Rabu, Juni 10, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Aktivis Disiram Air Keras, Demokrasi Kita Baik-Baik Saja?

by dimas
Maret 16, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Talk – Mari mulai dari pertanyaan yang agak mengganggu: jika seseorang menyiram air keras kepada seorang aktivis HAM di jalan, apakah demokrasi kita benar-benar aman?

Peristiwa yang menimpa Andrie Yunus, aktivis dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), sulit kita anggap sekadar kriminalitas biasa. Banyak orang mungkin langsung berkata, “Itu urusan polisi.” Logika itu memang wajar. Namun serangan seperti ini sering membawa pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar melukai seseorang.

Peristiwa itu terjadi pada Kamis (12/3/2026) malam. Pelaku menyiramkan air keras ke tubuh Andrie hingga menyebabkan luka bakar sekitar 24 persen. Dokter dapat menghitung dan merawat luka fisik tersebut. Namun pesan politik di balik serangan seperti ini jauh lebih sulit diukur.

Pertanyaan pun muncul apakah ini sekadar kebetulan, atau bagian dari pola yang lebih lama?

Kritik Selalu Datang Bersama Risiko

Sejak berdiri pada 1998, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan tidak pernah bekerja di ruang yang benar-benar aman. Organisasi ini lahir di tengah trauma nasional setelah runtuhnya rezim Suharto. Sejak awal, mereka mengangkat isu sensitif seperti penculikan aktivis, kekerasan negara, hingga pelanggaran HAM berat.

Ini Belum Selesai

Marxisme Melawan Politik Identitas

Dua Musuh, Satu Kepentingan

Singkatnya, KontraS memilih posisi yang tidak nyaman. Mereka berdiri di sisi korban dan secara terbuka mengkritik kekuasaan.

Sejarah kemudian menunjukkan pola yang hampir selalu berulang. Ketika kritik menguat, tekanan ikut meningkat. Bentuknya beragam. Kadang orang melontarkan intimidasi verbal. Di waktu lain, serangan digital mulai bermunculan. Dalam beberapa kasus, aparat bahkan menggunakan instrumen hukum untuk menekan kritik.

Sesekali tekanan itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih brutal kekerasan fisik.

Situasi ini menempatkan aktivis, jurnalis, dan pembela HAM dalam posisi yang paradoksal. Mereka bekerja untuk menjaga demokrasi tetap hidup. Namun pada saat yang sama, demokrasi tidak selalu memberi perlindungan yang memadai bagi mereka.

Di titik inilah gambaran yang lebih besar mulai terlihat.

Kekerasan Menjadi Pesan

Dalam kajian politik, para peneliti sering menjelaskan serangan seperti penyiraman air keras melalui konsep punitive spectacle violence. Istilahnya memang terdengar akademis, tetapi maknanya cukup sederhana.

Pelaku tidak hanya ingin melukai korban. Mereka ingin menciptakan efek psikologis yang lebih luas.

Pesan itu tidak hanya ditujukan kepada Andrie Yunus. Pelaku ingin mengirim sinyal kepada banyak orang sekaligus: aktivis lain, jurnalis, akademisi, bahkan warga biasa yang gemar mengkritik di media sosial.

Kira-kira pesan itu berbunyi seperti ini “Lihat apa yang bisa terjadi jika kamu terlalu vokal.”

Para ilmuwan politik menyebut dampak psikologis ini sebagai chilling effect. Seseorang tidak perlu dipenjara untuk merasa takut. Cukup melihat orang lain diserang, rasa takut bisa muncul dengan sendirinya.

Akibatnya cukup jelas. Sebagian orang mulai memilih diam.

Ketika masyarakat memilih diam, demokrasi perlahan kehilangan napasnya.

Tapi Tidak Semua Orang Sepakat

Sebagian pihak menilai serangan ini tidak perlu langsung dianggap sebagai tanda kemunduran demokrasi. Mereka berpendapat bahwa kasus tersebut mungkin murni kriminalitas individual.

Motif personal, konflik pribadi, atau kebetulan tragis juga bisa menjadi penjelasan.

Pandangan ini tentu tidak bisa diabaikan. Negara hukum menuntut bukti sebelum menarik kesimpulan.

