Tabooo.id: Vibes – Piala Dunia 2022 di Qatar tidak sekadar menyuguhkan pesta gol. Turnamen ini perlahan menjelma panggung kejutan berlapis. Setelah Arab Saudi mengguncang jagat sepak bola dengan menundukkan Argentina, Jepang menyusul dengan kisah dramatisnya sendiri. Kali ini, Jerman juara dunia empat kali harus menelan kekalahan 1-2 dari wakil Asia.
Reaksi publik pun langsung meledak. Di media sosial, meme berseliweran tanpa jeda, obrolan mengalir deras, dan tagar Asia Power merangsek ke puncak linimasa. Namun, di tengah hiruk-pikuk euforia global itu, Jepang justru menampilkan pemandangan berbeda. Para pemain tetap tenang, membereskan ruang ganti, lalu membungkuk sebagai tanda hormat. Tidak ada selebrasi berlebihan. Kemenangan itu tampak seperti rutinitas bukan keajaiban, melainkan hasil dari rencana panjang yang telah mereka siapkan bertahun-tahun.
Di titik itulah cerita Jepang menemukan kedalamannya.
Konsistensi yang Dibangun Perlahan
Sebagai kekuatan sepak bola Asia, Jepang jelas bukan pendatang baru. Empat gelar Piala Asia, tujuh kali tampil di Piala Dunia, serta status langganan fase gugur menjadi bukti konsistensi mereka. Sejak debut pada Piala Dunia 1998, Jepang hampir selalu menjaga tempat di panggung tertinggi sepak bola global.
Meski demikian, capaian itu tidak hadir secara instan. Jepang menempuh proses panjang dengan kesabaran khas budayanya. Mereka belajar dari luar, meniru sistem yang relevan, lalu menyesuaikannya dengan kebutuhan sendiri. Yang terpenting, mereka tetap setia pada rencana jangka panjang, bahkan ketika hasil belum juga terlihat.
Saat Jepang Belajar ke Indonesia
Ironi sejarah muncul ketika menengok awal 1990-an. Pada periode itu, Jepang justru datang ke Indonesia untuk belajar. Indonesia kala itu memiliki Galatama, liga profesional yang dinilai lebih maju dibanding kompetisi Jepang yang masih setengah profesional. Banyak klub Jepang bahkan merekrut pemain dari kalangan pegawai perusahaan, bukan atlet hasil pencarian bakat murni.
Ricky Yacob, legenda sepak bola Indonesia sekaligus pemain Indonesia pertama yang berkiprah di Jepang, pernah mengingat fase tersebut. Menurutnya, Jepang mempelajari Galatama dengan serius. Mereka mencatat detailnya, meniru strukturnya, lalu mengadaptasinya secara disiplin.
Sayangnya, perjalanan sejarah kemudian bergerak berlawanan arah.
Dua Keputusan, Dua Nasib Berbeda
Jepang melihat Galatama sebagai konsep ideal klub berbasis korporasi, dikelola profesional, dan berpikir jauh ke depan. Model itu mereka adopsi, lalu mereka sempurnakan sesuai konteks lokal.
Indonesia justru mengambil jalan berbeda. Ketika skandal muncul, pengelola memilih membubarkan Galatama. Alih-alih memperbaiki sistem, fondasinya justru dicabut. Sejak saat itu, arah perjalanan sepak bola kedua negara mulai menjauh.
Jepang melaju dengan konsistensi. Indonesia tertahan oleh keputusan jangka pendek.
J-League dan Ekosistem yang Dirawat
Pada 1993, Jepang meluncurkan J-League dengan visi yang jelas. Mereka tidak sekadar membentuk liga, tetapi membangun ekosistem. Klub wajib memiliki akademi, pelatih harus terus meningkatkan kompetensi, dan pemain muda mendapatkan ruang bermain yang nyata.
Federasi Sepak Bola Jepang (JFA) menempatkan pendidikan pelatih dan pembinaan usia dini sebagai prioritas utama. Mereka memahami prinsip sederhana: tim nasional tidak lahir dari keajaiban, melainkan dari latihan panjang yang jarang tersorot kamera.
Merantau untuk Menguatkan Mental
Kemajuan Jepang juga dipercepat oleh keberanian para pemainnya merantau. Kazuyoshi Miura membuka jalan ke Eropa, lalu Hidetoshi Nakata memperluas pengaruhnya. Di luar negeri, para pemain Jepang menghadapi kerasnya kompetisi dan tuntutan profesionalisme.
Ketika kembali membela tim nasional, mereka membawa pulang disiplin, etos kerja, dan rasa tanggung jawab kolektif. Hasilnya terlihat nyata: sejak 1998, Jepang nyaris tak pernah absen dari Piala Dunia.
Indonesia dan Pekerjaan Rumah yang Tak Kunjung Selesai
Sementara Jepang terus berlari, Indonesia kerap terjebak dalam perdebatan tanpa ujung. Isu federasi, wasit, hingga pendanaan silih berganti memenuhi ruang publik. Pada saat yang sama, pembinaan usia muda sering dipandang sebagai investasi mahal tanpa hasil cepat.
Padahal, seperti pernah ditegaskan Timo Scheunemann, tim nasional mencerminkan kualitas liga, dan liga bergantung pada akademi. Tanpa fondasi kuat, mimpi besar hanya berhenti sebagai slogan.
Ricky Yacob pun menambahkan catatan krusial pentingnya basis data pemain muda. Tanpa kompetisi berjenjang, pencarian bakat berubah menjadi undian. Seleksi massal singkat bukan sistem yang sehat, melainkan perjudian.
Sepak Bola sebagai Latihan Kesabaran
Pada akhirnya, Jepang mengajarkan satu pelajaran mendasar sepak bola adalah budaya, bukan proyek musiman. Ia menuntut konsistensi, kesabaran, dan keberanian menunda sorak-sorai.
Mereka pernah kalah. Mereka sempat tertinggal. Namun mereka memilih bertahan dalam proses.
Karena itu, ketika dunia terkejut melihat Jepang menaklukkan Jerman, Jepang sendiri tidak merasa heran. Mereka hanya memanen hasil dari kerja panjang yang mereka rawat selama puluhan tahun.
Refleksi Tabooo: Dari Guru ke Murid, Lalu Bangkit?
Kisah Jepang bukan untuk merendahkan Indonesia. Sebaliknya, cerita ini menjadi cermin. Indonesia pernah menjadi rujukan, dan fakta itu menandakan satu hal penting peluang untuk bangkit selalu ada.
Masalahnya bukan bakat atau genetika. Persoalannya terletak pada pilihan membangun dengan konsisten, atau terus sibuk menyalahkan keadaan.
Penutup: Kemenangan Bukan Titik Awal
Jepang mengingatkan kita bahwa kemenangan bukan permulaan perjalanan. Ia justru menjadi penutup dari proses panjang yang sering terasa membosankan, sunyi, dan jauh dari sorotan.
Mungkin sepak bola Indonesia tidak kekurangan mimpi. Kita hanya terlalu sering menginginkan hasil cepat tanpa mau berjalan jauh.
Sebab dalam sepak bola, seperti dalam hidup, mereka yang bersabar biasanya tiba lebih dulu. @dimas





