Selasa, Mei 5, 2026
tabooo.id
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Kriminal
      • Bisnis
      • Sports
    • Entertainment
      • Film
      • Game
      • Musik
      • Tabooo Book Club
    • Lifestyle
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Travel
  • Tabooo
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Talk
  • Life
  • Vibes
  • Figures
tabooo.id

Guru Merdeka atau Guru Tersertifikasi?

by teguh
Mei 2, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on FacebookShare on Twitter
Tanggal 2 Mei selalu datang dengan seremoni. Setiap tahun, nama Ki Hadjar Dewantara kembali disebut. Namun, tahun ini ada tambahan narasi sertifikasi guru hampir tembus 100 persen. Lalu, pertanyaannya sederhana ini kabar baik, atau sekadar angka yang terlihat baik?

Tabooo.id: Edge – Pertama, pemerintah memang punya target jelas. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, menyebut bahwa Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan peningkatan jumlah guru tersertifikasi. Bahkan, dari 65 persen atau sekitar 1,9 juta guru, kini melonjak menjadi 92 persen atau 2,7 juta guru pada 2026.

“Semakin banyak guru yang tersertifikasi, maka semakin banyak pula guru kita yang profesional dan sejahtera,” kata Fajar, Kamis (30/04/2026).

Sekilas, pernyataan itu terdengar logis. Namun, jika ditarik lebih dalam, muncul pertanyaan yang lebih besar: apakah profesionalitas benar-benar lahir dari sertifikat?

Di satu sisi, sertifikasi memang menjanjikan kesejahteraan melalui Tunjangan Profesi Guru (TPG). Selain itu, sistem juga menetapkan standar yang jelas mulai dari beban mengajar 24 jam hingga penilaian kinerja minimal “Baik”. Dengan kata lain, semuanya terukur.

Akan tetapi, di sisi lain, justru di situlah letak problemnya. Karena ketika semua diukur, pendidikan perlahan kehilangan ruang tak terukur yakni relasi, empati, dan makna.

Konteks Sejarah

Jika kita mundur ke era kemerdekaan, peran guru jauh berbeda. Saat itu, guru bukan sekadar profesi. Sebaliknya, mereka adalah penggerak kesadaran.

Ini Belum Selesai

Makan Bergizi Gratis dan Bayang-Bayang “Titik Dapur” yang Diperebutkan

Ejakulasi Tidak Merusak, Ilusi Itu Yang Menghancurkan

Ki Hadjar Dewantara pernah mengatakan:

“Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.”
Artinya, guru memimpin, membangun, sekaligus mendorong dari belakang.

Namun kini, peran itu mulai bergeser. Bukan hilang, tetapi berubah arah.

Guru tidak hanya mengajar. Mereka juga harus menginput data, mengejar jam, serta memastikan sistem tidak menandai mereka sebagai “tidak memenuhi syarat”.

Suara Kritis

Dalam konteks ini, sejumlah akademisi sudah lama mengingatkan. Sejarawan pendidikan Asvi Warman Adam pernah menyoroti kecenderungan “formalisasi tanpa substansi”.

Sementara itu, sosiolog Ariel Heryanto juga menyebut bahwa sistem modern sering kali lebih sibuk mengukur daripada memahami.

Dengan demikian, persoalannya bukan pada sertifikasi itu sendiri. Melainkan pada cara kita memaknainya.

Twist (Tabooo Core)

Ini bukan sekadar kebijakan sertifikasi. Sebaliknya, ini adalah perubahan cara kita melihat guru. Dari pendidik manusia menjadi unit yang terverifikasi.

Human ImpactT

Lalu, dampaknya terasa dekat. Jika kamu pernah punya guru yang menginspirasi, kemungkinan besar itu bukan karena sertifikatnya. Sebaliknya, itu karena cara dia mengajar, cara dia peduli, dan cara dia memahami muridnya.

Namun sekarang, ketika sistem lebih fokus pada angka, relasi justru berisiko terpinggirkan. Akibatnya, yang perlahan hilang bukan hanya kualitas. Tetapi juga makna.

Analisis Tabooo

Di satu sisi, pemerintah ingin meningkatkan profesionalitas. Itu wajar. Bahkan, itu penting.

