Rabu, Mei 27, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

by jeje
Mei 24, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter

Lucu, ya. Kita hidup di zaman ketika semua orang tampak marah. Timeline penuh kritik. Warung kopi berubah jadi ruang debat dadakan. Pemerintah disalahkan. Elite politik dicibir. Dan jujur saja, banyak kritik itu memang pantas lahir. Harga kebutuhan naik. Peluang makin sempit. Janji politik terdengar lebih cepat datang daripada hasil nyata.

Tabooo.id – Akibatnya, banyak orang mulai bertanya: Negara ini sebenarnya sedang dibawa ke mana? Tapi tenang. Tulisan ini tidak ingin membungkam kritik. Justru sebaliknya, kritik tetap penting. Demonstrasi juga tetap penting. Dalam demokrasi, kritik bekerja seperti alarm. Ia memberi tanda bahwa ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja.

Lagi pula, sejarah sudah membuktikan hal itu.

Reformasi Tidak Lahir dari Orang yang Nyaman

Tahun 1998 tidak muncul begitu saja. Mahasiswa dan rakyat tidak turun ke jalan demi terlihat heroik atau keren. Mereka bergerak karena keadaan hidup terasa terlalu sesak untuk terus didiamkan.

Di titik ini, gagasan Tan Malaka terasa relevan.

Ini Belum Selesai

Indonesia Makin Modern, Tapi Kenapa Keadilan Masih Terasa Mahal?

Lampu Malioboro Terang, Tapi Kenapa Empati Terlihat Redup?

Melalui Madilog atau Materialisme, Dialektika, dan Logika, Tan Malaka melihat perubahan sosial lahir dari benturan realitas, bukan harapan kosong.

Lapar yang nyata. Ketidakadilan yang terasa dekat. Tekanan hidup yang terus menumpuk.

Selain itu, Tan Malaka percaya bahwa kemerdekaan sejati tidak berhenti pada bebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga menuntut kebebasan berpikir. Sebab, bangsa yang pikirannya masih terikat akan mudah digiring emosi, propaganda, bahkan ketakutan.

Karena itu, muncul satu pertanyaan yang terasa relevan hari ini:

Apakah kita benar-benar sedang berpikir merdeka ketika marah pada negara? Atau jangan-jangan kita hanya ikut terbakar oleh keramaian?

Jangan-Jangan Kita Sedang Berteriak pada Bayangan

Di tengah riuh kritik, ada satu pertanyaan yang sangat tidak nyaman:

Apakah kita sudah cukup jujur untuk merasa layak mengkritik?

Pertanyaan ini memang pahit.

Masalahnya, kita sering terlalu sibuk menunjuk keluar sampai lupa melihat ke dalam.

Di sinilah gagasan Plato terasa menampar.

Dalam alegori gua, Plato menggambarkan manusia seperti tahanan yang sejak kecil hanya melihat bayangan di dinding lalu menganggapnya sebagai kenyataan.

Akibatnya, mereka marah pada sesuatu yang mereka anggap benar, padahal mungkin belum pernah melihat realitas secara utuh.

Bukankah media sosial hari ini terasa mirip?

Semua orang bereaksi cepat. Banyak orang punya opini. Sebagian bahkan merasa paling sadar.

Namun ironisnya, kita bisa saja hanya ribut di depan bayangan yang dibentuk algoritma.

Heroisme digital kadang terlihat seperti kepedulian. Padahal, diam-diam ia lahir dari rasa takut tertinggal arus.

Saat semua orang marah, kita ikut marah. Ketika semua orang mengecam, kita ikut mengecam.

Padahal, jarang sekali kita berhenti lalu bertanya:

Ini kemarahan yang lahir dari kepedulian, atau cuma ego yang ingin terlihat sadar?

Kita Membenci Korupsi, Tapi Nyaman Curang Kecil-Kecilan

Nah, ini bagian yang paling tidak nyaman.

