Jumat, Mei 29, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Wahyu Keprabon adalah Suara Rakyat, Takhta adalah Dukungan Rakyat

by Tabooo
Mei 29, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter
Wahyu Keprabon tidak lagi cukup kita baca sebagai tanda langit yang turun kepada seseorang. Dalam demokrasi modern, wahyu itu hidup dalam suara rakyat, kepercayaan publik, dan dukungan yang harus terus terawat. Kalau rakyat mulai pergi, takhta mungkin masih berdiri, tapi maknanya pelan-pelan menjadi kosong.
Oleh: Wartonagoro (Komisaris PT Tabooo Network Indonesia)
Wahyu Keprabon adalah Suara Rakyat, Takhta adalah Dukungan Rakyat

Tabooo.id – Ada satu kesalahan besar ketika orang membaca kekuasaan Jawa hari ini.

Mereka terlalu sibuk mencari tanda langit, tapi lupa mendengar suara bumi. Mereka membicarakan wahyu, pulung, garis darah, dan simbol keraton, tetapi sering mengabaikan hal paling konkret dalam politik modern: rakyat masih percaya atau tidak.

Di masa lalu, Wahyu Keprabon terpahami sebagai sebuah mandat gaib yang turun kepada seseorang yang secara batin, moral, dan kosmis layak memegang takhta. Kekuasaan tidak berdiri hanya di atas administrasi. Ia berdiri di atas rasa, keyakinan, dan pengakuan kolektif.

Namun zaman sudah berubah.

Kita tidak lagi hidup dalam dunia yang seluruh legitimasi politiknya bisa bersandar pada mitos. Negara modern punya hukum. Demokrasi punya rakyat. Kekuasaan punya batas. Bahkan tradisi harus berani membaca ulang diri sendiri. Kalau tidak, ia akan membeku menjadi fosil budaya yang hanya keluar saat upacara, tetapi tidak lagi menolong manusia membaca zaman.

Ini Belum Selesai

Residu ke Bantargebang: Solusi Lingkungan atau Krisis Baru Kota?

Pancasila: Dasar Negara atau Alat Membungkam Kritik?

Karena itu, bagi saya, Wahyu Keprabon hari ini harus termaknai secara lebih jujur.

Wahyu Keprabon adalah suara rakyat. Takhta adalah dukungan rakyat.

Bukan sebaliknya.

Takhta tidak membuat seseorang otomatis benar. Gelar tidak membuat seseorang otomatis layak. Darah tidak membuat seseorang otomatis bijaksana. Simbol tidak membuat penderitaan rakyat otomatis selesai.

Kalau rakyat tidak lagi percaya, wahyu itu sudah pergi.

Mungkin tidak terlihat seperti cahaya yang meninggalkan tubuh raja dalam cerita babad. Mungkin tidak muncul sebagai pertanda alam yang dramatis. Tapi ia terlihat dalam bentuk yang lebih nyata: orang mulai ragu, mulai menjauh, mulai tidak peduli, lalu pelan-pelan berhenti mengakui.

Dan itu lebih berbahaya daripada kutukan apa pun.

Wahyu Tidak Boleh Jadi Tempat Sembunyi Kekuasaan

Dalam tradisi Jawa, kekuasaan tidak pernah hanya perkara memerintah. Ia selalu membawa beban moral. Seorang pemimpin harus bisa menahan diri, mengendalikan nafsu, menjaga rasa, dan tidak hidup jauh dari penderitaan rakyat.

Dalam pemaknaan yang lebih dalam, laku tirakat, puasa, tapa brata, dan prihatin bukan sekadar ritual pribadi. Pemimpin memakai laku tersebut untuk menguji diri sendiri, apakah rasa kemanusiaannya masih hidup, telinganya masih sanggup mendengar yang lemah, dan batinnya cukup kuat menahan kerakusan yang sering tumbuh diam-diam di sekitar kekuasaan.

Tirakat merupakan instrumen batiniah agar penguasa ikut merasakan pedihnya hidup rakyat kecil, bukan hanya menjaga stabilitas kerajaan. Sayangnya, nilai yang mulia seringkali rusak ketika masuk ke tangan elite yang tidak mau mendapatkan kritik.

