Tabooo.id: Life – Di sudut kamar rumahnya di Gresik, Evan Haydar menatap dunia luar dengan mata penuh rasa ingin tahu. Bayangan gedung tinggi, kota yang ramai, dan peluang tanpa batas selalu menghantui mimpinya sejak kecil.
“Aku ingin melihat dunia luar,” ujarnya suatu sore, mengenang cita-cita masa kecil yang sederhana tapi menggelora.
Impian itu tampak jauh, namun ia tahu satu hal: langkah pertama harus diambil sekarang, sebelum kesempatan menutup pintunya.
Kesempatan itu datang ketika ia duduk di bangku SMA kelas 3. Sebuah informasi tentang kuliah di Jerman membuatnya terperangah. Biaya yang nyaris nol hanya sekitar enam juta rupiah per semester menjadi tiket untuk mewujudkan impian besar. Dengan dukungan orang tua, terutama ayahnya yang rela meminjam uang demi keberangkatan Evan, perjalanan panjang itu pun dimulai.
Bahasa Baru, Dunia Baru
Sebelum menginjak tanah Jerman, Evan harus menghadapi tantangan pertama bahasa. Kursus bahasa Jerman membuatnya bolak-balik Surabaya-Gresik, menelan waktu dan tenaga.
“Bahasa Jerman itu susah karena aturannya berbeda-beda. Aku pertama kali dengar dan baca bahasa ini, semuanya terasa asing,” ujar Evan.
Sesampainya di Jerman, kejutan lain menantinya. Orang-orang berbicara begitu cepat, dengan tempo yang membuatnya harus menelan rasa canggung dan pura-pura mengerti. Budaya yang lebih bebas dan cara hidup yang berbeda membuatnya mengalami culture shock. Namun, bukannya mundur, Evan menyesuaikan diri, belajar dari setiap interaksi, dan mulai menemukan ritme barunya.
Menemukan Jalan di Dunia Bisnis
Setelah menuntaskan SMA, Evan memilih jurusan International Business di Hochschule für Technik und Wirtschaft (HTW), Berlin. Ia ingin membuka pintu peluang seluas mungkin dari marketing, finance, hingga HR. Pilihan ini bukan kebetulan; itu strategi untuk menjajal berbagai dunia sebelum menentukan tujuan akhir.
Selama kuliah, ia tak hanya mempelajari teori, tapi juga mengasah keterampilan sosial dan kemandirian. Setiap proyek, tugas, dan interaksi menjadi laboratorium hidup bagi Evan.
“Kalau kita nggak mau cari tahu sendiri, kita akan kesulitan nanti. Di luar negeri, skill ini sangat penting,” tambahnya.
Menembus Pintu Tesla
Setelah lulus, Evan menapaki dunia kerja multinasional di Berlin, hingga akhirnya menjadi HR Ops Specialist di Tesla. Di sini, ia merasakan budaya kerja yang benar-benar berbeda cepat, independen, dan tanpa banyak hierarki.
“Kita bisa bicara dengan siapa saja, lebih sedikit meeting, dan lebih banyak menyelesaikan pekerjaan sendiri. Ini bikin kita cepat belajar dan achieve banyak hal,” pungkasnya.
Tesla bagi Evan bukan sekadar tempat bekerja, tapi laboratorium nyata tentang bagaimana efisiensi, kolaborasi, dan kemandirian bisa bersinergi. Setiap tantangan menjadi peluang belajar, setiap kesalahan menjadi pelajaran yang berharga.
Refleksi: Mimpi Tak Datang Sendiri
Kisah Evan menyiratkan satu hal mimpi tidak datang begitu saja. Mereka lahir dari keberanian, konsistensi, dan kerja nyata. Dari bahasa yang sulit, budaya baru yang membingungkan, hingga tekanan profesional, semua menjadi bagian dari proses panjang.
Bagi pemuda-pemudi yang ingin menapaki dunia, Evan punya pesan jelas jangan malas mencari informasi. Belajar mandiri, beradaptasi dengan cepat, dan memanfaatkan peluang adalah kunci. Benda besar maupun kecil, setiap keputusan kecil hari ini menentukan langkah besar esok hari.
Penutup: Dari Gresik ke Dunia
Evan Haydar menatap kota Berlin dari jendela kantornya di Tesla, lalu tersenyum. Ia tahu, perjalanan ini masih panjang, tapi setiap langkah yang diambil dengan tekad dan keberanian membawa arti. Kisahnya mengajarkan kita bahwa mimpi bukan sekadar angan ia nyata ketika dihidupi dengan tindakan.
Lalu, kamu mau menunggu kesempatan datang, atau siap melangkah seperti Evan mengubah mimpi menjadi jejak nyata di dunia? @dimas





