Di ujung Dusun Batu Nyangka, Lampung, 13 anak sekolah dasar masih belajar di sebuah ruang kayu berukuran 4 x 9 meter yang jauh dari kata layak. Mereka tidak bersekolah di gedung induk seperti siswa lain, melainkan di “kelas jauh” yang dibangun karena akses menuju sekolah utama terlalu berat dilalui. Pertanyaannya sederhana tapi mengganggu: apakah ini bentuk pemerataan pendidikan, atau justru bukti bahwa akses pendidikan masih belum benar-benar hadir di pelosok?
Tabooo.id: Talk – SD Negeri 1 Tanjung Raja mencatat layanan kelas jauh ini sudah berlangsung bertahun-tahun untuk menjangkau siswa di Dusun Batu Nyangka, Kecamatan Cukuh Balak, Kabupaten Tanggamus, Lampung, yang terisolasi jarak dan medan dari sekolah induk.
Di ujung Dusun Batu Nyangka, Lampung, sebuah ruang kayu berukuran 4 x 9 meter berdiri bukan sebagai bangunan megah, melainkan sebagai batas tipis antara harapan dan keterbatasan.
Di dalamnya, 13 anak dari kelas II hingga V duduk di bangku sederhana. Mereka tidak belajar di gedung sekolah induk seperti siswa lainnya, tetapi di “kelas jauh” ruang darurat yang lahir dari kondisi yang jauh dari ideal, namun dianggap sebagai satu-satunya solusi yang paling mungkin dijalankan.
Pertanyaannya sederhana, tetapi menusuk ini pendidikan, atau sekadar cara agar anak-anak tidak putus sekolah?
Jarak yang tidak sekadar angka
Sekolah induk SD Negeri 1 Tanjung Raja sebenarnya hanya tercatat sebagai satuan pendidikan di atas kertas. Namun bagi anak-anak di Dusun Batu Nyangka, jaraknya bukan sekadar 10 kilometer.
Itu adalah jalan setapak yang membelah kebun, menurun ke lembah, lalu menanjak kembali di medan yang tidak selalu bersahabat. Saat hujan turun, jalan berubah menjadi licin dan berbahaya. Saat musim kerja kebun tiba, tidak semua orang tua bisa meninggalkan pekerjaan untuk mengantar anak-anak mereka.
Pada titik itu, pilihan paling “masuk akal” bukan lagi tentang idealisme pendidikan, melainkan realitas yang keras biarkan sekolah yang mendekat ke mereka.
Kelas jauh: solusi atau kompromi?
Kepala sekolah menyebutnya sebagai solusi. Guru honorer ditugaskan, ruang sederhana dibangun, dan proses belajar tetap berjalan meski serba terbatas.
Namun di balik kata “solusi”, ada realitas lain yang lebih jujur: ini adalah kompromi.
Karena kelas jauh ini bukan lahir dari desain pendidikan yang ideal, melainkan dari keterbatasan akses, minimnya infrastruktur, dan jarak yang terlalu berat untuk anak-anak usia sekolah dasar.
Di satu sisi, ia menyelamatkan.
Namun di sisi lain, ia juga menjadi pengingat bahwa persoalan akses pendidikan belum benar-benar selesai.
Guru, ruang kecil, dan beban besar
Di ruang sederhana itu, hanya ada satu guru honorer yang menerima upah ratusan ribu rupiah per bulan. Ia bukan sekadar pengajar, tetapi juga menjadi satu-satunya penghubung antara anak-anak di pelosok dan sistem pendidikan formal.
Di titik ini, muncul pertanyaan yang lebih besar:
seberapa jauh negara benar-benar hadir di ruang-ruang kecil seperti ini?
Karena yang tampak bukan hanya anak-anak yang belajar, tetapi juga sistem yang terus berusaha bertahan dengan segala keterbatasannya.
Pendidikan yang tidak merata itu nyata
Di wilayah perkotaan, anak-anak berbicara tentang teknologi, komputer, dan akses internet sekolah.
Di Batu Nyangka, anak-anak masih berbicara tentang jalan yang bisa dilewati atau tidak.
Kesenjangan itu mungkin tidak selalu tercatat dalam angka statistik, tetapi sangat nyata di dalam ruang 4 x 9 meter itu.
Dan di situlah kenyataan paling jujur dari pendidikan Indonesia hari ini terlihat:
tidak semua anak memulai dari garis yang sama.
Lalu, ini masalah siapa?
Pemerintah daerah menyebut kelas jauh sebagai solusi sementara. Namun di lapangan, “sementara” sering kali berubah menjadi bertahun-tahun tanpa kepastian perubahan.
Pada titik ini, pertanyaan tidak lagi berhenti pada bangunan kayu itu saja.
Tetapi bergeser pada sistem yang membuat bangunan seperti itu harus ada sejak awal.
Apakah kita benar-benar sedang memperluas akses pendidikan, atau justru hanya menunda masalah yang belum terselesaikan?
Jika pendidikan adalah hak, maka jarak seharusnya tidak menjadi penghalang. Namun realitas berkata lain jarak masih menentukan siapa yang mudah belajar dan siapa yang harus berjuang lebih keras.
Dan di Dusun Batu Nyangka, 13 anak itu sedang menjalani versi paling nyata dari pertanyaan besar itu.
Bukan di ruang rapat kebijakan.
Tetapi di ruang kayu kecil yang setiap hari mereka sebut sebagai sekolah. @dimas





