Kamis, September 17, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Sebelum Menyalahkan Negara, Pernahkah Kita Berkaca?

by jeje
Mei 24, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on Facebook
Share on Twitter

Lucu, ya. Kita hidup di zaman ketika semua orang tampak marah. Timeline penuh kritik. Warung kopi berubah jadi ruang debat dadakan. Pemerintah disalahkan. Elite politik dicibir. Dan jujur saja, banyak kritik itu memang pantas lahir. Harga kebutuhan naik. Peluang makin sempit. Janji politik terdengar lebih cepat datang daripada hasil nyata.

Tabooo.id – Akibatnya, banyak orang mulai bertanya: Negara ini sebenarnya sedang dibawa ke mana? Tapi tenang. Tulisan ini tidak ingin membungkam kritik. Justru sebaliknya, kritik tetap penting. Demonstrasi juga tetap penting. Dalam demokrasi, kritik bekerja seperti alarm. Ia memberi tanda bahwa ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja.

Lagi pula, sejarah sudah membuktikan hal itu.

Reformasi Tidak Lahir dari Orang yang Nyaman

Tahun 1998 tidak muncul begitu saja. Mahasiswa dan rakyat tidak turun ke jalan demi terlihat heroik atau keren. Mereka bergerak karena keadaan hidup terasa terlalu sesak untuk terus didiamkan.

Di titik ini, gagasan Tan Malaka terasa relevan.

Ini Belum Selesai

Karhutla Meluas, Tanggung Jawab Korporasi Jadi Sorotan

Suap HGB Terbongkar, Sistem Pertanahan Jadi Sorotan

Melalui Madilog atau Materialisme, Dialektika, dan Logika, Tan Malaka melihat perubahan sosial lahir dari benturan realitas, bukan harapan kosong.

Lapar yang nyata. Ketidakadilan yang terasa dekat. Tekanan hidup yang terus menumpuk.

Selain itu, Tan Malaka percaya bahwa kemerdekaan sejati tidak berhenti pada bebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga menuntut kebebasan berpikir. Sebab, bangsa yang pikirannya masih terikat akan mudah digiring emosi, propaganda, bahkan ketakutan.

Karena itu, muncul satu pertanyaan yang terasa relevan hari ini:

Apakah kita benar-benar sedang berpikir merdeka ketika marah pada negara? Atau jangan-jangan kita hanya ikut terbakar oleh keramaian?

Jangan-Jangan Kita Sedang Berteriak pada Bayangan

Di tengah riuh kritik, ada satu pertanyaan yang sangat tidak nyaman:

Apakah kita sudah cukup jujur untuk merasa layak mengkritik?

Pertanyaan ini memang pahit.

Masalahnya, kita sering terlalu sibuk menunjuk keluar sampai lupa melihat ke dalam.

Di sinilah gagasan Plato terasa menampar.

Dalam alegori gua, Plato menggambarkan manusia seperti tahanan yang sejak kecil hanya melihat bayangan di dinding lalu menganggapnya sebagai kenyataan.

Akibatnya, mereka marah pada sesuatu yang mereka anggap benar, padahal mungkin belum pernah melihat realitas secara utuh.

Bukankah media sosial hari ini terasa mirip?

Semua orang bereaksi cepat. Banyak orang punya opini. Sebagian bahkan merasa paling sadar.

Namun ironisnya, kita bisa saja hanya ribut di depan bayangan yang dibentuk algoritma.

Heroisme digital kadang terlihat seperti kepedulian. Padahal, diam-diam ia lahir dari rasa takut tertinggal arus.

Saat semua orang marah, kita ikut marah. Ketika semua orang mengecam, kita ikut mengecam.

Padahal, jarang sekali kita berhenti lalu bertanya:

Ini kemarahan yang lahir dari kepedulian, atau cuma ego yang ingin terlihat sadar?

Kita Membenci Korupsi, Tapi Nyaman Curang Kecil-Kecilan

Nah, ini bagian yang paling tidak nyaman.

