Tabooo.id: Global – Ketegangan di Timur Tengah memasuki babak baru. Tiga kekuatan utama Eropa Perancis, Jerman, dan Inggris menyatakan kesiapan mengambil langkah defensif terhadap Iran, Minggu (1/3/2026). Ketiganya bersiap melindungi kepentingan militer dan warganya di kawasan Teluk jika situasi terus memburuk.
Para pemimpin Eropa itu mengaku terkejut dengan serangan rudal Iran yang mereka nilai tidak proporsional dan menyasar berbagai titik tanpa pandang bulu. Mereka menilai Teheran telah melampaui batas dengan menyerang wilayah yang tidak terlibat langsung dalam operasi militer awal Amerika Serikat dan Israel.
Dalam pernyataan bersama yang dikutip AFP, mereka menegaskan bahwa serangan Iran telah mengancam sekutu dekat, personel militer, serta warga sipil Eropa di kawasan. Karena itu, Paris, Berlin, dan London sepakat meningkatkan koordinasi dengan Amerika Serikat dan para sekutunya di Timur Tengah.
Serangan Meluas, Pangkalan Multinasional Jadi Target
Iran melancarkan rangkaian serangan rudal dan drone ke sejumlah negara Teluk setelah menerima gempuran dari koalisi AS–Israel sejak Sabtu (28/2/2026). Garda Revolusi Iran mengklaim serangan itu sebagai respons langsung atas eskalasi militer yang mereka anggap sebagai agresi terbuka.
Rudal Iran menghantam pangkalan militer multinasional di dekat Arbil, Irak utara, serta kamp tentara Jerman di Yordania timur. Meski tidak menimbulkan korban jiwa di lokasi tersebut, insiden itu meningkatkan kewaspadaan militer Eropa.
Ledakan juga mengguncang Riyadh, Dubai, Abu Dhabi, Doha, Manama, Yerusalem, dan Tel Aviv. Layanan penyelamatan Israel melaporkan sedikitnya sembilan orang tewas di Beit Shemesh. Eskalasi ini menunjukkan bahwa konflik tidak lagi terbatas pada dua atau tiga aktor utama, melainkan telah menyeret banyak negara ke pusaran ketegangan regional.
Respons Iran: Balas Dendam Tanpa Batas
Eskalasi meningkat tajam setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Pemerintah Iran menyebut kematian tersebut sebagai “deklarasi perang terhadap umat Muslim”. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan negaranya memiliki hak sah untuk membalas para pelaku dan dalang serangan.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, bahkan menyatakan Iran tidak menetapkan batas dalam membela rakyatnya. Pernyataan itu mempertegas sikap konfrontatif Teheran sekaligus memperbesar risiko konflik terbuka berskala luas.
Dampak Ekonomi dan Siapa yang Paling Terdampak
Konflik ini langsung mengguncang stabilitas kawasan Teluk, yang menjadi jalur vital energi dunia. Jika eskalasi terus berlanjut, harga minyak global berpotensi melonjak. Dampaknya akan terasa hingga Eropa dan Asia, termasuk Indonesia, melalui kenaikan biaya energi dan tekanan pada harga kebutuhan pokok.
Selain itu, warga sipil di negara-negara Teluk dan Israel menghadapi risiko keamanan langsung. Pekerja migran, pelaku usaha logistik, serta industri penerbangan menjadi kelompok yang paling rentan terhadap gangguan operasional dan lonjakan biaya.
Sementara itu, Eropa menghadapi dilema strategis. Di satu sisi, mereka harus melindungi kepentingan militer dan ekonominya. Di sisi lain, keterlibatan lebih jauh dapat menyeret mereka ke konflik panjang yang mahal secara politik dan finansial.
Pada akhirnya, konflik ini bukan sekadar soal balas serangan. Ia menyentuh urat nadi ekonomi global dan keamanan regional. Ketika rudal saling meluncur, yang paling cepat terdampak bukan hanya pangkalan militer, tetapi juga dompet masyarakat dunia. @dimas




