Harga cabai naik di kota, tetapi petani Sumatera tetap tertekan akibat rantai distribusi panjang yang membuat keuntungan tidak pernah benar-benar sampai ke ladang.
Tabooo.id – Kabut tipis masih menggantung di lereng Karo ketika para petani mulai memetik cabai merah dari ladang yang dingin. Tangan mereka bergerak cepat karena panen tidak pernah memberi banyak waktu. Sementara itu, warna merah cabai yang nanti membuat harga sambal di kota melonjak justru menyimpan kenyataan pahit bagi mereka yang menanamnya.
Di Medan, harga cabai bisa menembus Rp80 ribu per kilogram. Namun, di kebun-kebun Karo, banyak petani hanya melepas hasil panen di kisaran Rp15 ribu hingga Rp20 ribu. Selisih harga itu tidak masuk ke kantong petani. Sebaliknya, rantai distribusi yang panjang justru menyerap keuntungan terbesar sebelum cabai sampai ke meja makan masyarakat kota.
Ironisnya, Sumatera terus mendapat pujian sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Akan tetapi, bagi banyak petani kecil, gelar itu terasa seperti penghargaan kosong. Mereka menopang kebutuhan pangan kota besar, tetapi hidup mereka sendiri tetap rapuh dan penuh ketidakpastian.
Ini bukan sekadar soal cabai mahal. Ini tentang sistem pangan yang sejak awal terlalu jauh dari kepentingan petani.
Angka yang Tampak Sehat, Realitas yang Tetap Rapuh
Secara statistik, situasi pertanian Sumatera Utara terlihat baik. Nilai Tukar Petani (NTP) awal 2026 berada di kisaran 108. Dalam bahasa birokrasi, angka itu menunjukkan petani masih mencatat surplus.
Namun, angka rata-rata sering kali menyembunyikan kenyataan yang lebih rumit.
NTP menghitung seluruh subsektor pertanian, termasuk perkebunan besar yang jauh lebih stabil dan menguntungkan. Ketika perhatian diarahkan pada petani hortikultura kecil seperti cabai, tomat, dan bawang, gambarannya berubah drastis. Harga pupuk naik. Ongkos distribusi ikut melonjak. Selain itu, cuaca semakin sulit diprediksi. Di sisi lain, posisi tawar petani tetap lemah seperti bertahun-tahun sebelumnya.
Sementara itu, inflasi pangan terus menghantui wilayah Sumatera. Perry Warjiyo pernah menegaskan bahwa inflasi pangan bukan hanya persoalan moneter, melainkan masalah struktural. Pernyataan itu terdengar tepat di ruang konferensi. Sayangnya, di lapangan, struktur yang dimaksud masih berdiri kokoh dan belum banyak berubah.
Rantai Distribusi yang Terlalu Panjang
Setiap pagi, pengepul tetap datang ke kebun-kebun petani. Mereka membawa timbangan, kendaraan bak terbuka, dan kuasa untuk menentukan harga.
Petani hampir tidak memiliki pilihan. Cabai tidak bisa bertahan lama setelah dipanen. Karena itu, tanpa gudang pendingin dan fasilitas penyimpanan yang memadai, mereka harus segera menjual hasil panen sebelum kualitasnya menurun.
Pemerintah sebenarnya berkali-kali berbicara tentang digitalisasi pertanian dan pemangkasan rantai distribusi. Bahkan, Amran Sulaiman pernah menjanjikan sistem pemasaran langsung yang mampu memutus dominasi tengkulak.
Namun, janji sering berhenti di ruang seminar.
Di Karo, Solok, hingga Ogan Komering Ulu, pola lama tetap bertahan. Petani menjual murah, kota membeli mahal, lalu keuntungan terbesar mengalir ke rantai distribusi.