Namun pemerintah sendiri melihat sejumlah kejanggalan. Menteri Koordinator Bidang Hukum dan HAM, Yusril Ihza Mahendra, menegaskan bahwa aparat harus mengungkap kasus ini secara menyeluruh.

Menurutnya, penyelidikan tidak boleh berhenti pada pelaku lapangan. Aparat perlu menelusuri kemungkinan adanya aktor intelektual di balik serangan tersebut.

Pernyataan itu membuat diskusi publik menjadi semakin serius.

Demokrasi Tidak Hanya Soal Pemilu

Selama ini banyak orang mengukur demokrasi secara sederhana ada pemilu, ada partai politik, dan ada pergantian pemerintahan.

Ukuran itu memang penting, tetapi demokrasi tidak berhenti di kotak suara.

Demokrasi juga membutuhkan ruang sipil yang aman ruang tempat warga bisa berbicara, meneliti, melaporkan, dan mengkritik tanpa rasa takut.

Masalahnya, penyempitan ruang sipil jarang muncul secara dramatis. Tidak ada alarm yang berbunyi ketika kebebasan mulai menyempit.

Perubahan biasanya terjadi secara perlahan.

Jurnalis mulai menghindari liputan sensitif.
Akademisi memilih topik yang lebih aman.
Aktivis menimbang ulang sebelum menyampaikan kritik.

Secara hukum, semua orang masih bebas. Namun secara psikologis, banyak orang mulai membatasi diri.

Dalam kondisi seperti itu, demokrasi tetap berjalan tetapi suasananya menjadi lebih sunyi.

Jadi, Apa Sikap Kita?

Kasus yang menimpa Andrie Yunus tentu harus diproses hingga tuntas melalui jalur hukum. Itu langkah paling dasar.

Namun masyarakat juga perlu menjaga sesuatu yang tidak kalah penting solidaritas terhadap ruang sipil.

Jika publik menganggap serangan terhadap aktivis hanya sebagai berita kriminal biasa, pesan ketakutan dari pelaku bisa berhasil. Sebaliknya, solidaritas publik justru dapat membalik pesan tersebut.

Sejarah gerakan sipil di Indonesia menunjukkan satu hal menarik: tekanan sering melahirkan perlawanan baru.

Banyak orang masih mengingat bagaimana tragedi menjelang Indonesian Reformasi justru memunculkan gelombang keberanian baru di masyarakat.

Para aktivis lama sering mengulang satu kalimat sederhana ketika satu orang dibungkam, biasanya muncul sepuluh suara baru.

Sekarang pertanyaannya kembali kepada kita semua.

Jika seseorang bisa menyerang aktivis dengan air keras di ruang publik, apakah kita masih merasa ruang demokrasi benar-benar aman?

Atau jangan-jangan kita sedang menyaksikan tanda awal sesuatu yang lebih besar?

Lalu, kamu berada di kubu yang mana? @dimas

Tags: AktivisAndrie YunusDemokrasiHak Asasi ManusiaHAMIntimidasiKebebasankekerasanKontraSKritikLawanLindungiNasionalNegaraPolitik IndonesiarakyatReformasiRuangSeranganSipilSolidaritasSuara

Kamu Melewatkan Ini

UU Polri Baru: Reformasi, Regenerasi, atau Konsolidasi Kekuasaan?

UU Polri Baru: Reformasi, Regenerasi, atau Konsolidasi Kekuasaan?

by Tabooo
Juni 10, 2026

UU Polri baru tidak hanya mengubah batas usia pensiun. Aturan ini juga membuka pertanyaan besar soal regenerasi, kewenangan digital, ruang...

Sosialisme: Kata Terlarang yang Terus Menghantui Kekuasaan

Sosialisme: Kata Terlarang yang Terus Menghantui Kekuasaan

by dimas
Juni 9, 2026

Sosialisme pernah menjadi bagian penting dari sejarah pergerakan Indonesia. Namun kekuasaan mengubahnya menjadi kata terlarang yang terus dibayangi stigma, ketakutan,...

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

by teguh
Juni 9, 2026

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian membuka kembali perdebatan lama tentang hubungan politik dan birokrasi daerah. Dalam rapat bersama Komisi II...

Next Post
Lebaran Nonton Apa? Ini Deretan Film Indonesia yang Siap Ramaikan Bioskop

Lebaran Nonton Apa? Ini Deretan Film Indonesia yang Siap Ramaikan Bioskop

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id