Tabooo.id: Regional – Pencarian panjang di lereng Gunung Slamet berakhir dengan kabar duka. Tim SAR menemukan Syafiq Ridhan Ali Razan (18), pendaki asal Desa Kramat Utara, Kecamatan Magelang Utara, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dalam kondisi meninggal dunia pada hari ke-17 pencarian, Rabu (14/1/2025).
Namun, penemuan itu justru memunculkan pertanyaan baru. Sejumlah relawan menilai proses pencarian menyisakan kejanggalan, terutama karena tim menemukan jasad Syafiq di lokasi yang sebelumnya telah berulang kali disisir oleh tim SAR gabungan sejak hari-hari awal.
Ditemukan Dekat Jalur yang Sudah Disisir
Tim SAR menemukan jasad Syafiq sekitar lima kilometer dari Pos 9 jalur pendakian Gunung Slamet. Padahal, sejak awal pencarian, tim menjadikan area tersebut sebagai titik prioritas berdasarkan keterangan terakhir rekan korban.
Syafiq mendaki Gunung Slamet bersama rekannya, Himawan, melalui jalur Basecamp Dipajaya, Desa Clekatakan, Kabupaten Pemalang, pada Sabtu (30/12/2025). Setelah Syafiq dinyatakan hilang, tim SAR gabungan, relawan resmi, dan relawan independen langsung menyisir berbagai titik di sepanjang jalur pendakian itu secara berulang.
Meski demikian, selama lebih dari dua pekan, seluruh tim pencari tidak menemukan jejak keberadaan Syafiq.
Relawan Menyoroti Proses Pencarian
Salah satu relawan independen, Amrul (20), warga Kabupaten Brebes, mengaku heran dengan waktu penemuan korban. Ia menyebut tim pencari telah beberapa kali melewati area tempat jasad Syafiq akhirnya ditemukan.
“Sejak hari kedua sampai hari ke-17, tim tidak menemukan apa pun, padahal kami sudah pernah melintasi lokasi itu,” ujarAmrul.
Selain soal waktu, Amrul juga menyoroti metode pencarian yang ia anggap tidak lazim. Dalam proses tersebut, tim pencari sempat melibatkan seorang anak indigo yang didatangkan dari Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.
“Saya bersama relawan independen dan anak indigo ditempatkan di Pos 9, tetapi kami tidak diarahkan sampai ke titik lokasi penemuan jasad,” tambahnya.
Amrul menuturkan bahwa relawan independen bergantian membantu pencarian sejak hari pertama Syafiq dilaporkan hilang. Meski begitu, mereka tidak melihat tanda-tanda keberadaan korban di area yang sama. Bahkan, klaim metafisik sempat muncul dalam proses pencarian.
“Katanya almarhum tertutup alam gaib sehingga tidak terlihat,” pungkasnya.
Kondisi Lokasi dan Jasad Korban
Lokasi penemuan Syafiq berada di kawasan lereng berbatu dengan tanah tandus serta banyak aliran sungai kecil. Berdasarkan dokumentasi yang diterima, tim menemukan jasad korban di antara bebatuan dalam posisi tertelungkup.
Syafiq masih mengenakan jaket dan celana pendek. Namun, celana panjangnya terlepas separuh dari tubuhnya. Di sekitar lokasi, relawan juga menemukan sepatu, dompet, dan telepon genggam milik korban.
Temuan tersebut kembali memicu pertanyaan di kalangan relawan dan publik tentang apa yang sebenarnya terjadi selama 17 hari pencarian berlangsung.
Kronologi Perpisahan di Pos 5
Sebelum dinyatakan hilang, Syafiq dan Himawan sempat beristirahat bersama di Pos 5 jalur Dipajaya. Di lokasi itu, Himawan mengalami kram kaki sehingga tidak mampu melanjutkan pendakian dengan lancar.
Melihat kondisi rekannya, Syafiq memutuskan turun lebih dulu untuk mencari bantuan. Ia meminta Himawan tetap menunggu di Pos 5. Namun, setelah berpisah, Syafiq tidak pernah kembali.
Hingga malam hari, Himawan terus menunggu di pos tersebut. Ketika kontak dengan Syafiq terputus, ia memutuskan bergerak naik menuju Pos 9, yang berada di ketinggian sekitar 3.183 meter di atas permukaan laut.
Dari Pos 9, jarak menuju puncak Gunung Slamet hanya sekitar 300 hingga 600 meter.
Himawan bertahan di Pos 9 hingga Selasa (30/12/2025) pagi. Tim relawan kemudian menemukan dan mengevakuasinya melalui Basecamp Dipajaya dalam kondisi selamat. Sementara itu, tim SAR terus melanjutkan pencarian Syafiq hingga akhirnya menemukan jasadnya lebih dari dua pekan kemudian, di area yang tidak jauh dari lokasi Himawan bertahan.
Pertanyaan yang Tersisa
Kematian Syafiq tidak hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, tetapi juga menyisakan tanda tanya besar tentang standar pencarian dan penyelamatan di gunung-gunung populer Indonesia. Bagi relawan dan komunitas pendaki, kasus ini menjadi pengingat pahit bahwa evaluasi prosedur, koordinasi lapangan, dan transparansi pencarian tidak boleh berhenti ketika korban sudah ditemukan.
Sebab, di balik setiap operasi SAR, taruhannya bukan sekadar waktu dan tenaga, melainkan nyawa manusia dan kepercayaan publik yang ikut dipertaruhkan. @dimas




