Tabooo.id: Film – Pernah nggak sih merasa hukum itu terlalu lama, terlalu rumit, atau terlalu jauh dari rasa keadilan? Nah, Qorin 2 seperti menjawab kegelisahan itu dengan cara ekstrem: kalau jalur benar tak bekerja, manusia akan tergoda mengambil jalan pintas meski gelap, meski salah.
Ginanti Rona dan Lele Laila kembali berduet dalam sekuel Qorin (2022). Meski menyandang angka dua, film ini berdiri sebagai kisah standalone. Artinya, penonton tak wajib mengingat ritual siswi nakal di film pertama. Kali ini, ceritanya bergeser jauh lebih membumi dan jauh lebih muram.
Alih-alih kisah remaja memanggil makhluk halus, Qorin 2 menyorot perjuangan seorang ayah bernama Makmur, diperankan Fedi Nuril, yang berusaha menuntut keadilan atas anaknya yang menjadi korban perundungan di sekolah. Dari sinilah horor film ini bermula.
Bullying, Luka Sosial yang Terasa Nyata
Tema perundungan bukan pilihan sembarangan. Dalam beberapa tahun terakhir, kasus bullying di lingkungan pendidikan terus bermunculan. Lele Laila memanfaatkan realitas itu sebagai bahan bakar cerita. Ia kembali konsisten menulis kisah horor yang berangkat dari problem sosial, bukan sekadar hantu lompat dari balik pintu.
Menariknya, meski pusat cerita ada pada sosok Makmur, Lele tetap menjaga ciri khasnya: perempuan sebagai penggerak tragedi. Kekerasan yang dialami korban tidak hanya hadir sebagai latar, tetapi menjadi alasan mengapa dendam tumbuh subur.
Namun, Qorin 2 jelas bukan horor yang sibuk menakut-nakuti lewat penampakan. Film ini justru terasa lebih dekat dengan thriller balas dendam yang gelap. Ketakutannya bukan datang dari makhluk gaib, melainkan dari gambaran perundungan yang terasa brutal dan jujur saja cukup memicu emosi penonton.
Gore Lebih Nyaring dari Horor
Ginanti Rona menyambut imajinasi gelap Lele dengan cukup agresif. Darah muncrat, luka dipamerkan, dan adegan gore disuguhkan tanpa banyak basa-basi. Beberapa momen bahkan terasa terlalu eksplisit untuk sebagian penonton.
Pendekatan ini memang menebalkan nuansa dendam dan konflik fisik. Namun di sisi lain, unsur supranatural yang seharusnya menjadi ruh Qorin justru terasa tenggelam. Horor mistiknya kalah nyaring dibanding darah dan amarah.
Masalah lain muncul pada alur cerita. Selama hampir dua jam durasi berjalan, cerita berputar di pola yang sama. Konflik tidak berkembang signifikan, kejutan minim, dan eksplorasi cerita terasa dangkal. Alhasil, waktu 1 jam 50 menit terasa lebih panjang dari seharusnya.
Qorin yang Terasa Absen
Hal yang cukup mengganjal adalah konsep qorin itu sendiri. Ironisnya, entitas yang menjadi judul film justru terasa seperti “figuran”. Penjelasan soal qorin minim, padahal status film yang standalone berpotensi membuat penonton baru kebingungan.
Bagi yang belum akrab dengan konsep jin qorin, film ini bisa terasa seperti puzzle yang kehilangan beberapa keping penting.
Fedi Nuril Keluar Jalur, Tapi Belum Sepenuhnya Sampai
Di tengah segala catatan, Fedi Nuril layak mendapat apresiasi. Ia berani keluar dari citra pria romantis dan hangat yang selama ini melekat. Sebagai Makmur, ia tampil pendiam, penuh tekanan, dan nyaris tanpa dialog.
Sayangnya, pendekatan non-verbal ini belum sepenuhnya menggigit. Dendam Makmur terlihat di layar, tetapi jarang terasa sampai ke kursi penonton. Emosinya ada, namun tidak cukup menusuk.
Hiburan Gelap dengan Pesan Pahit
Terlepas dari kekurangannya, Qorin 2 tetap tampil rapi secara teknis. Sinematografi, tata suara, desain produksi, hingga tata rias bekerja solid. Film ini juga menjadi salah satu penampilan terakhir mendiang Epy Kusnandar, yang kembali menunjukkan kualitas aktingnya.
Pada akhirnya, Qorin 2 bukan tentang hantu. Film ini bicara soal keadilan yang gagal, sistem yang lamban, dan manusia yang akhirnya memilih dendam sebagai jawaban. Menyeramkan? Mungkin tidak selalu. Mengganggu secara moral? Jelas iya.
Pertanyaannya tinggal satu ketika keadilan tak kunjung datang, apakah kita masih percaya pada jalur benar atau justru diam-diam mulai melirik jalan pintas yang sama gelapnya? @dimas





