Sabtu, Juli 18, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Kakek Mujiran, Getah Karet, dan Wajah Hukum yang Keras ke Bawah

by dimas
Mei 26, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Kakek Mujiran dipenjara karena dugaan pencurian getah karet Rp 8,8 juta. Kasus ini memicu kritik soal tajamnya hukum kepada rakyat kecil.

Tabooo.id – Udara dini hari masih basah ketika Mujiran berjalan pelan di antara pohon-pohon karet di Lampung Selatan. Di usia 74 tahun, lelaki itu masih bekerja sebagai penyadap getah. Tangannya kasar. Punggungnya membungkuk. Hidup memaksanya terus bergerak meski tubuhnya tak lagi kuat melawan waktu.

Namun Februari 2026 mengubah segalanya.

Bukan penyakit yang datang menghampirinya. Bukan pula bantuan dari negara. Polisi dan proses hukum justru lebih dulu mengetuk hidupnya.

Kakek Mujiran dituduh mengambil sisa getah karet di kebun milik PT Perkebunan Nusantara I Regional VII Kebun Bergen Afdeling I, Desa Wonodadi, Kecamatan Tanjung Sari, Lampung Selatan. Nilai kerugian yang diklaim perusahaan sekitar Rp 8,8 juta.

Angka itu mungkin kecil bagi korporasi negara. Tetapi angka itu cukup untuk menyeret seorang lansia ke penjara.

Ini Belum Selesai

Canting Kuning: Ketika Batik Tulis Berjuang Melawan Zaman

Supersemar: Ketika Selembar Surat Mengubah Arah Republik

Dan publik pun mulai bertanya sekeras ini negara bekerja ketika berhadapan dengan rakyat kecil?

Dua Karung yang Berubah Jadi Perkara Besar

Kasus itu bermula saat Mujiran menyadap getah karet di area perkebunan tempatnya bekerja. Ia lalu menyimpan getah tersebut di semak-semak. Keesokan harinya, ia meminta bantuan Nur Wahid untuk mengangkut dua karung menggunakan sepeda motor.

Petugas keamanan kebun menangkap keduanya di tengah perjalanan.

Pemeriksaan kemudian menemukan delapan karung lain di sekitar lokasi. Totalnya mencapai 10 karung dengan berat sekitar 550 kilogram.

Namun Mujiran hanya mengakui dua karung yang hendak dijual. Ia membantah delapan karung lainnya miliknya.

Meski begitu, proses hukum terus berjalan.

Negara tetap membawa lelaki renta itu ke ruang tahanan. Rompi tahanan pun menempel di tubuh seorang kakek yang bahkan berjalan saja sudah pelan.

Pemandangan itu terasa ganjil.

Di negeri yang penuh kasus besar, seorang lansia justru lebih cepat duduk di kursi terdakwa karena sisa getah karet.

Ketika Kemiskinan Berhadapan dengan Pasal

Mujiran akhirnya menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Kalianda. Di ruang sidang itulah kasus ini berubah menjadi simbol yang lebih besar dari sekadar perkara pencurian.

Publik melihat satu kenyataan pahit: kemiskinan sering lebih mudah dipidana dibanding diselesaikan.

Mujiran tidak menyangkal perbuatannya. Ia mengaku terdesak kebutuhan ekonomi keluarga. Setelah majelis hakim mengabulkan pengalihan penahanan, ia keluar dari tahanan dengan wajah lega bercampur malu.

“Setelah ini saya mau usaha, kerja apa saja,” katanya lirih.

Kalimat itu sederhana. Tetapi kalimat itu juga menyimpan luka sosial yang panjang.

Seorang lelaki tua harus meminta maaf kepada sistem karena mencoba bertahan hidup.

Ironisnya, banyak kasus besar yang merugikan negara miliaran rupiah justru berjalan lambat. Sebagian pelaku korupsi bahkan masih bisa tersenyum di depan kamera sambil berbicara soal hukum dan keadilan.

Sementara itu, Mujiran harus merasakan dinginnya sel tahanan karena getah karet.

Di titik itulah publik mulai merasa ada yang timpang.

Hukum terlihat sangat tegas ke bawah, tetapi sering kehilangan tenaga ketika berhadapan dengan kekuasaan dan modal besar.

