Kamis, Mei 14, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kasus Pelecehan, Pimpinan Ponpes di Lombok Timur Ditangkap

by dimas
Februari 21, 2026
in Reality, Regional
A A
Home Reality
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Regional – Kasus kekerasan seksual kembali mengguncang dunia pendidikan keagamaan di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Aparat Polda NTB menetapkan pimpinan salah satu pondok pesantren di wilayah Sukamulia berinisial MJ sebagai tersangka dugaan pelecehan seksual terhadap santriwati.

Polisi menangkap MJ saat ia berusaha meninggalkan Indonesia melalui Bandara Internasional Lombok. Penangkapan ini sekaligus menegaskan bahwa penyidik melihat adanya risiko pelarian. Karena itu, aparat bergerak cepat sebelum tersangka benar-benar keluar dari wilayah hukum Indonesia.

Direktur Reserse PPA-PPO Polda NTB, Ni Made Pujawati, membenarkan status tersangka tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa penyidik masih menyusun keterangan lengkap untuk publik. Sementara itu, penyidik terus mendalami kemungkinan adanya korban lain.

Di sisi lain, Ketua LPA Mataram, Joko Jumadi, memastikan pihaknya sudah menerima SPDP dari kepolisian. Dengan demikian, proses hukum resmi telah berjalan. Selain itu, tim pendamping langsung memperkuat layanan pemulihan trauma bagi korban.

Kronologi Terungkap dari Pengakuan Korban

Kasus ini terkuak setelah korban berani melapor. Awalnya, dua korban datang ke lembaga pendamping untuk menceritakan pengalaman mereka. Setelah itu, pendamping membantu proses pelaporan ke polisi.

Ini Belum Selesai

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Menurut pendamping korban, pelaku menjalankan aksinya dalam waktu panjang. Bahkan, dalam salah satu kasus, kekerasan berlangsung hingga korban menikah. Lebih jauh lagi, pelaku masih memanipulasi korban setelah korban berstatus istri. Akibatnya, korban kini mengalami depresi berat dan membutuhkan pendampingan intensif.

Modus Manipulasi Agama dan Psikologis

Pelaku diduga menggunakan manipulasi psikologis dan tafsir agama yang disesatkan. Ia meyakinkan korban bahwa hubungan seksual merupakan bagian dari “pembersihan rahim”. Selain itu, pelaku juga mengklaim tindakan tersebut terjadi karena dirinya kerasukan makhluk gaib.

Akibat narasi tersebut, korban merasa takut sekaligus bingung. Di satu sisi, korban mempercayai pelaku sebagai figur otoritas. Namun di sisi lain, korban tidak memahami bahwa dirinya sedang menjadi korban kejahatan seksual.

Korban Paling Terdampak: Santriwati Muda dan Keluarganya

Kasus ini paling berdampak pada santriwati usia remaja. Mereka berada dalam posisi rentan karena bergantung pada sistem pendidikan berasrama. Selain itu, keluarga korban juga menanggung tekanan sosial dan psikologis.

Lebih luas lagi, masyarakat mulai mempertanyakan sistem pengawasan di lembaga pendidikan tertutup. Karena itu, kasus ini tidak hanya menjadi perkara pidana, tetapi juga menjadi alarm sosial bagi dunia pendidikan.

Antara Proses Hukum dan Pemulihan Korban

Saat ini, proses hukum terhadap tersangka terus berjalan. Sementara itu, lembaga pendamping fokus memulihkan kondisi mental korban. Pendamping menyediakan terapi psikologis, bantuan hukum, serta perlindungan selama persidangan berlangsung.

Pada akhirnya, kasus ini bukan hanya soal satu pelaku dan beberapa korban. Sebaliknya, kasus ini mengingatkan publik bahwa kekuasaan tanpa pengawasan bisa berubah menjadi ancaman. Dan ironisnya, ancaman itu justru bisa muncul di tempat yang seharusnya menjadi ruang paling aman bagi anak-anak untuk belajar dan bertumbuh. @dimas

Tags: AnakKasuskekerasanmataramNTBPelecehanPerlindunganSeksual

Kamu Melewatkan Ini

Perempuan Pembela HAM: Antara Keberanian Melawan dan Risiko Kehilangan Hidup

Perempuan Pembela HAM: Antara Keberanian Melawan dan Risiko Kehilangan Hidup

by dimas
Mei 11, 2026

Perempuan pembela HAM sering melangkah dari pengalaman melihat ketidakadilan yang terjadi di sekitar mereka. Keberanian itu mendorong mereka bersuara, mendampingi...

Nobar Film Pesta Babi Dibubarkan, Ada Apa dengan Unram?

Nobar Film Pesta Babi Dibubarkan, Ada Apa dengan Unram?

by Tabooo
Mei 8, 2026

Film Pesta Babi memicu ketegangan di lingkungan Universitas Mataram pada Kamis malam, 7 Mei 2026. Mahasiswa menggelar acara nonton bareng....

Ejakulasi Tidak Merusak Ilusi Itu Yang Menghancurkan

Ejakulasi Tidak Merusak, Ilusi Itu Yang Menghancurkan

by Anisa
Mei 5, 2026

Kamu diajarkan bahwa menahan ejakulasi bikin kamu lebih kuat. Lebih fokus. Lebih “alpha”. Namun tubuhmu tidak pernah tunduk pada narasi...

Next Post
Tragedi Kota Tual: Satu Helm, Satu Kematian dan Seribu Pertanyaan

Tragedi Kota Tual: Satu Helm, Satu Kematian dan Seribu Pertanyaan

Pilihan Tabooo

Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Peristiwa Yesus Naik Ke Surga: Saat Kehilangan Jadi Awal Perjalanan Baru

Mei 10, 2026

Realita Hari Ini

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Pajak Kendaraan Diganti Jalan Berbayar: Terobosan Berani atau Eksperimen Berisiko?

Mei 13, 2026

MPR RI Nonaktifkan Juri dan MC LCC Kalbar Usai Polemik Jawaban DPD Viral

Mei 12, 2026

Rapat Stunting atau Waktu Main? DPRD Jember Kini Disorot Publik

Mei 13, 2026

MBG Bisa Ditolak, Prabowo Persilakan Anak Orang Kaya Mundur

Mei 12, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Figures

© 2026 Tabooo.id