Wahyu lalu menjadi sebuah pembenaran. Tradisi menjadi perisai. Rakyat harus hormat, tapi penguasa tidak mau mendengar. Kritik dianggap ketidaksopanan. Pertanyaan dianggap kurang ajar. Ketidaksetujuan menjadi sebuah gangguan harmoni.

Ini penyakit lama.

Kekuasaan selalu suka bahasa yang membuatnya terlihat suci.

Padahal, dalam demokrasi, tidak ada kekuasaan yang boleh terlalu suci untuk diawasi. Tidak ada pemimpin yang boleh terlalu sakral untuk dikritik. Tidak ada takhta yang boleh berdiri di atas rasa takut rakyat.

Kalau wahyu menjadi alat untuk membungkam suara rakyat, itu bukan wahyu. Itu dekorasi spiritual untuk nafsu berkuasa.

Takhta Tidak Berdiri di Atas Darah Saja

Saya tidak sedang menolak tradisi. Justru sebaliknya, saya ingin tradisi dibaca dengan lebih bertanggung jawab.

Tradisi Jawa mengajarkan bahwa pemimpin tidak boleh dumeh. Tidak boleh mentang-mentang punya kuasa. Pemimpin tidak boleh merasa sebagai pusat dari segalanya. Penguasa harus andhap asor, punya rasa, dan sadar bahwa kekuasaan bisa pergi ketika ia kehilangan kelayakan moral.

Dalam bahasa lama, pulung bisa pergi. Dalam bahasa hari ini, legitimasi bisa runtuh. Bedanya hanya kosakata.

Darah bangsawan bisa memberi asal-usul, tapi tidak otomatis melahirkan kepercayaan rakyat. Kursi tinggi bisa memberi kuasa, namun batin yang kosong dari keberpihakan tetap akan terasa jauh. Gelar panjang juga tidak banyak berarti kalau keputusan-keputusannya pendek dalam keadilan.

Di titik itu, apa arti takhta?

Takhta yang tidak mendapatkan dukungan rakyat hanyalah kursi mewah kosong yang sekadar menjadi pajangan.

Ia mungkin masih terlihat megah dari luar. Orang masih menunduk. Upacara masih berjalan. Masih menggunakan bahasa halus. Tapi di balik semua itu, ada sesuatu yang sudah retak.

Rakyat mungkin diam. Tapi tidak selalu berarti setuju. Bisa jadi mereka sudah lelah, terlalu takut untuk bicara, atau bahkan tidak lagi berharap apa pun dari kekuasaan. Dan ketika harapan sudah mati, suara paling keras justru muncul dalam bentuk paling sunyi.

Dan ketika rakyat sudah tidak berharap, kekuasaan sebenarnya sedang kehilangan bagian paling penting.

Membaca Ulang Manunggaling Kawula Gusti

Banyak orang masih memahami Manunggaling Kawula Gusti sebagai konsep mistis. Mereka membayangkan pemimpin dan rakyat menyatu dalam tatanan kosmis, seolah ada ikatan batin yang membuat keduanya bergerak dalam satu rasa. Pemahaman itu menarik, tapi bisa berbahaya kalau berubah menjadi alasan untuk menuntut kepatuhan buta.

Namun dalam kehidupan modern, konsep ini tidak boleh berubah menjadi penghambaan politik.

Rakyat bukan kawula yang harus tunduk membabi buta. Pemimpin pun bukan Gusti yang tidak boleh ditanya. Negara bukan panggung tempat warga hanya bertepuk tangan saat elite selesai bicara.

Kalau Manunggaling Kawula Gusti masih ingin hidup hari ini, kita harus memahaminya sebagai sebuah konsep kesatuan tanggung jawab. Pemimpin mendengar rakyat. Rakyat mengawasi pemimpin. Kekuasaan bekerja untuk publik. Hukum melindungi warga dari kesewenang-wenangan.

Bukan rakyat yang melebur ke dalam kehendak penguasa.

Penguasalah yang harus menundukkan diri pada mandat rakyat.

Dokumen rujukan juga menegaskan pembacaan demokratis ini: dalam masyarakat demokratis, kekuasaan merupakan mandat dari rakyat, bukan klaim personal atau supranatural. Kesejahteraan rakyat bukan belas kasihan penguasa, melainkan kewajiban konstitusional.

Ini penting.