Kita marah pada korupsi besar di atas sana. Namun di saat yang sama, kita masih menyerobot antrean. Kita masih membenarkan kebohongan kecil. Bahkan, kita tetap mencari jalan pintas ketika kesempatan muncul.

Ironis, bukan?

Kita ingin negara berubah cepat. Namun, diri sendiri masih sering menunda berubah.

Di titik ini, pemikiran Aristoteles terasa sangat relevan.

Bagi Aristoteles, manusia tidak otomatis menjadi baik hanya karena memahami kebaikan.

Sebaliknya, manusia membentuk karakter baik lewat kebiasaan.

Integritas bukan teori.

Ia tumbuh dari tindakan kecil yang terus dilakukan.

Kejujuran juga bukan slogan kosong.

Ia hidup lewat keputusan sederhana yang kita ambil setiap hari.

Karena itu, negara yang sehat tidak lahir hanya dari pemimpin baik. Negara yang sehat juga membutuhkan warga yang berhenti menormalisasi kebohongan kecil.

Revolusi Terbesar Kadang Tidak Terjadi di Jalanan

Bukan berarti demonstrasi salah.

Tidak.

Mengkritik pemerintah tetap menjadi hak warga negara.

Namun, ada satu hal yang sering luput dari perhatian:

Revolusi terbesar kadang tidak lahir di jalanan. Ia justru tumbuh di kepala yang mulai berpikir jernih.

Tan Malaka menyebutnya logika yang merdeka.

Plato menyebutnya keberanian keluar dari gua.

Sementara itu, Aristoteles menyebutnya kebiasaan hidup yang baik.

Tiga zaman berbeda. Tiga cara berpikir berbeda.

Namun, pesannya terasa sama:

Perubahan tidak cukup hanya mengganti pemain. Kadang, cara kita bermain juga harus dibentuk ulang. @jeje

Tags: Demo MahasiswaFilsafat IndonesiaKonflik DuniaNasionalPolitik IndonesiaSosial & PublikTan Malaka

Kamu Melewatkan Ini

Kemenbud Rilis Lima Jilid Sejarah Indonesia, Siapa yang Menentukan Ingatan Bangsa?

Kemenbud Rilis Lima Jilid Sejarah Indonesia, Siapa yang Menentukan Ingatan Bangsa?

by Tabooo
September 1, 2026

Kementerian Kebudayaan merilis lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Lebih dari 5.000 halaman membawa pembaca dari...

Kalau Tan Malaka Melihat Demo 27 Agustus: Massa Besar Tidak Perlu Rusuh

Kalau Tan Malaka Melihat Demo 27 Agustus: Massa Besar Tidak Perlu Rusuh

by Tabooo
Agustus 29, 2026

Tan Malaka mungkin membela hak rakyat untuk turun ke jalan. Namun, Aksi Massa dan MADILOG menunjukkan bahwa ia juga akan...

Kericuhan Pejompongan Makan Korban, Seorang Pedagang Cermin Tewas

Kericuhan Pejompongan Makan Korban, Seorang Pedagang Cermin Tewas

by Tabooo
Agustus 28, 2026

Kericuhan di Pejompongan, Jakarta Pusat, menelan korban jiwa. Bambang Setiawan (59), pedagang cermin asal Bendungan Hilir, meninggal setelah dianiaya saat...

Next Post
Kita Bisa Melihat Dunia, Tapi Kenapa Sulit Melihat Diri Sendiri?

Kita Bisa Melihat Dunia, Tapi Kenapa Sulit Melihat Diri Sendiri?

Madilog Series

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Logika vs Emosi: Siapa yang Sebenarnya Mengendalikan Kamu? – Madilog Series #3.5

Agustus 24, 2026
Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Logika: Senjata Sederhana Agar Tidak Mudah Ditipu – Madilog Series #3.4

Juli 7, 2026
Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026

Marx Series

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Mesin dan Industri Modern: Teknologi Membebaskan atau Membuat Pekerja Makin Mudah Diganti?

Agustus 25, 2026

Working-Day: Kenapa Jam Kerja Selalu Jadi Medan Perang?

Juli 16, 2026

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id