Negara Akhirnya Bicara

Sorotan publik yang membesar membuat petinggi negara akhirnya turun tangan.

Kepala Badan Pengelola BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, mengecam keras langkah kriminalisasi terhadap Mujiran.

Ia menegaskan bahwa BUMN berdiri untuk rakyat, bukan untuk menakut-nakuti rakyat kecil.

Pernyataan itu terdengar menenangkan. Namun pernyataan itu sekaligus menunjukkan satu hal penting, negara sendiri sadar ada pendekatan yang kehilangan rasa kemanusiaan.

Dony meminta penghentian proses hukum, bantuan sosial, hingga pekerjaan untuk Mujiran atau keluarganya.

Langkah itu penting. Tetapi pertanyaan publik belum hilang.

Mengapa empati baru muncul setelah kasus ini viral?

Mengapa ruang damai terasa begitu sulit sebelum tekanan publik datang?

Ini Bukan Sekadar Getah Karet

Kasus Mujiran menyentuh banyak orang karena publik tidak melihat angka Rp 8,8 juta semata.

Publik melihat wajah ayah mereka. Wajah kakek mereka. Wajah rakyat kecil yang bekerja keras tetapi tetap hidup di ujung ketidakpastian.

Dan mungkin di situlah masalah sebenarnya.

Negeri ini sering memandang kemiskinan sebagai pelanggaran, bukan sebagai kegagalan sistem sosial.

Ketika orang miskin terdesak lalu melanggar aturan, negara bergerak cepat memakai pasal. Namun ketika rakyat kecil kehilangan pekerjaan, kehilangan akses hidup layak, atau kehilangan harapan, sistem sering berjalan lambat.

Kasus Mujiran akhirnya menjadi lebih dari sekadar perkara hukum.

Kasus ini membuka pertanyaan besar tentang wajah keadilan di Indonesia hari ini.

Apakah hukum benar-benar hadir untuk melindungi manusia?
Atau hukum hanya bekerja cepat ketika yang berdiri di hadapannya adalah orang kecil?

Sidang lanjutan pada 3 Juni 2026 nanti memang akan menentukan nasib hukum Mujiran. Tetapi luka sosial dari kasus ini kemungkinan jauh lebih panjang dari putusan pengadilan.

Sebab ketika seorang kakek renta harus merasakan penjara karena sisa getah karet, publik tidak hanya melihat sebuah perkara.

Publik melihat cermin tentang negara yang kadang terlalu sibuk menjaga aset, sampai lupa menjaga rasa kemanusiaan. @dimas

Tags: Hukum IndonesiaKakek MujiranKeadilan SosialLampung Selatanrakyat kecilRestorative Justice

Kamu Melewatkan Ini

Hukum Tanpa Nurani: Saat Etika Tak Lagi Mengawal Kekuasaan

Hukum Tanpa Nurani: Saat Etika Tak Lagi Mengawal Kekuasaan

by dimas
Juli 17, 2026

Hukum tanpa nurani membuat kepercayaan publik terus terkikis. Mengapa Indonesia membutuhkan Peradilan Etika Nasional untuk menjaga integritas, akuntabilitas, dan masa...

Dari Halmahera ke Istana: Menagih Keadilan untuk Timur

Dari Halmahera ke Istana: Menagih Keadilan untuk Timur

by dimas
Juli 17, 2026

Mahasiswa asal Maluku Utara menyuarakan ketimpangan pembangunan dalam Aksi Kamisan, menagih pemerataan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan bagi Indonesia Timur. Tabooo.id...

Kalau Polisi Harus Membangun Sekolah, Negara Sedang Sibuk Membangun Apa?

Kalau Polisi Harus Membangun Sekolah, Negara Sedang Sibuk Membangun Apa?

by teguh
Juli 17, 2026

Pagi di pelosok Sukabumi selalu datang dengan cara yang sederhana. Kabut turun perlahan, jalanan tanah mulai dipenuhi langkah anak-anak yang...

Next Post
Harga Cabai Naik, Petani Sumatera Tetap Tercekik

Harga Cabai Naik, Petani Sumatera Tetap Tercekik

Madilog Series

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026

Marx Series

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id