Banyak elite masih senang menempatkan diri seperti pusat semesta. Mereka menuntut hormat seperti simbol tradisi, tapi sering menghindar saat publik ingin menguji mereka seperti pejabat yang memakai mandat rakyat. Mereka ingin mengambil aura sakral masa lalu, tapi menghindari akuntabilitas masa kini.

Enak sekali.

Rakyat Bukan Sekadar Penonton dalam Sejarah Kekuasaan

Ada kecenderungan berbahaya dalam cara kita membicarakan kekuasaan tradisional.

Rakyat seringkali hanya menjadi latar. Mereka muncul sebagai massa yang mendukung, mengiringi, mendoakan, menyambut, atau menerima keputusan. Jarang rakyat mendapatkan posisi sebagai pusat legitimasi itu sendiri.

Padahal tanpa rakyat, takhta kehilangan makna sosialnya.

Seorang raja bisa punya silsilah. Seorang pemimpin bisa punya legalitas. Seorang elite bisa punya kendaraan politik. Tapi tanpa dukungan rakyat yang nyata, semua itu hanya struktur yang kehilangan jiwa.

Rakyat bukan aksesori sejarah. Mereka adalah alasan kekuasaan ada.

Saat rakyat lapar, takhta tidak boleh hidup terlalu kenyang. Saat warga takut, kekuasaan harus mencari sumber ketakutan itu, bukan menutup telinga. Jangan buru-buru menyebut kemarahan publik sebagai kebodohan. Bisa jadi, kemarahan itu membawa luka paling jujur, yang selama ini kekuasaan gagal mendengarnya. Atau, bisa jadi, justru rakyat yang lebih dulu membaca kebusukan penguasa.

Di sinilah tirakat harus kembali ke makna sebenarnya.

Tirakat bukan pertunjukan kesalehan. Bukan gaya hidup sederhana yang haus publikasi. Bukan drama makan di warung kecil sambil tetap menandatangani kebijakan yang menyulitkan orang kecil.

Tirakat politik hari ini berarti membatasi kepentingan diri. Menolak hidup terlalu jauh dari rakyat. Berani mendengar kritik yang pedas. Menahan hasrat untuk selalu menang. Dan yang paling sulit: mau mengakui ketika kekuasaan mulai salah arah.

Semar Lebih Jujur daripada Banyak Elite Modern

Dalam simbol Jawa, Semar menarik karena ia tidak tampil sebagai penguasa yang gagah. Ia tidak memamerkan tubuh ideal, bahasa tinggi, atau jarak feodal. Ia justru hadir sebagai figur rakyat, pelayan, penasihat, sekaligus penjaga moral.

Semar mengganggu imajinasi kekuasaan yang terlalu suka tampak agung.

Ia seperti mengingatkan bahwa pemimpin sejati tidak selalu berdiri tinggi. Kadang ia harus jongkok agar bisa mendengar lebih dekat.

Simbol Semar merupakan personifikasi pemimpin pelayan. Matanya yang rembes menggambarkan kepekaan terhadap penderitaan rakyat. Telinga dan sikapnya mengajarkan kesediaan mendengar keluh kesah, termasuk kritik yang pedas.

Bandingkan dengan politik hari ini.

Banyak pemimpin ingin terlihat merakyat, tapi tidak tahan mendapatkan kritikan dari rakyat. Mereka datang ke pasar, menyapa pedagang, memegang bahu warga, lalu pulang ke ruang rapat yang keputusannya sering tidak melibatkan suara orang-orang tadi.

Rakyat hanya menjadi obyek visual. Bukan sumber keputusan.

Itu bukan Semar. Itu panggung. Dan panggung tidak sama dengan keberpihakan.

Ketika Harmoni Menjadi Alat Pembungkaman

Nilai Jawa sering bicara tentang harmoni. Namun harmoni bisa berbahaya ketika elite memakainya untuk menekan konflik yang seharusnya terbuka.

Tidak semua kegaduhan buruk. Kadang gaduh muncul karena ada luka yang terlalu lama tertutup. Tidak semua kritik merusak. Kadang kritik justru tanda bahwa rakyat masih peduli. Tidak semua ketidaksetujuan mengancam. Kadang ia menyelamatkan kekuasaan dari kebodohannya sendiri.

Masalah muncul ketika elite memakai bahasa harmoni untuk membuat rakyat diam.

