Tabooo.id: Deep – Dunia kembali menahan napas. Di Islamabad, dua kekuatan besar yang baru saja saling serang selama enam minggu kini duduk di meja yang sama. Namun, pertanyaan besar langsung muncul ini langkah menuju damai, atau sekadar jeda sebelum konflik berikutnya?
Di balik pertemuan itu, kepercayaan hampir tidak ada. Sebaliknya, kedua pihak justru membawa kepentingan yang saling bertabrakan.
Diplomasi Yang Berjalan di Atas Tekanan
Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan bertemu di Islamabad, Pakistan, pada 11 April 2026. Di satu sisi, delegasi AS datang dengan Wakil Presiden JD Vance, Steve Witkoff, dan Jared Kushner. Mereka tiba setelah singgah di Paris.
Di sisi lain, Iran mengirim delegasi yang dipimpin Mohammad Baqer Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi. Mereka sudah tiba sehari lebih awal.
Namun, sejak awal, suasana langsung tegang. Selain itu, tidak ada tanda-tanda kompromi.
Qalibaf menegaskan melalui X bahwa Iran menolak memulai pembicaraan sebelum AS memenuhi syarat utama. Syarat itu mencakup pembukaan blokir aset Iran serta gencatan senjata di Lebanon.
“Pembicaraan tidak akan dimulai sampai janji-janji tersebut dipenuhi,” tegasnya.
Dengan demikian, Iran menempatkan syarat politik sebagai pintu masuk utama negosiasi.
Dua Kepentingan Yang Saling Menolak
Sementara itu, dari Washington, respons yang muncul justru berlawanan arah. Gedung Putih belum memberikan pernyataan resmi. Namun, Donald Trump melontarkan pernyataan keras melalui media sosial.
Ia menyebut Iran tidak memiliki posisi tawar yang kuat dalam konflik ini.
“Orang Iran tampaknya tidak menyadari bahwa mereka tidak memiliki kartu apa pun,” kata Trump.
Di saat yang sama, JD Vance juga mengirim sinyal tekanan. Ia menegaskan bahwa AS menginginkan hasil nyata dari pertemuan ini.
“Jika mereka mencoba mempermainkan kita, mereka akan menemukan bahwa tim negosiasi tidak begitu responsif,” ujarnya.
Akibatnya, ruang diplomasi berubah menjadi arena uji kekuatan politik.
Lebanon dan Hormuz: Titik Api Yang Menyebar
Selain itu, konflik ini tidak berdiri sendiri. Iran menuntut agar isu Lebanon masuk dalam kesepakatan. Namun, AS dan Israel menolak mengaitkan operasi militer di Lebanon dengan negosiasi ini.
Di lapangan, pertempuran di Lebanon terus berlanjut. Serangan udara dan roket masih terjadi, sementara korban terus bertambah.
Lebih jauh lagi, Selat Hormuz memperbesar ketegangan global. Blokade Iran mengganggu arus energi dunia. Akibatnya, harga energi naik dan inflasi ikut terdorong di banyak negara.
Dengan kata lain, konflik ini tidak hanya bersifat regional, tetapi juga global.
Diplomasi Yang Berubah Jadi Perang Narasi
Pada titik ini, jelas bahwa konflik ini bukan sekadar perundingan damai. Sebaliknya, ini adalah pertarungan narasi antara dua kekuatan besar.
Iran menuntut pemulihan ekonomi dan pengakuan politik. Sementara itu, AS menekan dengan logika keamanan dan dominasi regional.
Oleh karena itu, kedua pihak tidak hanya bernegosiasi soal kesepakatan, tetapi juga soal siapa yang mengendalikan definisi “perdamaian”.
Dampaknya
Meskipun konflik ini terjadi jauh dari kehidupan sehari-hari, dampaknya tetap terasa secara langsung.
Pertama, harga energi global terus berfluktuasi. Kedua, inflasi di berbagai negara ikut meningkat. Ketiga, gangguan rantai pasok mulai terasa di banyak sektor.
Dengan demikian, konflik ini tidak bisa dianggap jauh dari kehidupan publik.
Pertanyaannya sampai kapan dunia harus menanggung konflik yang tidak pernah ia pilih?
Analisis Tabooo
Jika dilihat lebih dalam, pertemuan di Islamabad memperlihatkan pola yang sama berulang kali.
Di satu sisi, diplomasi digunakan sebagai alat penyelesaian konflik. Namun di sisi lain, diplomasi juga berubah menjadi alat tekanan politik.
Karena itu, negosiasi ini tidak hanya soal damai atau perang. Lebih dari itu, ini soal siapa yang lebih dulu memaksakan realitasnya kepada dunia.
Penutup
Pada akhirnya, dunia tidak hanya berhadapan dengan perang fisik.
Sebaliknya, dunia kini juga menghadapi perang narasi yang jauh lebih halus, tetapi tidak kalah berbahaya.
Lalu pertanyaannya tetap sama, kalau semua pihak mengaku ingin damai, mengapa dunia justru semakin tegang? @dimas







