Tabooo.id: Edge – Aceh lagi kebanjiran. Air naik, tanah longsor, rumah rusak, orang mengungsi. Tapi seperti kebiasaan bangsa yang multitasking level dewa, di tengah krisis kemanusiaan, kita tetap sempat debat… soal bendera.
Bukan sembarang bendera. Ini bendera bulan bintang simbol yang langsung bikin suhu politik naik lebih cepat dari debit air sungai. Padahal awal ceritanya sederhana iring-iringan warga mau mengantar bantuan ke Aceh Tamiang. Tapi begitu kain bergambar bulan dan bintang ikut berkibar, fokus publik langsung belok. Dari “banjir dan longsor” ke “ini boleh atau nggak, sih?”
Aceh belum kering, tapi wacana sudah banjir duluan.
DPR: Tolong Tenang, Ini Lagi Bencana
Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, masuk dengan nada penyejuk. Politikus Golkar itu minta semua pihak menahan diri. Bukan karena takut viral, tapi karena situasinya memang lagi nggak ideal buat gesekan.
Menurut Dave, peristiwa penertiban bendera itu disayangkan karena terjadi di tengah penanganan bencana. Fokus seharusnya ke keselamatan warga dan distribusi bantuan, bukan tarik-menarik simbol dan tafsir politik.
Ia juga mengingatkan dua pihak sekaligus masyarakat dan aparat. Aspirasi silakan disampaikan, tapi damai dan sesuai aturan. Aparat silakan menjalankan tugas, tapi tetap profesional dan humanis. Intinya satu jangan sampai tujuan kemanusiaan tenggelam oleh ribut-ribut simbol.
Bahasa halusnya bantu orang dulu, debat belakangan.
Bantuan Jalan, Simbol Nyelonong
Dave memahami niat warga. Banyak yang turun ke jalan bukan cuma bawa logistik, tapi juga bawa keresahan. Mereka ingin pemerintah pusat lebih serius menangani banjir Aceh. Masalahnya, ketika ekspresi politik ikut dibawa ke lapangan, pesan kemanusiaan jadi blur.
Yang sampai ke publik bukan lagi “Aceh butuh bantuan”, tapi “Aceh ribut lagi”. Padahal di lapangan, warga masih sibuk menyelamatkan barang, mencari keluarga, dan menunggu air surut.
Dalam situasi kayak gini, simbol punya efek seperti mic rusak: niatnya menguatkan suara, tapi yang keluar malah noise.
TNI: Ini Soal Ketertiban, Bukan Sensor Kemanusiaan
Video pembubaran iring-iringan massa di Lhokseumawe keburu viral. Terlihat prajurit bersenjata mengejar pembawa bendera bulan bintang. Timeline langsung panas. Narasi liar bertebaran.
TNI kemudian buka suara. Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayjen (Mar) Freddy Ardianzah, menyebut banyak konten yang beredar tidak sesuai fakta dan mendiskreditkan institusi. Menurutnya, kejadian bermula dari konvoi dan aksi demo sejak 25 Desember hingga dini hari 26 Desember 2025.
Sebagian massa mengibarkan bendera yang identik dengan simbol GAM, disertai teriakan yang dinilai berpotensi memancing reaksi publik dan mengganggu ketertiban umum terutama di tengah pemulihan pascabencana.
Bahasa resminya rapi. Tapi publik keburu punya versi sendiri.
Di Aceh, Trauma Tidak Pernah Benar-Benar Pergi
Yang sering lupa di Jakarta: Aceh punya memori kolektif. Konflik bersenjata, tsunami, perdamaian, lalu bencana lagi. Simbol di Aceh bukan sekadar kain ia punya sejarah, luka, dan tafsir yang panjang.
Karena itu, setiap gesekan kecil cepat membesar. Apalagi kalau terjadi saat warga sedang paling rentan. PBB mencatat kekerasan dan ketegangan di wilayah konflik lama selalu mudah menyala kembali ketika krisis kemanusiaan datang.
Aceh sedang berkabung, tapi sistem kita masih suka debat di level simbol.
Air Belum Surut, Ego Sudah Duluan Naik
Ironinya begini:air banjir bisa surut, tapi ego politik sering nggak. Padahal warga di lapangan cuma butuh satu hal bantuan sampai tanpa ribut.
Mungkin pelajaran paling relevan dari episode ini sederhana di tengah bencana, yang paling perlu ditertibkan bukan cuma bendera, tapi juga ego, sensitivitas, dan kebiasaan mempolitisasi segalanya.
Karena saat alam sudah cukup kejam, manusia seharusnya nggak perlu ikut-ikutan. @dimas