Kita sering mendengar kalimat yang terdengar halus, misalnya suasana harus dijaga, wajah orang besar jangan dipermalukan, adat tidak boleh dilawan, dan kegaduhan sebaiknya dihindari. Masalahnya, kalimat seperti itu sering bekerja sebagai rem sosial. Rakyat diminta menahan suara, sementara kekuasaan tetap bebas menunda tanggung jawab.

Ini bukan budaya, tapi teknik kontrol.

Budaya yang sehat tidak membuat rakyat takut berpikir. Tradisi yang hidup tidak menolak koreksi. Kearifan yang matang tidak memaksa orang kecil menanggung beban hanya demi menjaga wajah orang besar.

Kalau harmoni hanya menguntungkan yang berkuasa, itu bukan harmoni.

Itu ketimpangan yang diberi parfum adat.

Wahyu Keprabon dalam Demokrasi

Hari ini, Wahyu Keprabon tidak perlu dibayangkan sebagai benda gaib yang turun diam-diam ke seseorang.

Bagi saya, Wahyu Keprabon hidup dalam bentuk yang lebih terang: kepercayaan rakyat.

Ia tampak ketika rakyat merasa dilindungi. Ia terasa ketika kebijakan tidak meninggalkan yang miskin. Ia menguat ketika pemimpin mendengar kritik tanpa tersinggung. Ia bertahan ketika hukum tidak menjadi alat keluarga, kelompok, atau lingkaran dekat kekuasaan.

Sebaliknya, wahyu itu memudar ketika rakyat mulai melihat jarak.

Jarak antara janji dan keputusan. Antara simbol kesederhanaan dan kenyataan hidup elite. Atau antara bahasa pengabdian dan praktik penguasaan. Bisa juga antara upacara yang megah dan dapur rakyat yang mulai kosong.

Wahyu Keprabon tidak hilang dalam satu malam.

Ia bocor pelan-pelan.

Lewat kebijakan yang tidak adil dan sikap antikritik. Melalui kesombongan kecil yang dibiarkan tumbuh. Atau karena kebiasaan menganggap rakyat hanya sebagai penerima titah, bukan pemilik suara.

Pada akhirnya, rakyat tahu.

Mereka mungkin tidak memakai bahasa teori politik. Mereka mungkin tidak menyebut legitimasi, mandat publik, atau kontrak sosial. Tapi mereka bisa merasakan satu hal dengan sangat tajam: pemimpin ini masih bersama kami atau hanya memakai kami?

Pertanyaan itu sederhana.

Tapi bisa menjatuhkan banyak takhta.

Saat Rakyat Lupa Bahwa Mereka Pemilik Mandat

Kenapa kita harus peduli pada pembahasan Wahyu Keprabon?

Karena cara kita melihat kekuasaan menentukan cara kita memperlakukan pemimpin.

Kalau kita masih menganggap kekuasaan sebagai sesuatu yang sakral, kita akan mudah tunduk. Kita akan mengira kritik sebagai dosa sosial. Kita akan menganggap pejabat, raja, elite, atau figur besar sebagai manusia yang harus dimaklumi lebih banyak daripada diawasi.

Padahal hidupmu terdampak langsung oleh keputusan mereka.

Harga pangan, tanah, pajak, pendidikan, ruang kritik, hukum, pekerjaan, layanan publik, semua itu tidak ditentukan oleh aura spiritual. Itu ditentukan oleh keputusan konkret.

Maka jangan mudah terpukau oleh simbol.

Jangan langsung percaya pada kesederhanaan yang dipertontonkan. Jangan terlalu cepat kagum pada gelar, garis keturunan, gaya bicara halus, atau klaim paling tahu kehendak rakyat.

Ukur dari hal yang paling konkret. Ia mau mendengar atau hanya ingin dipuji? Kuasanya ia batasi atau justru memperluasnya pelan-pelan? Orang lemah benar-benar ia lindungi, kritik ia terima tanpa dendam, dan kebijakannya membuat hidup rakyat kecil lebih ringan atau malah makin sesak.

Kalau jawabannya buruk, jangan tertipu oleh upacara.

Lampu pendapa bisa menyala terang. Tapi rakyat tetap bisa pulang dengan perut kosong.

