Tan Malaka kerap dicap komunis dan antiagama. Namun benarkah demikian? Menelusuri gagasan, Islam, sosialisme, dan stigma yang melekat pada dirinya.
Tabooo.id – Nama Tan Malaka selalu memicu perdebatan. Sebagian orang mengenangnya sebagai pahlawan revolusi yang berani melawan kolonialisme. Sebagian lainnya terus menghubungkannya dengan komunisme dan bahkan menuduhnya antiagama.
Label itu bertahan puluhan tahun. Banyak orang menerima tuduhan tersebut tanpa pernah membuka tulisan-tulisan Tan Malaka sendiri. Akibatnya, publik lebih sering mengenal stigma daripada gagasannya.
Jejak Komintern dan Kesalahpahaman Sejarah
Sejarah memang mencatat Tan Malaka pernah aktif dalam Komintern atau Komunis Internasional. Fakta inilah yang kemudian membuat banyak orang langsung memasukkannya ke dalam kelompok komunis.
Namun sejarah tidak sesederhana itu.
Kehadiran seseorang dalam sebuah organisasi tidak otomatis menunjukkan kesepakatan penuh terhadap seluruh ideologinya. Tan Malaka justru berkali-kali mengkritik gagasan yang berkembang di lingkungan Komintern.
Dalam buku Dari Penjara ke Penjara, ia menunjukkan perbedaan tajam dengan kelompok PKI yang dipimpin Sardjono, Alimin, dan Musso. Perbedaan itu tidak hanya menyangkut strategi politik. Ia menyangkut arah masa depan Indonesia.
Tan Malaka menilai model negara komunis seperti Uni Soviet tidak cocok bagi masyarakat Nusantara. Ia melihat Indonesia memiliki karakter sosial, budaya, dan keagamaan yang sangat berbeda.
Karena itu, ia menolak gagasan yang memaksa Indonesia meniru revolusi negara lain.
Ketika Islam dan Sosialisme Bertemu
Tan Malaka memandang masyarakat Indonesia sebagai masyarakat religius. Karena itu, ia meyakini bahwa penerapan komunisme ortodoks hanya akan memicu perlawanan luas.
Pandangan tersebut muncul secara jelas dalam Madilog.
Menurut Tan Malaka, masyarakat Indonesia sebenarnya telah mengenal nilai-nilai sosialisme melalui pengalaman hidup dan ajaran Islam. Gotong royong, solidaritas, keadilan sosial, dan kepedulian terhadap kaum lemah sudah hidup dalam keseharian masyarakat jauh sebelum istilah sosialisme populer di Eropa.
Ia tidak melihat Islam dan keadilan sosial sebagai dua hal yang saling bertentangan.
Sebaliknya, ia melihat keduanya dapat berjalan berdampingan.
Pandangan ini membuatnya berbeda dari banyak tokoh komunis pada zamannya. Ketika sebagian kalangan kiri memandang gerakan Pan-Islamisme dengan curiga, Tan Malaka justru membela keberadaannya sebagai kekuatan sosial yang nyata di dunia kolonial.
Sarekat Islam dan Jalan Politik yang Berbeda
Jejak kedekatan Tan Malaka dengan dunia Islam tidak berhenti pada gagasan.
Ia bergabung dalam Sarekat Islam bersama tokoh-tokoh besar seperti H.O.S. Tjokroaminoto dan H. Agus Salim. Dalam berbagai kesempatan, ia juga berusaha mengajak kelompok-kelompok Islam bergabung dalam perjuangan melawan kolonialisme.
Langkah tersebut sering memicu perdebatan dengan kelompok komunis yang memandang agama sebagai hambatan revolusi.
Namun Tan Malaka tetap mempertahankan sikapnya.
Ia terus mencari jalan yang sesuai dengan kondisi Indonesia, bukan jalan yang lahir dari pengalaman negara lain.
Sikap itu semakin terlihat menjelang akhir perjalanan politiknya. Bersama Chaerul Saleh, Adam Malik, dan Sukarni, ia mendirikan Partai Murba atau Musyawarah Rakyat Banyak.
Melalui partai tersebut, Tan Malaka menunjukkan jarak yang tegas dari garis politik Komintern maupun PKI.
Benarkah Tan Malaka Antiagama?
Tuduhan antiagama menjadi salah satu serangan paling sering yang diarahkan kepada Tan Malaka.
Namun tuduhan itu justru bertabrakan dengan sejumlah tulisannya sendiri.
Dalam Madilog, Tan Malaka menulis tentang Allah sebagai Yang Maha Kuasa, Maha Pengasih, dan Maha Mengetahui. Ia bahkan beberapa kali menutup penjelasannya dengan kalimat “Wallahu a’lam”.
Kalimat itu bukan sekadar ungkapan biasa.
Kalimat tersebut menunjukkan pengakuan bahwa manusia memiliki keterbatasan pengetahuan, sedangkan Allah memiliki pengetahuan yang sempurna.
Tan Malaka memang mengkritik takhayul dan cara berpikir yang menurutnya tidak rasional. Namun ia tidak menyerang keyakinan agama itu sendiri.
Ia membedakan antara wilayah ilmu pengetahuan dan wilayah kepercayaan.
Dalam salah satu bagian Madilog, ia menegaskan bahwa persoalan surga, neraka, dan kehidupan setelah kematian berada di luar jangkauan pembuktian ilmiah. Karena itu, setiap orang berhak menentukan keyakinannya sendiri sesuai hati nurani.
Pandangan tersebut lebih dekat dengan kebebasan berpikir daripada permusuhan terhadap agama.
Antara Stigma dan Gagasan
Masalah terbesar dalam membaca Tan Malaka mungkin bukan terletak pada gagasannya.
Masalah terbesar justru muncul ketika publik lebih dulu menerima label daripada membaca pemikirannya.
Sejarah sering menyederhanakan tokoh ke dalam dua kutub yang saling bertentangan.
Komunis atau nasionalis.
Religius atau sekuler.
Pahlawan atau pengkhianat.
Padahal tokoh seperti Tan Malaka hidup di ruang yang jauh lebih kompleks.
Ia mengkritik kolonialisme, memperjuangkan kemerdekaan, menolak dogma politik yang tidak sesuai dengan Indonesia, dan pada saat yang sama mempertahankan kebebasan berpikir sebagai hak setiap manusia.
Karena itu, perdebatan tentang Tan Malaka sesungguhnya bukan sekadar perdebatan tentang satu tokoh.
Ini adalah cermin cara kita membaca sejarah.
Apakah kita memilih memahami seseorang melalui karya dan gagasannya?
Ataukah kita lebih nyaman menerima label yang diwariskan dari generasi ke generasi?
Sebab sering kali, stigma bergerak lebih cepat daripada pengetahuan.
Dan sejarah membuktikan, keduanya tidak selalu berjalan ke arah yang sama. @dimas







