Rupiah turun lagi. Kali ini ke Rp17.807 per dolar AS. Bagi sebagian ekonom, angka ini mungkin terdengar teknis. Namun, buat banyak orang, artinya terasa jauh lebih sederhana: hidup bisa makin mahal. Lucunya, setiap rupiah melemah, Indonesia seperti masuk ke episode serial yang sama.
Tabooo.id – Ekonom mulai berdebat. Bank Indonesia diminta memilih: menaikkan suku bunga atau tetap bertahan sambil berharap pasar kembali tenang. Turbulensi ini terjadi ketika Rupiah turun terhadap mata uang asing. Sementara itu, rakyat menjalani rutinitas lama. Mereka diminta sabar, berhemat, dan tetap tenang.
Padahal, rasa cemas tetap muncul.
Dolar Naik, Dompet Ikut Ketarik
Masalahnya, dolar mahal bukan cuma urusan trader dengan layar monitor berlapis.
Saat dolar naik, Rupiah Turun harga impor ikut terdorong. Industri mengeluarkan biaya lebih besar untuk bahan baku. Setelah itu, ongkos produksi ikut naik. Ujungnya jelas: harga barang di sekitar kamu perlahan berubah.
Kenaikannya sering datang diam-diam.
Awalnya terasa biasa saja. Namun, lama-lama belanja mingguan terasa lebih mahal. Biaya hidup ikut bergerak naik, meski pemasukan masih berjalan di tempat.
Rasanya mirip seseorang yang bilang, “Kita tetap teman.” Awalnya terdengar baik-baik saja. Namun, perlahan ia menghilang tanpa pamit.
Stabilitas atau Napas Dunia Usaha?
Sebagian ekonom mendorong Bank Indonesia menaikkan suku bunga ke 5 persen demi menahan pelemahan rupiah. Namun, ekonom lain justru meminta BI berhati-hati. Mereka khawatir bunga tinggi membuat sektor usaha makin sulit bergerak.
Artinya sederhana.
Kalau bunga naik, pelaku usaha bisa makin berat berkembang. Sebaliknya, kalau bunga tetap, rupiah berisiko makin tertekan.
Pilihan ini terasa seperti dilema anak kos akhir bulan: makan enak hari ini atau memastikan listrik tetap menyala besok.
Ini Bukan Sekadar Angka Kurs
Yang sebenarnya membuat lelah bukan angka Rp17 ribu sekian.
Masalah utamanya adalah rasa déjà vu.
Setiap rupiah melemah, publik kembali mendengar kalimat yang sama: fundamental ekonomi kuat, situasi terkendali, jangan panik.
Namun, di sisi lain, harga kebutuhan naik perlahan. Kelas menengah mulai menghitung ulang pengeluaran. Banyak orang akhirnya belajar bertahan hidup dengan standar baru.
Ironisnya, kita mulai menganggap semua ini normal.
Padahal, kalau publik terus terbiasa, mungkin masalah terbesar bukan rupiah yang melemah.
Masalah sebenarnya muncul ketika standar hidup diam-diam ikut turun, dan kita tidak lagi sadar sedang kehilangan banyak hal. @jeje