Takhta yang Sehat Harus Siap Ditinggalkan

Kekuasaan yang sehat tidak takut kehilangan dukungan. Ia justru terus memeriksa apakah dirinya masih layak didukung.

Itu perbedaan besar antara pemimpin dan pemilik kuasa.

Pemilik kuasa ingin bertahan. Sedangkan pemimpin ingin tetap pantas.

Pemilik kuasa menuntut loyalitas. Sebaliknya, seorang pemimpin merawat kepercayaan.

Pemilik kuasa memakai tradisi untuk menguatkan posisinya. Dan pemimpin memakai tradisi untuk mengendalikan dirinya.

Di sinilah pemahaman Jawa menjadi penting. Bukan untuk kembali ke feodalisme, bukan juga untuk memuja masa lalu. Tapi untuk mengambil inti etikanya, bahwa kekuasaan harus tahu malu.

Ojo dumeh. Jangan mentang-mentang.

Takhta tidak membuat siapa pun lebih tinggi dari manusia lain. Rakyat juga tidak punya kewajiban untuk selalu memaklumi setiap keputusan penguasa. Kritik seharusnya dibaca sebagai peringatan, bukan ancaman, karena dukungan hari ini bukan cek kosong untuk dipakai selamanya.

Rakyat bisa memberi. Tapi juga bisa menariknya kembali.

Dan saat rakyat menarik dukungan, takhta tidak langsung runtuh secara fisik. Tapi secara moral, ia sudah kosong.

Suara Rakyat adalah Ujian Terakhir bagi Takhta

Wahyu Keprabon tidak perlu dicari di langit.

Dengarkan rakyat. Di sana wahyu itu hidup, bergerak, menguat, atau pergi.

Takhta juga tidak perlu terlalu bangga pada dirinya sendiri. Ia bukan sumber kebenaran, melainkan hanya tempat sementara bagi mandat yang datang dari orang banyak.

Kalau rakyat percaya, takhta punya makna.

Kalau rakyat pergi, takhta hanya tinggal kursi, kain, gelar, dan protokol.

Kekuasaan yang lupa pada rakyat mungkin masih bisa bertahan sebentar.

Tapi ia tidak lagi memimpin. Ia hanya menunggu waktu untuk ditinggalkan.

Takhta tanpa dukungan rakyat hanyalah kursi mahal yang sekadar menjadi pajangan. @tabooo

Tags: kekuasaan JawaOpiniTabooo TalkWahyu KeprabonWartonagoro

Kamu Melewatkan Ini

Wartonagoro: Tabooology Bukan untuk Menyenangkan Siapapun

Wartonagoro: Tabooology Bukan untuk Menyenangkan Siapapun

by Tabooo
Mei 18, 2026

Menurut Wartonagoro, manusia modern bukan kekurangan informasi, tetapi kehilangan keberanian untuk berpikir jujur tanpa takut penilaian sosial.

Ruang Rapat, Asbak, dan Game Online: Paket Lengkap Demokrasi?

Ruang Rapat, Asbak, dan Game Online: Paket Lengkap Demokrasi?

by teguh
Mei 16, 2026

Di ruang rapat membahas soal stunting mestinya menghadirkan kegelisahan bersama. Angka kematian ibu, kesehatan bayi, hingga campak jelas bukan bahan...

Main Game Saat Rapat DPRD: Human Error atau Bentuk Tidak Hormat ke Publik?

Main Game Saat Rapat DPRD: Human Error atau Bentuk Tidak Hormat ke Publik?

by teguh
Mei 15, 2026

Saat rapat DPRD membahas stunting, kematian ibu, dan layanan kesehatan warga, publik justru melihat video anggota dewan diduga bermain game...

Pilihan Tabooo

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

Mei 24, 2026

Realita Hari Ini

Damai atau Jeda Perang? AS dan Iran Mulai Mainkan Narasi Baru

Damai atau Jeda Perang? AS dan Iran Mulai Mainkan Narasi Baru

Mei 24, 2026

Dugaan Gratifikasi di Kemenhub: Rel Kereta atau Jalur Uang?

Mei 28, 2026

Amerika Serikat Serang Iran Lagi: Perdamaian Tinggal Formalitas?

Mei 28, 2026

Ranking di Sekolah: Motivasi atau Mesin Sunyi Pemicu Bullying?

Mei 28, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id