Sebuah studi Universitas Gadjah Mada pada 2023 menunjukkan bahwa petani cabai hanya menikmati sekitar 20 hingga 30 persen dari harga akhir yang dibayar konsumen. Sementara itu, sisanya tersebar ke tangan pengepul, distributor, pedagang besar, dan pengecer.
Ironisnya, ketika harga pangan naik, banyak pihak justru menyalahkan cuaca atau petani. Padahal, akar persoalan terbesar berada pada sistem distribusi yang terlalu panjang dan terus dipertahankan.
Operasi Pasar Tidak Pernah Menyentuh Akar Masalah
Setiap inflasi pangan meningkat, pola respons pemerintah hampir selalu sama. Operasi pasar dilakukan. Stok dinyatakan aman. Harga diminta tetap terkendali. Bahkan, impor sering menjadi pilihan cepat.
Kalimat-kalimat itu terus berulang setiap tahun.
Masalahnya, langkah tersebut hanya meredam gejolak di permukaan. Pemerintah jarang menyentuh pertanyaan yang jauh lebih penting: mengapa selisih harga dari kebun ke kota bisa begitu tinggi sejak awal?
Kebijakan penekanan harga juga sering memukul petani kecil. Ketika pemerintah terlalu fokus menjaga harga murah bagi konsumen kota, petani kehilangan kesempatan memperoleh keuntungan yang layak.
Akibatnya mulai terlihat jelas.
Sensus Pertanian 2023 menunjukkan jumlah rumah tangga petani terus menurun. Selain itu, banyak anak muda desa memilih meninggalkan lahan keluarga dan bekerja di sektor lain. Mereka melihat satu kenyataan sederhana: bertani semakin berat, tetapi hasilnya tidak pernah benar-benar pasti.
Inilah ironi terbesar dalam krisis pangan Indonesia.
Kita terus berbicara tentang ketahanan pangan. Namun, kita justru gagal menjaga orang-orang yang menanam pangan itu sendiri.
Sumatera Sedang Berdiri di Atas Krisis yang Tumbuh Perlahan
Tema Sumatranomics tahun ini berbicara tentang sinergi memperkuat stabilitas dan transformasi ekonomi Sumatera demi ketahanan pangan. Tema itu terdengar optimistis. Akan tetapi, di banyak ladang kecil, sinergi tersebut masih terasa jauh dari kenyataan sehari-hari.
Program seperti Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) memang mulai mendorong digitalisasi dan kerja sama antardaerah. Bahkan, beberapa koperasi tani digital di Sumatera Barat dan Sumatera Utara menunjukkan hasil yang cukup menjanjikan. Petani bisa memperoleh harga 20 hingga 40 persen lebih tinggi ketika menjual langsung tanpa rantai distribusi panjang.
Namun, banyak program bagus berhenti sebagai proyek percontohan. Program itu tampil di forum resmi, tetapi berjalan lambat setelah sorotan publik mereda.
Padahal, petani tidak membutuhkan belas kasihan. Mereka membutuhkan sistem yang membuat kerja keras mereka terasa masuk akal secara ekonomi.
Ini bukan sekadar cerita tentang harga cabai atau inflasi musiman. Ini adalah pola lama yang terus dipelihara: kota ingin harga murah, negara ingin inflasi terkendali, pasar ingin margin besar, dan petani diminta terus bertahan di tengah semuanya.
Selama rantai pasok pangan tetap timpang, Sumatera akan terus melahirkan paradoks. Daerah ini kaya hasil bumi, tetapi banyak petaninya tetap hidup dalam ketidakpastian.
Dan mungkin, di situlah letak ironi paling sunyi dari krisis ini.
Ketika kota ribut soal harga sambal naik, hampir tidak ada yang benar-benar bertanya mengapa orang yang menanam cabai masih kesulitan mengubah nasib hidupnya sendiri.hampir tidak ada yang bertanya mengapa orang yang menanam cabai masih belum mampu mengubah nasib hidupnya sendiri. @dimas





