Rabu, Mei 27, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kita Baik-Baik Saja, Atau Hanya Terlihat Baik-Baik Saja?

by jeje
April 11, 2026
in Vibes
A A
Home Vibes
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Vibes – Sejak kecil, kita mengenal satu hal sederhana. Rumah adalah ibu.

Di sana, kita tidak perlu menjelaskan apa pun. Bahkan tanpa kata, semuanya terasa dimengerti.

Namun, seiring waktu, ada sesuatu yang perlahan bergeser. Bukan tempatnya, bukan juga orangnya.

Sebaliknya, cara kita melihat diri sendiri mulai berubah.

Jarak yang Berubah Bentuk

Awalnya, jarak hanya soal kilometer. Kita bisa mengukurnya, bahkan merencanakannya.

Ini Belum Selesai

Dakon: Permainan Kecil dengan Filosofi Besar

Kota yang Kehilangan Jiwa: Saat Sejarah Tinggal Pajangan

Akan tetapi, semakin dewasa, jarak itu tidak lagi terlihat. Ia berubah menjadi perasaan yang sulit dijelaskan.

Rasa ragu mulai muncul. Selain itu, perasaan tidak cukup ikut tumbuh.

Karena itu, pulang tidak lagi sekadar perjalanan. Pulang menjadi keputusan yang sering kita tunda.

Kebiasaan yang Tidak Kita Sadari

Tanpa terasa, kita mulai terbiasa menunda.

Ketika ibu bertanya, jawaban yang muncul sering kali “nanti”. Lalu, kita mencari alasan yang terdengar logis.

Di sisi lain, kita juga belajar terlihat baik-baik saja. Kita tertawa, kita bercerita, kita tampak kuat.

Padahal, ada hal-hal yang masih kita simpan sendiri.

Akibatnya, “nanti” yang sederhana berubah menjadi jarak yang semakin panjang.

Pelan, Tapi Mengena

Buku Ada Duka di Bawah Telapak Kaki Ibu terasa seperti lagu yang pelan.

Tidak keras, tidak memaksa. Namun demikian, ia perlahan menetap.

Justru karena kesederhanaannya, cerita di dalamnya terasa dekat. Bahkan, ia seperti memantulkan pengalaman yang pernah kita alami.

Yang Sebenarnya Berubah

Sering kali, kita merasa rumah sudah berbeda.

Padahal, jika dipikir ulang, rumah tetap sama. Ibu tetap menunggu dengan cara yang sama.

Yang berubah justru diri kita sendiri.

Perlahan, muncul keyakinan bahwa kita harus membawa sesuatu saat pulang. Kita merasa perlu menjadi versi yang lebih baik.

Padahal, mungkin yang dibutuhkan hanya keberanian untuk kembali apa adanya.

Refleksi yang Tidak Nyaman

Pada akhirnya, jarak itu bukan tentang rumah.

Lebih jauh lagi, jarak itu berbicara tentang diri kita.

Bagaimana kita menilai diri sendiri. Bagaimana kita memberi syarat untuk merasa cukup.

Dan tanpa disadari, kita menjadi asing bagi diri sendiri.

Penutup: Pulang Itu Keberanian

Pulang tidak selalu membutuhkan perjalanan jauh.

Kadang, pulang hanya membutuhkan keberanian.

Keberanian untuk jujur. Keberanian untuk tidak sempurna. Selain itu, keberanian untuk percaya bahwa kita tetap layak diterima.

Karena rumah tidak pernah pergi.

Namun, keberanian untuk kembali sering kali yang hilang. @jeje

Tags: Gen Zibumental healthOverthinkingPulangRumahtabooo

Kamu Melewatkan Ini

Secangkir Kopi Tiap Hari: Ritual Produktif atau Alarm Tubuh yang Pelan-Pelan Menyala?

Secangkir Kopi Tiap Hari: Ritual Produktif atau Alarm Tubuh yang Pelan-Pelan Menyala?

by teguh
Mei 26, 2026

Buat sebagian orang, pagi tanpa kopi terasa seperti laptop tanpa baterai hidup, tapi sulit menyala. Secangkir kopi sudah berubah jadi...

Socrates Tidak Mati, Kita yang Berhenti Bertanya

Filsafat Socrates: Mengapa Berpikir Kritis Semakin Langka di Era Digital

by jeje
Mei 22, 2026

Ada sesuatu yang terasa janggal di zaman ini. Informasi datang tanpa henti. Namun, manusia justru semakin sulit membedakan mana pengetahuan...

Wartonagoro: Tabooology Bukan untuk Menyenangkan Siapapun

Wartonagoro: Tabooology Bukan untuk Menyenangkan Siapapun

by Tabooo
Mei 18, 2026

Menurut Wartonagoro, manusia modern bukan kekurangan informasi, tetapi kehilangan keberanian untuk berpikir jujur tanpa takut penilaian sosial.

Next Post
Dari Aachen ke Istana: Cerita Otak Besar di Balik Bangsa

Dari Aachen ke Istana: Cerita Otak Besar di Balik Bangsa

Pilihan Tabooo

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

Mei 24, 2026

Realita Hari Ini

Kasus Pelecehan, Pimpinan Ponpes di Lombok Timur Ditangkap

Kasus Pelecehan, Pimpinan Ponpes di Lombok Timur Ditangkap

Februari 21, 2026

Mendagri Tegaskan Wakil Kepala Daerah Ikut Hadir di Rakornas 2026

Februari 2, 2026

MBG Bukan Makan Bergizi Gratis, Ini Versi “Mantap Banget Gila”

April 9, 2026

Ribuan Pemudik Padati Terminal Tirtonadi Solo, Lonjakan Penumpang Capai 50 Persen

Maret 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id