Katanya Indonesia sudah reformasi. Demokrasi hidup. Kebebasan terbuka. Rakyat bisa bicara apa saja. Masalahnya, rakyat sekarang lebih sering bicara sama kalkulator daripada masa depan. Karena hidup makin terasa seperti simulasi absurd: harga naik nyata, tapi kesejahteraan cuma terasa di pidato pejabat.
Tabooo.id: Pada 1998, mahasiswa turun ke jalan melawan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Mereka percaya Reformasi bisa membuat hidup rakyat lebih adil.
Sekarang, generasi muda turun ke minimarket sambil berburu promo mi instan tanggal kembar.
Bedanya tipis.
Sama-sama bertahan hidup.
Demokrasi Kita Aktif. Dompetnya yang Maintenance
Setiap lima tahun, baliho politik tumbuh lebih cepat daripada lapangan kerja.
Pejabat bicara soal pertumbuhan ekonomi. Influencer politik bicara soal optimisme bangsa. Podcast elite penuh motivasi nasionalisme.
Sementara itu, rakyat buka mobile banking sambil menarik napas panjang.
Ironisnya, negara sering bilang ekonomi membaik.
Namun rakyat tetap menghitung harga telur seperti sedang main saham.
Politik Sekarang Mirip Konten Lifestyle
Dulu politik identik dengan debat ideologi.
Sekarang politik lebih mirip konten personal branding.
Yang penting relatable.
Penting estetik.
Yang penting bisa joget di TikTok tanpa salah gerakan.
Akibatnya, publik lebih hafal outfit kampanye daripada isi kebijakan.
Lucunya, semakin mahal harga kebutuhan pokok, semakin banyak pejabat upload konten “blusukan santai.”
Seolah-olah penderitaan rakyat bisa selesai lewat drone cinematic dan backsound piano.
Rakyat Disuruh Optimistis Sampai Bingung Mau Sedih atau Ketawa
Hari ini rakyat menghadapi situasi unik:
kerja full time, overthinking part time.
Harga rumah terasa seperti cheat game.
Gaji terasa seperti trial version kehidupan.
Namun anehnya, publik tetap diminta bersyukur karena “ekonomi nasional stabil.”
Stabil untuk siapa, masih misteri.
Reformasi Melahirkan Kebebasan. Sekaligus Kelelahan
Memang benar, sekarang publik lebih bebas bicara.
Netizen bisa mengkritik pemerintah kapan saja.
Akhirnya, kemarahan berubah jadi humor.
Karena kadang bercanda adalah cara termurah untuk tetap waras.
Demokrasi Kita Ramai. Tapi Banyak Orang Diam-Diam Menyerah
Timeline penuh debat politik.
Podcast penuh analisis.
Komentar penuh kemarahan.
Namun di dunia nyata, banyak rakyat mulai kehilangan energi untuk berharap.
Karena mereka melihat pola yang sama terus berulang:
elite berganti,
slogan berubah,
tetapi hidup tetap terasa seperti cicilan tanpa ending.
Ini Bukan Negara Miskin. Tapi Pintar Membuat Rakyat Beradaptasi
Rakyat Indonesia sebenarnya hebat.
Harga naik? Adaptasi.
Transport mahal? Adaptasi.
Lapangan kerja sempit? Adaptasi.
Mental capek? Bikin meme.
Kita sudah terlalu terbiasa bertahan sampai lupa rasanya hidup tenang.
Dan mungkin itu kemenangan terbesar sistem:
membuat rakyat menganggap tekanan sebagai hal normal.
Reformasi memang berlalu.
Namun sebagian rakyat masih hidup dalam mode survival yang sama.
Bedanya, dulu orang turun ke jalan sambil teriak “lawan ketidakadilan.”
Sekarang orang buka e-wallet sambil berharap cashback masih ada.
Dan mungkin itu ironi paling absurd dari demokrasi modern:
kita bebas bicara,
tetapi makin sulit hidup lega. @waras