Namun di sisi lain, pendidikan bukan industri manufaktur. Oleh karena itu, tidak semua hal bisa distandardisasi.

Ironisnya, ketika semua guru harus memenuhi parameter yang sama, kreativitas justru bisa tereduksi. Padahal, pendidikan seharusnya hidup dari keberagaman cara mengajar.

Lebih jauh lagi, kita terus merayakan “kemerdekaan pendidikan” setiap 2 Mei. Akan tetapi, pada saat yang sama, kita juga mempersempit definisi tentang apa itu guru yang “layak”.

Closing

Akhirnya, Hardiknas seharusnya bukan hanya tentang capaian angka. Sebaliknya, ini tentang arah.

Karena jika guru hanya dinilai dari sertifikat, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar kualitas. Melainkan kemerdekaannya.

Kalimat Nyentil

Kalau guru harus memenuhi semua syarat sistem, lalu siapa yang memastikan sistem itu masih manusiawi?. @teguh

Tags: guruHardiknasMerdekaPendidikanProfesionalitasSosiologTersertifikasiTPGWakil Menteri Pendidikan

Kamu Melewatkan Ini

Kuota Tanpa Batas? Nyaman Buat Kamu, Tapi Jaringan Bisa Kewalahan

Kuota Tanpa Batas? Nyaman Buat Kamu, Tapi Jaringan Bisa Kewalahan

by teguh
Mei 5, 2026

Kamu pasti pernah berharap kuota internet tidak hangus. Tanpa masa aktif. Bisa dipakai kapan saja. Kedengarannya ideal. Tapi operator seluler...

Celurit Ke Layar Global: Identitas, Estetika, dan Siapa yang Sebenarnya Bercerita?

Celurit Ke Layar Global: Identitas, Estetika, dan Siapa yang Sebenarnya Bercerita?

by teguh
Mei 5, 2026

Seorang aktor Indonesia berdiri tegap di sebuah frame, menggenggam celurit dengan tenang. Namun, ia tidak berada di ladang Madura. Bukan...

Ketika Celurit Naik Kelas: Dari Ladang Madura ke Layar Hollywood

Ketika Celurit Naik Kelas: Dari Ladang Madura ke Layar Hollywood

by teguh
Mei 5, 2026

Awalnya terlihat biasa. Namun, saat kamu perhatikan lebih lama, frame itu terasa janggal. Joe Taslim berdiri rapi, tenang, dan percaya...

Next Post
“Sel Sultan” di Balik Jeruji: Ketika Penjara Masih Bisa Dibeli dengan Uang?

“Sel Sultan” di Balik Jeruji: Ketika Penjara Masih Bisa Dibeli dengan Uang?

Pilihan Tabooo

Buku, Diskusi, dan Anak Muda: Cara Komunitas Madiun Book Party Menghidupkan Literasi Kota

Buku, Diskusi, dan Anak Muda: Cara Komunitas Madiun Book Party Menghidupkan Literasi Kota

Mei 3, 2026

Realita Hari Ini

Jual Beli Titik Dapur MBG Mengemuka, Siapa Bermain di Program Makan Gratis?

Jual Beli Titik Dapur MBG Mengemuka, Siapa Bermain di Program Makan Gratis?

Mei 5, 2026

Jurnalis di Papua Terus Diteror, Kebebasan Pers Masih Sekadar Janji?

Mei 5, 2026

Virus Langka Pecah di Laut: 3 Tewas, Dunia Mulai Khawatir

Mei 5, 2026

Saat Dunia Guncang, Barito Pacific Justru Tancap Gas 200% Lebih

Mei 5, 2026
tabooo.id

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
  • Sitemap

Stay in the Loop

  • Tabooo.id
    • Deep
    • Edge
    • Vibes
    • Talk
    • Check
    • Life
    • Figures
  • Tabooo Today
    • News
      • Global
      • Nasional
      • Regional
      • Bisnis
      • Kriminal
    • Entertainment
      • Film
      • Musik
      • Tabooo Book Club
      • Game
    • Lifestyle
      • Sports
      • Teknologi
      • Otomotif
      • Food
      • Health
      • Travel

© 2026 Tabooo.id