Kita marah pada korupsi besar di atas sana. Namun di saat yang sama, kita masih menyerobot antrean. Kita masih membenarkan kebohongan kecil. Bahkan, kita tetap mencari jalan pintas ketika kesempatan muncul.

Ironis, bukan?

Kita ingin negara berubah cepat. Namun, diri sendiri masih sering menunda berubah.

Di titik ini, pemikiran Aristoteles terasa sangat relevan.

Bagi Aristoteles, manusia tidak otomatis menjadi baik hanya karena memahami kebaikan.

Sebaliknya, manusia membentuk karakter baik lewat kebiasaan.

Integritas bukan teori.

Ia tumbuh dari tindakan kecil yang terus dilakukan.

Kejujuran juga bukan slogan kosong.

Ia hidup lewat keputusan sederhana yang kita ambil setiap hari.

Karena itu, negara yang sehat tidak lahir hanya dari pemimpin baik. Negara yang sehat juga membutuhkan warga yang berhenti menormalisasi kebohongan kecil.

Revolusi Terbesar Kadang Tidak Terjadi di Jalanan

Bukan berarti demonstrasi salah.

Tidak.

Mengkritik pemerintah tetap menjadi hak warga negara.

Namun, ada satu hal yang sering luput dari perhatian:

Revolusi terbesar kadang tidak lahir di jalanan. Ia justru tumbuh di kepala yang mulai berpikir jernih.

Tan Malaka menyebutnya logika yang merdeka.

Plato menyebutnya keberanian keluar dari gua.

Sementara itu, Aristoteles menyebutnya kebiasaan hidup yang baik.

Tiga zaman berbeda. Tiga cara berpikir berbeda.

Namun, pesannya terasa sama:

Perubahan tidak cukup hanya mengganti pemain. Kadang, cara kita bermain juga harus dibentuk ulang. @jeje

Tags: Demo MahasiswaFilsafat IndonesiaKonflik DuniaNasionalPolitik IndonesiaSosial & PublikTan Malaka

Kamu Melewatkan Ini

Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

Timeline Sejarah: Semua Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Benturan – Madilog Series #2.4

by Tabooo
Mei 25, 2026

Sejarah tidak bergerak karena semua orang setuju. Dari revolusi, perang, internet, hingga AI, hampir semua perubahan besar lahir dari benturan...

Demokrasi Kita Masih Milik Rakyat atau Sudah Jadi Milik Figur?

Demokrasi Kita Masih Milik Rakyat atau Sudah Jadi Milik Figur?

by dimas
Mei 24, 2026

Demokrasi tetap hidup, tetapi kekuasaan semakin berpusat pada figur. Lalu, siapa sebenarnya yang mengendalikan negara? Tabooo.id - Demokrasi modern lahir...

Negara Sibuk Bangun Pagar, Tapi Gagal Membangun Manusia

Negara Sibuk Bangun Pagar, Tapi Gagal Membangun Manusia

by dimas
Mei 24, 2026

Indonesia makin sibuk membangun pagar dan pengawasan. Tapi apakah yang hilang sebenarnya adalah rasa malu dan kesadaran sosial? Tabooo.id -...

Next Post
Kita Bisa Melihat Dunia, Tapi Kenapa Sulit Melihat Diri Sendiri?

Kita Bisa Melihat Dunia, Tapi Kenapa Sulit Melihat Diri Sendiri?

Pilihan Tabooo

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

Mei 24, 2026

Realita Hari Ini

Kasus Pelecehan, Pimpinan Ponpes di Lombok Timur Ditangkap

Kasus Pelecehan, Pimpinan Ponpes di Lombok Timur Ditangkap

Februari 21, 2026

Mendagri Tegaskan Wakil Kepala Daerah Ikut Hadir di Rakornas 2026

Februari 2, 2026

MBG Bukan Makan Bergizi Gratis, Ini Versi “Mantap Banget Gila”

April 9, 2026

Ribuan Pemudik Padati Terminal Tirtonadi Solo, Lonjakan Penumpang Capai 50 Persen

Maret 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id