Tabooo.id: Talk – Mari mulai dari pertanyaan yang agak mengganggu: jika seseorang menyiram air keras kepada seorang aktivis HAM di jalan, apakah demokrasi kita benar-benar aman?
Peristiwa yang menimpa Andrie Yunus, aktivis dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), sulit kita anggap sekadar kriminalitas biasa. Banyak orang mungkin langsung berkata, “Itu urusan polisi.” Logika itu memang wajar. Namun serangan seperti ini sering membawa pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar melukai seseorang.
Peristiwa itu terjadi pada Kamis (12/3/2026) malam. Pelaku menyiramkan air keras ke tubuh Andrie hingga menyebabkan luka bakar sekitar 24 persen. Dokter dapat menghitung dan merawat luka fisik tersebut. Namun pesan politik di balik serangan seperti ini jauh lebih sulit diukur.
Pertanyaan pun muncul apakah ini sekadar kebetulan, atau bagian dari pola yang lebih lama?
Kritik Selalu Datang Bersama Risiko
Sejak berdiri pada 1998, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan tidak pernah bekerja di ruang yang benar-benar aman. Organisasi ini lahir di tengah trauma nasional setelah runtuhnya rezim Suharto. Sejak awal, mereka mengangkat isu sensitif seperti penculikan aktivis, kekerasan negara, hingga pelanggaran HAM berat.
Singkatnya, KontraS memilih posisi yang tidak nyaman. Mereka berdiri di sisi korban dan secara terbuka mengkritik kekuasaan.
Sejarah kemudian menunjukkan pola yang hampir selalu berulang. Ketika kritik menguat, tekanan ikut meningkat. Bentuknya beragam. Kadang orang melontarkan intimidasi verbal. Di waktu lain, serangan digital mulai bermunculan. Dalam beberapa kasus, aparat bahkan menggunakan instrumen hukum untuk menekan kritik.
Sesekali tekanan itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih brutal kekerasan fisik.
Situasi ini menempatkan aktivis, jurnalis, dan pembela HAM dalam posisi yang paradoksal. Mereka bekerja untuk menjaga demokrasi tetap hidup. Namun pada saat yang sama, demokrasi tidak selalu memberi perlindungan yang memadai bagi mereka.
Di titik inilah gambaran yang lebih besar mulai terlihat.
Kekerasan Menjadi Pesan
Dalam kajian politik, para peneliti sering menjelaskan serangan seperti penyiraman air keras melalui konsep punitive spectacle violence. Istilahnya memang terdengar akademis, tetapi maknanya cukup sederhana.
Pelaku tidak hanya ingin melukai korban. Mereka ingin menciptakan efek psikologis yang lebih luas.
Pesan itu tidak hanya ditujukan kepada Andrie Yunus. Pelaku ingin mengirim sinyal kepada banyak orang sekaligus: aktivis lain, jurnalis, akademisi, bahkan warga biasa yang gemar mengkritik di media sosial.
Kira-kira pesan itu berbunyi seperti ini “Lihat apa yang bisa terjadi jika kamu terlalu vokal.”
Para ilmuwan politik menyebut dampak psikologis ini sebagai chilling effect. Seseorang tidak perlu dipenjara untuk merasa takut. Cukup melihat orang lain diserang, rasa takut bisa muncul dengan sendirinya.
Akibatnya cukup jelas. Sebagian orang mulai memilih diam.
Ketika masyarakat memilih diam, demokrasi perlahan kehilangan napasnya.
Tapi Tidak Semua Orang Sepakat
Sebagian pihak menilai serangan ini tidak perlu langsung dianggap sebagai tanda kemunduran demokrasi. Mereka berpendapat bahwa kasus tersebut mungkin murni kriminalitas individual.
Motif personal, konflik pribadi, atau kebetulan tragis juga bisa menjadi penjelasan.
Pandangan ini tentu tidak bisa diabaikan. Negara hukum menuntut bukti sebelum menarik kesimpulan.
Namun pemerintah sendiri melihat sejumlah kejanggalan. Menteri Koordinator Bidang Hukum dan HAM, Yusril Ihza Mahendra, menegaskan bahwa aparat harus mengungkap kasus ini secara menyeluruh.
Menurutnya, penyelidikan tidak boleh berhenti pada pelaku lapangan. Aparat perlu menelusuri kemungkinan adanya aktor intelektual di balik serangan tersebut.
Pernyataan itu membuat diskusi publik menjadi semakin serius.
Demokrasi Tidak Hanya Soal Pemilu
Selama ini banyak orang mengukur demokrasi secara sederhana ada pemilu, ada partai politik, dan ada pergantian pemerintahan.
Ukuran itu memang penting, tetapi demokrasi tidak berhenti di kotak suara.
Demokrasi juga membutuhkan ruang sipil yang aman ruang tempat warga bisa berbicara, meneliti, melaporkan, dan mengkritik tanpa rasa takut.
Masalahnya, penyempitan ruang sipil jarang muncul secara dramatis. Tidak ada alarm yang berbunyi ketika kebebasan mulai menyempit.
Perubahan biasanya terjadi secara perlahan.
Jurnalis mulai menghindari liputan sensitif.
Akademisi memilih topik yang lebih aman.
Aktivis menimbang ulang sebelum menyampaikan kritik.
Secara hukum, semua orang masih bebas. Namun secara psikologis, banyak orang mulai membatasi diri.
Dalam kondisi seperti itu, demokrasi tetap berjalan tetapi suasananya menjadi lebih sunyi.
Jadi, Apa Sikap Kita?
Kasus yang menimpa Andrie Yunus tentu harus diproses hingga tuntas melalui jalur hukum. Itu langkah paling dasar.
Namun masyarakat juga perlu menjaga sesuatu yang tidak kalah penting solidaritas terhadap ruang sipil.
Jika publik menganggap serangan terhadap aktivis hanya sebagai berita kriminal biasa, pesan ketakutan dari pelaku bisa berhasil. Sebaliknya, solidaritas publik justru dapat membalik pesan tersebut.
Sejarah gerakan sipil di Indonesia menunjukkan satu hal menarik: tekanan sering melahirkan perlawanan baru.
Banyak orang masih mengingat bagaimana tragedi menjelang Indonesian Reformasi justru memunculkan gelombang keberanian baru di masyarakat.
Para aktivis lama sering mengulang satu kalimat sederhana ketika satu orang dibungkam, biasanya muncul sepuluh suara baru.
Sekarang pertanyaannya kembali kepada kita semua.
Jika seseorang bisa menyerang aktivis dengan air keras di ruang publik, apakah kita masih merasa ruang demokrasi benar-benar aman?
Atau jangan-jangan kita sedang menyaksikan tanda awal sesuatu yang lebih besar?
Lalu, kamu berada di kubu yang mana? @dimas







