Apakah kepemimpinan Indonesia masih memegang filosofi Jawa tentang laku sebelum kuasa? Wayang mengajarkan karakter lebih penting daripada jabatan.
Tabooo.id – Dalam filosofi Jawa, seseorang tidak layak memimpin hanya karena berhasil merebut kekuasaan. Wayang justru mengajarkan bahwa seorang pemimpin harus lebih dulu menjalani laku proses membentuk karakter, menaklukkan ego, dan mengutamakan kepentingan rakyat. Di tengah politik modern yang kerap mengutamakan popularitas, apakah nilai itu masih hidup dalam kepemimpinan Indonesia?
Laku Datang Sebelum Kuasa
Wayang tidak pernah mengajarkan bahwa kekuasaan merupakan hadiah bagi mereka yang paling ambisius.
Tokoh-tokoh yang akhirnya menerima Wahyu Keprabon selalu menempuh perjalanan panjang. Mereka bertapa, menahan hawa nafsu, menerima kritik, dan membangun hidup sederhana sebelum memegang kuasa.
Laku bukan sekadar ritual.
Laku membentuk karakter.
Orang Jawa percaya bahwa seseorang yang gagal mengendalikan ego akan sulit mengendalikan sebuah negara.
Karena itu, setiap calon pemimpin harus membangun dirinya lebih dulu sebelum meminta kepercayaan masyarakat.
Politik Modern Berjalan dengan Logika yang Berbeda
Hari ini, ruang politik bergerak dengan logika yang hampir bertolak belakang.
Banyak tokoh berlomba tampil paling menonjol. Mereka membangun citra jauh sebelum masyarakat mengenal karakter aslinya. Popularitas sering tumbuh lebih cepat daripada integritas.
Media sosial mempercepat perubahan itu.
Jumlah pengikut, potongan video, dan slogan singkat kini sering menjadi ukuran baru untuk menilai seorang pemimpin. Akibatnya, publik lebih cepat mengenal penampilan daripada perjalanan hidup seseorang.
Padahal, filosofi Jawa selalu mengajukan pertanyaan yang berbeda: bagaimana laku seseorang sebelum ia meminta kepercayaan orang lain?
Takhta Bisa Direbut, Kepercayaan Harus Diperjuangkan
Sejarah memperlihatkan bahwa siapa pun dapat memperoleh jabatan melalui berbagai cara.
Seseorang dapat memenangkan pemilu.
Partai dapat membentuk koalisi.
Politikus dapat merebut kekuasaan melalui strategi yang matang.
Namun, tidak ada strategi yang mampu memaksa masyarakat untuk percaya.
Kepercayaan tumbuh ketika seorang pemimpin menjaga keselarasan antara ucapan dan tindakan. Ia berani mengakui kesalahan, mau mendengar kritik, dan selalu mendahulukan kepentingan publik.
Karena itu, banyak orang memiliki jabatan, tetapi hanya sedikit yang memiliki wibawa.
Filsafat Jawa tidak melahirkan wibawa dari kursi kekuasaan. Laku yang membentuknya.
Semar Tidak Pernah Duduk di Singgasana
Wayang menghadirkan paradoks yang menarik.
Semar tidak pernah menjadi raja.
Ia tidak mengenakan mahkota.
Ia juga tidak memimpin pasukan.
Meski begitu, hampir semua ksatria datang meminta nasihat kepadanya.
Filosofi Jawa memakai Semar sebagai simbol suara rakyat sekaligus kebijaksanaan. Kehadirannya mengingatkan bahwa pengaruh tidak selalu lahir dari jabatan. Integritas justru sering berbicara lebih keras daripada kekuasaan formal.
Pesan itu terasa semakin relevan ketika masyarakat mulai kehilangan kepercayaan kepada lembaga, tetapi tetap menghormati orang-orang yang hidup sederhana dan konsisten.
Indonesia Tidak Kekurangan Pemimpin, tetapi Kekurangan Keteladanan
Indonesia tidak pernah kekurangan orang yang ingin menjadi pemimpin.
Yang mulai langka justru keteladanan.
Budaya politik modern lebih sering mengukur elektabilitas daripada kedewasaan.
Debat politik lebih sibuk menguji kemampuan berbicara daripada kesediaan mendengar.
Kompetisi politik lebih banyak membahas strategi kemenangan daripada kesiapan melayani masyarakat.
Padahal, filosofi Jawa sejak lama mengingatkan bahwa kuasa hanyalah akibat. Karakter menjadi penyebab utamanya.
Ketika karakter melemah, kekuasaan mudah berubah menjadi alat mempertahankan kepentingan pribadi, bukan sarana melayani rakyat.
Yang Sulit Bukan Merebut Jabatan, tetapi Menaklukkan Diri
Filsafat Jawa tidak menolak kekuasaan.
Filsafat Jawa hanya mengingatkan bahwa laku harus selalu mendahului kuasa.
Hari ini, masyarakat mungkin tidak lagi menunggu cahaya Wahyu Keprabon turun dari langit. Namun mereka tetap mencari pemimpin yang menjaga integritas ketika kamera mati, tetap rendah hati ketika pujian berdatangan, dan tetap berpihak kepada rakyat ketika tekanan politik menguat.
Wayang mewariskan pelajaran itu selama berabad-abad.
Seseorang bisa memenangkan jabatan dalam satu hari. Namun ia membutuhkan seumur hidup untuk membangun laku.
Barangkali, di situlah pertanyaan terbesar bagi kepemimpinan Indonesia hari ini.
Apakah kita sedang memilih orang yang pandai merebut kuasa, atau orang yang benar-benar siap memikulnya?@eko







