbah yang layak.

Buadi menjelaskan warga kampungnya tidak memiliki fasilitas pengangkutan sampah. Kondisi itu membuat sebagian warga memilih membuang sampah ke pinggir jalan.

“Di kampung kami tidak ada fasilitas angkut sampah. Warga mungkin bingung mau buang ke mana,” tambahnya.

Krisis yang Tumbuh Pelan-Pelan

Pengamat lingkungan dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, Dimas Prasetyo, menilai persoalan sampah liar di desa bukan sekadar perilaku warga. Ia melihat masalah itu sebagai kegagalan sistem pengelolaan lingkungan tingkat lokal.

“Kalau sampah liar berlangsung bertahun-tahun, berarti pemerintah gagal menghadirkan sistem dasar lingkungan. Warga akhirnya mencari jalan sendiri, meski caranya salah,” ujarnya kepada Tabooo.id, Kamis, 23/04/2026.

Menurut Dimas, banyak desa masih menganggap sampah sebagai masalah kecil. Padahal, limbah rumah tangga dan pembakaran liar bisa memicu gangguan kesehatan serius dalam jangka panjang.

“Asap pembakaran sampah membawa partikel berbahaya. Kalau warga menghirupnya terus-menerus, risiko gangguan pernapasan ikut meningkat,” katanya.

Sosiolog lingkungan dari Universitas Airlangga, Dr. Rina Wibowo, juga melihat pola pembiaran dalam kasus tersebut.

“Masyarakat akhirnya menganggap kondisi itu biasa karena mereka melihat tumpukan sampah setiap hari tanpa penanganan serius,” ujarnya.

Menurutnya, pembiaran yang berlangsung lama membentuk kebiasaan sosial baru.

“Warga akhirnya hidup bersama bau, asap, dan pencemaran. Padahal semua itu tidak normal,” katanya.

Pemerintah Bergerak Setelah Sorotan Muncul

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mojokerto, Rachmat Suharyono, mengatakan pihaknya akan menggelar kerja bakti bersama warga dan pemerintah desa pada Jumat, 24 April 2026.

“TRC DLH besok akan melakukan giat bersama dengan warga dan kades terkait penanganan sampah liar di jalan raya tersebut,” katanya, Kamis, 23 April 2026.

Langkah itu memang penting. Namun publik masih menyimpan pertanyaan besar. Kenapa penanganan baru muncul setelah persoalan ramai dibicarakan?

Akademisi kebijakan publik dari Universitas Brawijaya, Prof. Hendra Kusuma, menilai banyak pemerintah daerah masih memakai pola reaktif dalam menangani persoalan lingkungan.

“Pemerintah biasanya bergerak setelah masalah viral atau setelah keluhan publik membesar. Padahal pengelolaan sampah harus masuk perencanaan jangka panjang,” ujarnya.

Ia juga meminta pemerintah desa membuka informasi soal anggaran lingkungan kepada publik.

“Masyarakat berhak mengetahui apakah APBDes menyediakan anggaran pengelolaan sampah dan bagaimana realisasinya,” katanya.

Sampah yang Mengubah Cara Warga Hidup

Budayawan Mojokerto, Arif Setiawan, menilai persoalan sampah selalu berkaitan dengan cara negara memperlakukan warganya.

“Cara sebuah daerah memperlakukan sampah menunjukkan cara mereka memperlakukan manusia,” ujarnya.

Menurut Arif, tumpukan sampah liar yang terus muncul selama bertahun-tahun mengirim pesan bahwa warga desa harus bertahan sendiri menghadapi krisis lingkungan.

Ironisnya, masyarakat menanggung dua beban sekaligus.

Mereka menerima dampak pencemaran setiap hari. Tapi pada saat yang sama, mereka juga hidup tanpa fasilitas pengelolaan sampah yang memadai.

Dan di titik itu, persoalannya tidak lagi sederhana. Ini bukan sekadar tumpukan sampah. Ini potret desa yang perlahan terbiasa hidup di tengah pembiaran.

Desa Belajar Bertahan Sendiri Saat Sistem Tak Pernah Benar-Benar Datang

“Ketika sampah harus menunggu viral untuk dibersihkan, mungkin yang sebenarnya membusuk bukan cuma limbah, tapi rasa tanggung jawab.”

Tags: Krisis LingkunganLingkungan

Kamu Melewatkan Ini

Darurat Sampah Nasional Sudah Terjadi, Tapi Kenapa Seolah Tak Ada yang Peduli?

Darurat Sampah Nasional Sudah Terjadi, Tapi Kenapa Seolah Tak Ada yang Peduli?

by dimas
Mei 8, 2026

Indonesia tengah menghadapi krisis senyap yang tidak meledak dalam sekejap, tetapi terus menumpuk setiap hari sampah yang mencapai 143 ribu...

Kota Membuang, Bantargebang Menanggung: Kisah Hidup di Bawah Gunung Sampah

Bantargebang: Antara Gunung Sampah dan Kehidupan Warga Sekitar

by dimas
Mei 6, 2026

Gunung sampah setinggi belasan lantai berdiri di pinggir Jakarta. Truk-truk datang tanpa henti, membawa ribuan ton sampah setiap hari ke...

Darurat Sampah Nasional: Indonesia Tenggelam dalam 130 Ribu Ton Limbah Setiap Hari?

Darurat Sampah Nasional: Indonesia Tenggelam dalam 130 Ribu Ton Limbah Setiap Hari?

by dimas
Mei 7, 2026

Di satu sisi, manusia terus membangun kota, industri, dan peradaban modern. Namun di sisi lain, gunungan sampah tumbuh diam-diam, menggunung...

Next Post
Apa Film Harus Selalu Punya Ending Besar untuk Dianggap Bagus?

Apa Film Harus Selalu Punya Ending Besar untuk Dianggap Bagus?

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

Rupiah Anjlok ke Rp 17.500 per Dolar AS, Investor Mulai Kehilangan Kepercayaan

Mei 12, 2026

Kuota Tanpa Batas? Nyaman Buat Kamu, Tapi Jaringan Bisa Kewalahan

Mei 8, 2026

Sekolah Rakyat di Kupang: Jalan Baru Anak Miskin Keluar dari Batas Pendidikan?

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id