Sabtu, Juni 20, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

13 Anak, 1 Ruang Kayu: Apakah Ini Masih Bisa Disebut Sekolah?

by dimas
Mei 4, 2026
in Talk
A A
Home Talk
Share on FacebookShare on Twitter
Di ujung Dusun Batu Nyangka, Lampung, 13 anak sekolah dasar masih belajar di sebuah ruang kayu berukuran 4 x 9 meter yang jauh dari kata layak. Mereka tidak bersekolah di gedung induk seperti siswa lain, melainkan di “kelas jauh” yang dibangun karena akses menuju sekolah utama terlalu berat dilalui. Pertanyaannya sederhana tapi mengganggu: apakah ini bentuk pemerataan pendidikan, atau justru bukti bahwa akses pendidikan masih belum benar-benar hadir di pelosok?

Tabooo.id: Talk – SD Negeri 1 Tanjung Raja mencatat layanan kelas jauh ini sudah berlangsung bertahun-tahun untuk menjangkau siswa di Dusun Batu Nyangka, Kecamatan Cukuh Balak, Kabupaten Tanggamus, Lampung, yang terisolasi jarak dan medan dari sekolah induk.

Di ujung Dusun Batu Nyangka, Lampung, sebuah ruang kayu berukuran 4 x 9 meter berdiri bukan sebagai bangunan megah, melainkan sebagai batas tipis antara harapan dan keterbatasan.

Di dalamnya, 13 anak dari kelas II hingga V duduk di bangku sederhana. Mereka tidak belajar di gedung sekolah induk seperti siswa lainnya, tetapi di “kelas jauh” ruang darurat yang lahir dari kondisi yang jauh dari ideal, namun dianggap sebagai satu-satunya solusi yang paling mungkin dijalankan.

Pertanyaannya sederhana, tetapi menusuk ini pendidikan, atau sekadar cara agar anak-anak tidak putus sekolah?

Jarak yang tidak sekadar angka

Sekolah induk SD Negeri 1 Tanjung Raja sebenarnya hanya tercatat sebagai satuan pendidikan di atas kertas. Namun bagi anak-anak di Dusun Batu Nyangka, jaraknya bukan sekadar 10 kilometer.

Ini Belum Selesai

Masih Percayakah Publik pada Janji Politik?

Demonstrasi Mahasiswa: Suara Idealisme atau Efek Algoritma?

Itu adalah jalan setapak yang membelah kebun, menurun ke lembah, lalu menanjak kembali di medan yang tidak selalu bersahabat. Saat hujan turun, jalan berubah menjadi licin dan berbahaya. Saat musim kerja kebun tiba, tidak semua orang tua bisa meninggalkan pekerjaan untuk mengantar anak-anak mereka.

Pada titik itu, pilihan paling “masuk akal” bukan lagi tentang idealisme pendidikan, melainkan realitas yang keras biarkan sekolah yang mendekat ke mereka.

Kelas jauh: solusi atau kompromi?

Kepala sekolah menyebutnya sebagai solusi. Guru honorer ditugaskan, ruang sederhana dibangun, dan proses belajar tetap berjalan meski serba terbatas.

Namun di balik kata “solusi”, ada realitas lain yang lebih jujur: ini adalah kompromi.

Karena kelas jauh ini bukan lahir dari desain pendidikan yang ideal, melainkan dari keterbatasan akses, minimnya infrastruktur, dan jarak yang terlalu berat untuk anak-anak usia sekolah dasar.

Di satu sisi, ia menyelamatkan.
Namun di sisi lain, ia juga menjadi pengingat bahwa persoalan akses pendidikan belum benar-benar selesai.

Guru, ruang kecil, dan beban besar

Di ruang sederhana itu, hanya ada satu guru honorer yang menerima upah ratusan ribu rupiah per bulan. Ia bukan sekadar pengajar, tetapi juga menjadi satu-satunya penghubung antara anak-anak di pelosok dan sistem pendidikan formal.

Di titik ini, muncul pertanyaan yang lebih besar:
seberapa jauh negara benar-benar hadir di ruang-ruang kecil seperti ini?

Karena yang tampak bukan hanya anak-anak yang belajar, tetapi juga sistem yang terus berusaha bertahan dengan segala keterbatasannya.

Pendidikan yang tidak merata itu nyata

Di wilayah perkotaan, anak-anak berbicara tentang teknologi, komputer, dan akses internet sekolah.
Di Batu Nyangka, anak-anak masih berbicara tentang jalan yang bisa dilewati atau tidak.

Kesenjangan itu mungkin tidak selalu tercatat dalam angka statistik, tetapi sangat nyata di dalam ruang 4 x 9 meter itu.

Dan di situlah kenyataan paling jujur dari pendidikan Indonesia hari ini terlihat:
tidak semua anak memulai dari garis yang sama.

Lalu, ini masalah siapa?

Pemerintah daerah menyebut kelas jauh sebagai solusi sementara. Namun di lapangan, “sementara” sering kali berubah menjadi bertahun-tahun tanpa kepastian perubahan.

Pada titik ini, pertanyaan tidak lagi berhenti pada bangunan kayu itu saja.
Tetapi bergeser pada sistem yang membuat bangunan seperti itu harus ada sejak awal.

Apakah kita benar-benar sedang memperluas akses pendidikan, atau justru hanya menunda masalah yang belum terselesaikan?

Jika pendidikan adalah hak, maka jarak seharusnya tidak menjadi penghalang. Namun realitas berkata lain jarak masih menentukan siapa yang mudah belajar dan siapa yang harus berjuang lebih keras.

Dan di Dusun Batu Nyangka, 13 anak itu sedang menjalani versi paling nyata dari pertanyaan besar itu.

Bukan di ruang rapat kebijakan.
Tetapi di ruang kayu kecil yang setiap hari mereka sebut sebagai sekolah. @dimas

Tags: Akses PendidikanHardiknasHari Pendidikan NasionalKetimpangan PendidikanNasional

Kamu Melewatkan Ini

Sekolah Negeri Tak Cukup: 77 Ribu Calon Siswa Jadi Korban Sistem

Sekolah Negeri Tak Cukup: 77 Ribu Calon Siswa Jadi Korban Sistem

by teguh
Juni 14, 2026

Sabtu malam seharusnya menjadi momen lega bagi ribuan keluarga di Jawa Barat. Namun ketika hasil Penerimaan Calon Murid Baru (PCMB)...

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

Birokrasi atau Balas Jasa Politik? Tito Bongkar Praktik Titipan Honorer di Daerah

by teguh
Juni 9, 2026

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian membuka kembali perdebatan lama tentang hubungan politik dan birokrasi daerah. Dalam rapat bersama Komisi II...

Buku yang Menulis Indonesia Sebelum Indonesia Lahir

Buku yang Menulis Indonesia Sebelum Indonesia Lahir

by jeje
Juni 2, 2026

Bagaimana mungkin seseorang menulis tentang Indonesia sebelum Indonesia benar-benar ada? Pertanyaan itu muncul ketika membaca Naar de Republiek Indonesia, karya Tan...

Next Post
Kita Bebas, atau Cuma Nyaman dengan Pola yang Sama?

"Ritual" Kita Bebas, atau Cuma Nyaman dengan Pola yang Sama?

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id