Kamis, September 17, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Rupiah Hampir Tembus 18.000 per Dolar AS : Kita disuruh Hemat atau Donasi?

by jeje
Mei 20, 2026
in Edge
A A
Home Edge
Share on Facebook
Share on Twitter
Rupiah turun lagi. Kali ini ke Rp17.807 per dolar AS. Bagi sebagian ekonom, angka ini mungkin terdengar teknis. Namun, buat banyak orang, artinya terasa jauh lebih sederhana: hidup bisa makin mahal. Lucunya, setiap rupiah melemah, Indonesia seperti masuk ke episode serial yang sama.

Tabooo.id – Ekonom mulai berdebat. Bank Indonesia diminta memilih: menaikkan suku bunga atau tetap bertahan sambil berharap pasar kembali tenang. Turbulensi ini terjadi ketika Rupiah turun terhadap mata uang asing. Sementara itu, rakyat menjalani rutinitas lama. Mereka diminta sabar, berhemat, dan tetap tenang.

Padahal, rasa cemas tetap muncul.

Dolar Naik, Dompet Ikut Ketarik

Masalahnya, dolar mahal bukan cuma urusan trader dengan layar monitor berlapis.

Saat dolar naik, Rupiah Turun harga impor ikut terdorong. Industri mengeluarkan biaya lebih besar untuk bahan baku. Setelah itu, ongkos produksi ikut naik. Ujungnya jelas: harga barang di sekitar kamu perlahan berubah.

Kenaikannya sering datang diam-diam.

Ini Belum Selesai

Sopir Disandera, Mobil Dibakar: Tragedi Aris Sanda di Wamena

KPK Bongkar Dugaan Suap HGB: Urusan Tanah Berujung Koper Uang

Awalnya terasa biasa saja. Namun, lama-lama belanja mingguan terasa lebih mahal. Biaya hidup ikut bergerak naik, meski pemasukan masih berjalan di tempat.

Rasanya mirip seseorang yang bilang, “Kita tetap teman.” Awalnya terdengar baik-baik saja. Namun, perlahan ia menghilang tanpa pamit.

Stabilitas atau Napas Dunia Usaha?

Sebagian ekonom mendorong Bank Indonesia menaikkan suku bunga ke 5 persen demi menahan pelemahan rupiah. Namun, ekonom lain justru meminta BI berhati-hati. Mereka khawatir bunga tinggi membuat sektor usaha makin sulit bergerak.

Artinya sederhana.

Kalau bunga naik, pelaku usaha bisa makin berat berkembang. Sebaliknya, kalau bunga tetap, rupiah berisiko makin tertekan.

Pilihan ini terasa seperti dilema anak kos akhir bulan: makan enak hari ini atau memastikan listrik tetap menyala besok.

Ini Bukan Sekadar Angka Kurs

Yang sebenarnya membuat lelah bukan angka Rp17 ribu sekian.

Masalah utamanya adalah rasa déjà vu.

Setiap rupiah melemah, publik kembali mendengar kalimat yang sama: fundamental ekonomi kuat, situasi terkendali, jangan panik.

Namun, di sisi lain, harga kebutuhan naik perlahan. Kelas menengah mulai menghitung ulang pengeluaran. Banyak orang akhirnya belajar bertahan hidup dengan standar baru.

Ironisnya, kita mulai menganggap semua ini normal.

Padahal, kalau publik terus terbiasa, mungkin masalah terbesar bukan rupiah yang melemah.

Masalah sebenarnya muncul ketika standar hidup diam-diam ikut turun, dan kita tidak lagi sadar sedang kehilangan banyak hal. @jeje

Tags: Ekonomi IndonesiaGeopolitikNasionalRupiah MelemahSosial & Publik

Kamu Melewatkan Ini

Kemenbud Rilis Lima Jilid Sejarah Indonesia, Siapa yang Menentukan Ingatan Bangsa?

Kemenbud Rilis Lima Jilid Sejarah Indonesia, Siapa yang Menentukan Ingatan Bangsa?

by Tabooo
September 1, 2026

Kementerian Kebudayaan merilis lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Lebih dari 5.000 halaman membawa pembaca dari...

Kericuhan Pejompongan Makan Korban, Seorang Pedagang Cermin Tewas

Kericuhan Pejompongan Makan Korban, Seorang Pedagang Cermin Tewas

by Tabooo
Agustus 28, 2026

Kericuhan di Pejompongan, Jakarta Pusat, menelan korban jiwa. Bambang Setiawan (59), pedagang cermin asal Bendungan Hilir, meninggal setelah dianiaya saat...

Slipi-Palmerah Panas, Pos Polisi Rusak dan Massa Masih Bertahan

Slipi-Palmerah Panas, Pos Polisi Rusak dan Massa Masih Bertahan

by Tabooo
Agustus 28, 2026

Ketegangan belum reda di Slipi-Palmerah hingga Kamis malam. Polisi masih menembakkan gas air mata, sementara massa bertahan dan pos polisi...

Next Post
Rupiah Rp16.800, Ekonomi 6,5%: Janji Fiskal atau Ujian Realitas 2027

Rupiah Rp16.800, Ekonomi 6,5%: Janji Fiskal atau Ujian Realitas 2027

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id