Populisme hidup dari ketakutan dan musuh bersama. Kritik, film, hingga akademisi kerap diposisikan sebagai ancaman negara.
Tabooo.id – Politik modern sering bergerak dengan pola yang sederhana: kekuasaan terasa lebih stabil ketika publik memiliki musuh bersama.
Kadang penguasa menunjuk aktivis sebagai ancaman. Di waktu lain, mereka menyasar akademisi, media, atau film dokumenter. Semua bisa berubah menjadi “bahaya negara” ketika menghadirkan sudut pandang berbeda.
Situasi itu mengingatkan pada semboyan dalam novel 1984 karya George Orwell: “War is peace, freedom is slavery, ignorance is strength.”
Kalimat itu memang terdengar ganjil. Namun, rezim populis memang gemar membalik makna. Mereka menyebut kritik sebagai ancaman, mereka mengemas pembatasan kebebasan sebagai bentuk perlindungan dan mereka juga menempatkan perbedaan pendapat sebagai gangguan stabilitas.
Karena itu, kekuasaan tidak selalu memakai kekerasan terbuka untuk mengendalikan masyarakat. Penguasa cukup memainkan bahasa, membangun ketakutan, lalu mengarahkan emosi publik.
Populisme Hidup dari Ketakutan
Populisme membutuhkan lawan agar dukungan publik tetap menyala.
Itulah sebabnya berbagai label politik terus bermunculan. Istilah seperti “antek asing”, “tidak nasionalis”, “pengkhianat”, atau “propaganda” beredar luas dalam ruang publik.
Label-label itu tidak hadir untuk menjelaskan persoalan. Sebaliknya, istilah tersebut bertugas menghentikan percakapan.
Begitu seseorang menerima cap “asing”, publik langsung melupakan isi argumennya. Orang tidak lagi membahas data atau fakta. Mereka justru sibuk meragukan motif pihak yang berbicara.
Di titik itu, rasa takut mengalahkan logika.
Karena itulah populisme jarang bertumpu pada gagasan besar. Populisme lebih sering memelihara emosi kolektif. Semakin besar kecemasan masyarakat, semakin mudah penguasa menjaga dukungan politik.
Narasi Alternatif Membuat Negara Gelisah
Fenomena ini terlihat jelas ketika negara mulai alergi terhadap suara berbeda.
Film dokumenter, riset akademik, hingga laporan masyarakat sipil sering memicu respons berlebihan. Padahal, sebagian besar hanya menawarkan sudut pandang lain terhadap persoalan sosial.
Film Pesta Babi, misalnya, memantik kontroversi karena mengusik narasi pembangunan. Film itu mengajukan pertanyaan sederhana: siapa yang menikmati pembangunan dan siapa yang menanggung akibatnya?
Pertanyaan semacam itu sering membuat kekuasaan tidak nyaman.
Narasi alternatif membuka ruang diskusi yang sulit dikendalikan. Karena itu, penguasa lebih suka membangun kecurigaan daripada menjawab substansi persoalan.
Mereka lebih mudah menuduh “kepentingan asing” daripada menjelaskan konflik agraria yang terus berulang. Mereka juga lebih nyaman menyebut kritik sebagai propaganda dibanding membahas kegagalan proyek pangan nasional.
Akibatnya, kritik kehilangan posisi sebagai bagian penting demokrasi. Banyak pihak mulai memandang kritik sebagai ancaman politik.
Nasionalisme yang Penuh Kontradiksi
Populisme juga melahirkan bentuk nasionalisme yang aneh.
Di satu sisi, penguasa terlihat keras terhadap kritik domestik. Mereka menyerang aktivis lingkungan, mencurigai akademisi, dan menekan kelompok masyarakat sipil. Namun di sisi lain, mereka justru memberi ruang nyaman bagi kekuatan modal besar.
Kontradiksi itu terlihat sangat jelas.
Negara tampak berani menghadapi rakyat sendiri, tetapi sering kehilangan ketegasan ketika berhadapan dengan kepentingan ekonomi global.
Padahal dunia modern sudah saling terhubung. Teknologi asing hadir dalam kehidupan sehari-hari. Modal internasional mengalir ke berbagai sektor. Bahkan ruang digital yang membentuk opini publik sebagian besar dikendalikan perusahaan global.
Namun anehnya, kemarahan politik justru lebih sering diarahkan kepada peneliti, mahasiswa, atau kelompok sipil yang mengajukan pertanyaan kritis.
Negara yang Takut pada Kritik
Sejarah menunjukkan satu pola penting kekuasaan yang terus mencari musuh biasanya sedang kehilangan rasa percaya diri.
Negara yang kuat tidak takut pada kritik. Pemerintah yang sehat membuka ruang debat dan menerima perbedaan pendapat sebagai bagian dari demokrasi.
Sebaliknya, rezim yang rapuh berusaha mengontrol narasi sebanyak mungkin. Mereka ingin publik mendengar satu suara dan mempercayai satu versi kebenaran.
Karena itu, mereka memelihara ketakutan secara terus-menerus.
Publik diarahkan untuk curiga kepada kelompok lain. Emosi kolektif dijaga agar tetap panas. Sementara itu, perhatian masyarakat perlahan menjauh dari masalah utama seperti ketimpangan sosial, konflik agraria, atau relasi kuasa yang timpang.
Akhirnya, rakyat sibuk mencari musuh imajiner, sedangkan persoalan nyata tetap berjalan tanpa solusi.
Dan ketika sebuah negara mulai terlalu rajin menciptakan lawan, mungkin yang sebenarnya sedang ketakutan bukan masyarakat melainkan kekuasaan itu sendiri.salah tetap berjalan seperti biasa.
Dan ketika sebuah negara mulai terlalu rajin menciptakan musuh imajiner, mungkin yang sebenarnya sedang ketakutan bukan rakyat melainkan kekuasaan itu sendiri.suh imajiner, mungkin yang paling perlu dipertanyakan bukan lagi rakyatnya melainkan rasa takut yang diam-diam tumbuh di dalam kekuasaan itu sendiri. @dimas





