Menstruasi dialami jutaan perempuan setiap bulan. Namun mengapa stigma, rasa malu, dan ketimpangan akses masih terus mengikutinya?
Tabooo.id – Seorang siswi sekolah menengah keluar dari minimarket sambil menggenggam tasnya erat. Beberapa detik sebelumnya, ia membeli sebungkus pembalut. Tanpa berpikir panjang, ia langsung memasukkannya ke dalam tas dan melangkah cepat menuju jalan pulang.
Ia tidak mencuri.
Ia tidak melanggar aturan.
Namun, ia tetap merasa perlu menyembunyikan sesuatu menstruasi.
Pemandangan seperti ini muncul hampir setiap hari. Banyak orang melihatnya sebagai hal yang lumrah. Justru karena terlalu lumrah, kita jarang mempertanyakan akar masalahnya. Mengapa jutaan perempuan masih merasa canggung saat membicarakan proses biologis yang mereka alami setiap bulan?
Tubuh perempuan mengalami menstruasi secara alami sebagai bagian dari siklus reproduksi. Meski begitu, banyak lingkungan sosial masih menempatkan menstruasi dalam ruang yang sunyi dan tertutup.
Banyak orang lebih nyaman memakai istilah lain.
“Datang bulan.”
“Tamu bulanan.”
“Lagi halangan.”
Kebiasaan itu terlihat sederhana. Akan tetapi, kebiasaan tersebut menunjukkan satu kenyataan penting: masyarakat belum sepenuhnya nyaman membicarakan menstruasi secara terbuka.
Stigma yang Tumbuh Bersama Kita
Akar persoalannya bukan terletak pada menstruasi itu sendiri. Akar persoalan muncul dari cara masyarakat memaknainya.
Selama bertahun-tahun, berbagai mitos terus beredar. Sebagian orang mengaitkan darah menstruasi dengan sesuatu yang kotor. Sebagian lainnya mempercayai larangan-larangan yang tidak memiliki dasar ilmiah. Banyak keluarga bahkan memilih menghindari pembicaraan tentang kesehatan reproduksi.
Pilihan untuk diam melahirkan masalah baru.
Banyak anak perempuan memasuki masa pubertas tanpa informasi yang cukup. Mereka melihat perubahan pada tubuhnya, tetapi tidak memahami proses yang sedang berlangsung.
Sebagian merasa takut ketika menstruasi pertama datang. Sebagian lain memilih memendam pertanyaan karena khawatir mendapat penilaian negatif.
Situasi itu memperlihatkan bahwa persoalan menstruasi jauh melampaui urusan biologis.
Stigma menciptakan budaya diam.
Budaya diam membatasi pengetahuan.
Keterbatasan pengetahuan membuat kesalahpahaman terus bertahan.
Ketika Akses Menjadi Kemewahan
Di kota besar, banyak perempuan dapat membeli pembalut dengan mudah. Mereka juga memiliki akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi yang memadai. Namun, kondisi tersebut belum menjangkau semua wilayah.
Sebagian perempuan masih kesulitan memperoleh produk menstruasi yang layak. Sebagian lainnya harus menghadapi keterbatasan air bersih dan ruang pribadi untuk menjaga kebersihan diri.
Konsekuensinya muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Seorang siswi mungkin memilih tidak masuk sekolah saat menstruasi. Remaja lain bisa kehilangan rasa percaya diri karena minimnya pemahaman tentang tubuhnya sendiri. Di tempat lain, perempuan menghadapi risiko kesehatan yang lebih besar akibat fasilitas sanitasi yang buruk.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa menstruasi tidak hanya berkaitan dengan kesehatan reproduksi.
Topik ini juga menyentuh pendidikan, topik ini juga menyentuh kesempatan hidup dan topik ini juga menyentuh kualitas hidup perempuan.
Saat kebutuhan dasar sulit dijangkau, perempuan harus menanggung beban tambahan yang sering luput dari perhatian publik.
Mengapa Kita Masih Menyembunyikannya?
Banyak orang menyebut menstruasi sebagai urusan pribadi. Di sisi lain, masyarakat terus menciptakan aturan tidak tertulis tentang bagaimana perempuan harus bersikap ketika mengalaminya.
Pembeli sering menerima kantong hitam untuk menyimpan pembalut.
Industri iklan kerap mengganti warna darah dengan cairan biru.
Percakapan sehari-hari terus melahirkan istilah pengganti untuk menghindari kata menstruasi.
Setiap praktik tersebut mungkin tampak kecil. Namun ketika praktik itu berulang selama bertahun-tahun, masyarakat membangun satu pesan yang sama: menstruasi harus disembunyikan.
Pesan itu memperkuat rasa malu, pesan itu membatasi ruang diskusi dan pesan itu membuat banyak perempuan enggan membicarakan tubuhnya sendiri.
Padahal menstruasi merupakan bagian normal dari kehidupan manusia.
Saatnya Mengubah Cara Pandang
Hari Kebersihan Menstruasi yang diperingati setiap 28 Mei mengingatkan dunia tentang pentingnya kesehatan dan kebersihan menstruasi. Peringatan ini juga mengajak masyarakat untuk melihat persoalan tersebut secara lebih terbuka.
Namun perubahan tidak akan lahir dari kampanye tahunan semata.
Sekolah perlu menghadirkan pendidikan kesehatan reproduksi yang lebih baik.
Keluarga perlu membuka ruang percakapan yang lebih sehat.
Pemerintah perlu memperluas akses sanitasi dan produk menstruasi.
Masyarakat perlu menghentikan stigma yang selama ini membebani perempuan.
Pada akhirnya, persoalan ini tidak hanya berbicara tentang darah menstruasi.
Persoalan ini menyangkut hak perempuan untuk memahami tubuhnya sendiri.
Persoalan ini menyangkut martabat manusia.
Jika menstruasi merupakan bagian alami dari kehidupan, mengapa kita masih menyembunyikannya?
Barangkali yang perlu berubah bukan tubuh perempuan, melainkan cara kita memandangnya. @dimas







