Sabtu, Juni 27, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Qorin 2: Ketika Keadilan Tak Datang, Dendam yang Dipanggil

by dimas
Mei 8, 2026
in Culture, Film
A A
Home Culture
Share on FacebookShare on Twitter

Tabooo.id: Film – Pernah nggak sih merasa hukum itu terlalu lama, terlalu rumit, atau terlalu jauh dari rasa keadilan? Nah, Qorin 2 seperti menjawab kegelisahan itu dengan cara ekstrem: kalau jalur benar tak bekerja, manusia akan tergoda mengambil jalan pintas meski gelap, meski salah.

Ginanti Rona dan Lele Laila kembali berduet dalam sekuel Qorin (2022). Meski menyandang angka dua, film ini berdiri sebagai kisah standalone. Artinya, penonton tak wajib mengingat ritual siswi nakal di film pertama. Kali ini, ceritanya bergeser jauh lebih membumi dan jauh lebih muram.

Alih-alih kisah remaja memanggil makhluk halus, Qorin 2 menyorot perjuangan seorang ayah bernama Makmur, diperankan Fedi Nuril, yang berusaha menuntut keadilan atas anaknya yang menjadi korban perundungan di sekolah. Dari sinilah horor film ini bermula.

Bullying, Luka Sosial yang Terasa Nyata

Tema perundungan bukan pilihan sembarangan. Dalam beberapa tahun terakhir, kasus bullying di lingkungan pendidikan terus bermunculan. Lele Laila memanfaatkan realitas itu sebagai bahan bakar cerita. Ia kembali konsisten menulis kisah horor yang berangkat dari problem sosial, bukan sekadar hantu lompat dari balik pintu.

Menariknya, meski pusat cerita ada pada sosok Makmur, Lele tetap menjaga ciri khasnya: perempuan sebagai penggerak tragedi. Kekerasan yang dialami korban tidak hanya hadir sebagai latar, tetapi menjadi alasan mengapa dendam tumbuh subur.

Ini Belum Selesai

Banteng Terakhir Kesultanan Yogyakarta: Kisah Raden Ronggo dari Madiun

Film Pendek Bukan Soal Gaya, Tapi Cara Membaca Realitas

Namun, Qorin 2 jelas bukan horor yang sibuk menakut-nakuti lewat penampakan. Film ini justru terasa lebih dekat dengan thriller balas dendam yang gelap. Ketakutannya bukan datang dari makhluk gaib, melainkan dari gambaran perundungan yang terasa brutal dan jujur saja cukup memicu emosi penonton.

Gore Lebih Nyaring dari Horor

Ginanti Rona menyambut imajinasi gelap Lele dengan cukup agresif. Darah muncrat, luka dipamerkan, dan adegan gore disuguhkan tanpa banyak basa-basi. Beberapa momen bahkan terasa terlalu eksplisit untuk sebagian penonton.

Pendekatan ini memang menebalkan nuansa dendam dan konflik fisik. Namun di sisi lain, unsur supranatural yang seharusnya menjadi ruh Qorin justru terasa tenggelam. Horor mistiknya kalah nyaring dibanding darah dan amarah.

Masalah lain muncul pada alur cerita. Selama hampir dua jam durasi berjalan, cerita berputar di pola yang sama. Konflik tidak berkembang signifikan, kejutan minim, dan eksplorasi cerita terasa dangkal. Alhasil, waktu 1 jam 50 menit terasa lebih panjang dari seharusnya.

Qorin yang Terasa Absen

Hal yang cukup mengganjal adalah konsep qorin itu sendiri. Ironisnya, entitas yang menjadi judul film justru terasa seperti “figuran”. Penjelasan soal qorin minim, padahal status film yang standalone berpotensi membuat penonton baru kebingungan.

Bagi yang belum akrab dengan konsep jin qorin, film ini bisa terasa seperti puzzle yang kehilangan beberapa keping penting.

Fedi Nuril Keluar Jalur, Tapi Belum Sepenuhnya Sampai

Di tengah segala catatan, Fedi Nuril layak mendapat apresiasi. Ia berani keluar dari citra pria romantis dan hangat yang selama ini melekat. Sebagai Makmur, ia tampil pendiam, penuh tekanan, dan nyaris tanpa dialog.

Sayangnya, pendekatan non-verbal ini belum sepenuhnya menggigit. Dendam Makmur terlihat di layar, tetapi jarang terasa sampai ke kursi penonton. Emosinya ada, namun tidak cukup menusuk.

Hiburan Gelap dengan Pesan Pahit

Terlepas dari kekurangannya, Qorin 2 tetap tampil rapi secara teknis. Sinematografi, tata suara, desain produksi, hingga tata rias bekerja solid. Film ini juga menjadi salah satu penampilan terakhir mendiang Epy Kusnandar, yang kembali menunjukkan kualitas aktingnya.

Pada akhirnya, Qorin 2 bukan tentang hantu. Film ini bicara soal keadilan yang gagal, sistem yang lamban, dan manusia yang akhirnya memilih dendam sebagai jawaban. Menyeramkan? Mungkin tidak selalu. Mengganggu secara moral? Jelas iya.

Pertanyaannya tinggal satu ketika keadilan tak kunjung datang, apakah kita masih percaya pada jalur benar atau justru diam-diam mulai melirik jalan pintas yang sama gelapnya? @dimas

Tags: Horor IndonesiaKeadilan Sosial

Kamu Melewatkan Ini

Di Tengah Budaya Hujatan, Seorang Ayah Masih Menulis “Pangapunten”

Di Tengah Budaya Hujatan, Seorang Ayah Masih Menulis “Pangapunten”

by teguh
Juni 18, 2026

Media sosial sering mengabadikan kesalahan lebih lama daripada kebaikan. Satu unggahan bisa berubah menjadi ruang sidang publik dalam hitungan menit....

Ketika Biaya Sekolah Lebih Menakutkan dari Ancaman Penjara

Ketika Biaya Sekolah Lebih Menakutkan dari Ancaman Penjara

by teguh
Juni 16, 2026

Lampu toko kelontong itu tetap menyala seperti biasa. Aktivitas warga berjalan normal. Namun di balik malam yang tampak tenang, seorang...

Ketika Kuliah Tak Lagi Ramah untuk Kelas Menengah

Ketika Kuliah Tak Lagi Ramah untuk Kelas Menengah

by teguh
Juni 15, 2026

Malam itu seorang ayah kembali membuka kalkulator di ponselnya. Tagihan Uang Kuliah Tunggal (UKT) anaknya tergeletak di meja. Ia menghitung...

Next Post
Konsep Otomatis

Kisah Uswatun Khasanah, Guru SMP Surabaya di Forum Pendidikan Dunia

Madilog Series

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Logika: Hoaks, Algoritma, dan Ilusi Kebenaran – Madilog Series #3.3

Juni 18, 2026
Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026

Marx Series

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Ketika Marx Membongkar Rahasia Profit – Marx Series #1.5

Juni 20, 2026

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id