Sabtu, Juni 27, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Guru Merdeka atau Guru Tersertifikasi?

by teguh
Mei 2, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter
Tanggal 2 Mei selalu datang dengan seremoni. Setiap tahun, nama Ki Hadjar Dewantara kembali disebut. Namun, tahun ini ada tambahan narasi sertifikasi guru hampir tembus 100 persen. Lalu, pertanyaannya sederhana ini kabar baik, atau sekadar angka yang terlihat baik?

Tabooo.id: Edge – Pertama, pemerintah memang punya target jelas. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, menyebut bahwa Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan peningkatan jumlah guru tersertifikasi. Bahkan, dari 65 persen atau sekitar 1,9 juta guru, kini melonjak menjadi 92 persen atau 2,7 juta guru pada 2026.

“Semakin banyak guru yang tersertifikasi, maka semakin banyak pula guru kita yang profesional dan sejahtera,” kata Fajar, Kamis (30/04/2026).

Sekilas, pernyataan itu terdengar logis. Namun, jika ditarik lebih dalam, muncul pertanyaan yang lebih besar: apakah profesionalitas benar-benar lahir dari sertifikat?

Di satu sisi, sertifikasi memang menjanjikan kesejahteraan melalui Tunjangan Profesi Guru (TPG). Selain itu, sistem juga menetapkan standar yang jelas mulai dari beban mengajar 24 jam hingga penilaian kinerja minimal “Baik”. Dengan kata lain, semuanya terukur.

Akan tetapi, di sisi lain, justru di situlah letak problemnya. Karena ketika semua diukur, pendidikan perlahan kehilangan ruang tak terukur yakni relasi, empati, dan makna.

Konteks Sejarah

Jika kita mundur ke era kemerdekaan, peran guru jauh berbeda. Saat itu, guru bukan sekadar profesi. Sebaliknya, mereka adalah penggerak kesadaran.

Ini Belum Selesai

Bayar Tepat Waktu, Layanan Kapan Tepat?

Reformati: Ketika Jalanan Menjadi Pengadilan Kekuasaan

Ki Hadjar Dewantara pernah mengatakan:

“Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.”
Artinya, guru memimpin, membangun, sekaligus mendorong dari belakang.

Namun kini, peran itu mulai bergeser. Bukan hilang, tetapi berubah arah.

Guru tidak hanya mengajar. Mereka juga harus menginput data, mengejar jam, serta memastikan sistem tidak menandai mereka sebagai “tidak memenuhi syarat”.

Suara Kritis

Dalam konteks ini, sejumlah akademisi sudah lama mengingatkan. Sejarawan pendidikan Asvi Warman Adam pernah menyoroti kecenderungan “formalisasi tanpa substansi”.

Sementara itu, sosiolog Ariel Heryanto juga menyebut bahwa sistem modern sering kali lebih sibuk mengukur daripada memahami.

Dengan demikian, persoalannya bukan pada sertifikasi itu sendiri. Melainkan pada cara kita memaknainya.

Twist (Tabooo Core)

Ini bukan sekadar kebijakan sertifikasi. Sebaliknya, ini adalah perubahan cara kita melihat guru. Dari pendidik manusia menjadi unit yang terverifikasi.

Human ImpactT

Lalu, dampaknya terasa dekat. Jika kamu pernah punya guru yang menginspirasi, kemungkinan besar itu bukan karena sertifikatnya. Sebaliknya, itu karena cara dia mengajar, cara dia peduli, dan cara dia memahami muridnya.

Namun sekarang, ketika sistem lebih fokus pada angka, relasi justru berisiko terpinggirkan. Akibatnya, yang perlahan hilang bukan hanya kualitas. Tetapi juga makna.

Analisis Tabooo

Di satu sisi, pemerintah ingin meningkatkan profesionalitas. Itu wajar. Bahkan, itu penting.

Namun di sisi lain, pendidikan bukan industri manufaktur. Oleh karena itu, tidak semua hal bisa distandardisasi.

Ironisnya, ketika semua guru harus memenuhi parameter yang sama, kreativitas justru bisa tereduksi. Padahal, pendidikan seharusnya hidup dari keberagaman cara mengajar.

Lebih jauh lagi, kita terus merayakan “kemerdekaan pendidikan” setiap 2 Mei. Akan tetapi, pada saat yang sama, kita juga mempersempit definisi tentang apa itu guru yang “layak”.

Closing

Akhirnya, Hardiknas seharusnya bukan hanya tentang capaian angka. Sebaliknya, ini tentang arah.

Karena jika guru hanya dinilai dari sertifikat, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar kualitas. Melainkan kemerdekaannya.

Kalimat Nyentil

Kalau guru harus memenuhi semua syarat sistem, lalu siapa yang memastikan sistem itu masih manusiawi?. @teguh

Tags: guruHardiknasPendidikanSosiologWakil Menteri Pendidikan

Kamu Melewatkan Ini

Prestasi Tinggi, Data Ter-hidden: Hak Anak Nyaris Tersingkir dari SMP Negeri

Prestasi Tinggi, Data Ter-hidden: Hak Anak Nyaris Tersingkir dari SMP Negeri

by teguh
Juni 23, 2026

Sistem SPMB Palembang sempat menghalangi seorang siswa berprestasi masuk SMP negeri. Sistem tidak menampilkan data pendaftaran siswa itu pada daftar...

Di Tengah Budaya Hujatan, Seorang Ayah Masih Menulis “Pangapunten”

Di Tengah Budaya Hujatan, Seorang Ayah Masih Menulis “Pangapunten”

by teguh
Juni 18, 2026

Media sosial sering mengabadikan kesalahan lebih lama daripada kebaikan. Satu unggahan bisa berubah menjadi ruang sidang publik dalam hitungan menit....

Ketika Biaya Sekolah Lebih Menakutkan dari Ancaman Penjara

Ketika Biaya Sekolah Lebih Menakutkan dari Ancaman Penjara

by teguh
Juni 16, 2026

Lampu toko kelontong itu tetap menyala seperti biasa. Aktivitas warga berjalan normal. Namun di balik malam yang tampak tenang, seorang...

Next Post
“Sel Sultan” di Balik Jeruji: Ketika Penjara Masih Bisa Dibeli dengan Uang?

“Sel Sultan” di Balik Jeruji: Ketika Penjara Masih Bisa Dibeli dengan Uang?

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id