Tabooo.id: Global – Konflik Timur Tengah memasuki babak paling berbahaya. Ledakan mengguncang 27 pangkalan militer Amerika Serikat di negara-negara Teluk pada Minggu (1/3/2026) pagi, hanya sehari setelah Iran melancarkan serangan balasan atas operasi militer gabungan AS dan Israel.
Wartawan AFP melaporkan dentuman keras terdengar di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), lalu merambat ke Doha, Qatar, dan Manama, Bahrain. Otoritas setempat langsung mengaktifkan sirene peringatan di sejumlah wilayah. Ketegangan yang sebelumnya terasa jauh kini hadir di jantung kota-kota modern yang selama ini dikenal aman dan stabil.
Sehari sebelumnya, Iran lebih dulu menghantam Abu Dhabi dan sejumlah titik strategis lain di kawasan Teluk. Serangan itu menyasar pangkalan militer dan infrastruktur vital, termasuk bandara. Oman menjadi satu-satunya negara Teluk yang tidak terdampak langsung, mengingat perannya selama ini sebagai mediator regional.
Rudal dan Drone Hujani Kawasan Teluk
Kementerian Pertahanan UEA menyatakan Iran menembakkan 137 rudal dan 209 drone ke wilayah mereka. Serangan itu memicu kobaran api dan asap yang terlihat hingga kawasan ikonik seperti The Palm dan Burj Al Arab.
Otoritas bandara Dubai dan Abu Dhabi melaporkan insiden di area operasional. Setidaknya satu orang dilaporkan tewas. Bandara Kuwait juga masuk daftar sasaran, menandakan serangan ini tidak lagi bersifat simbolik, melainkan strategis dan terkoordinasi.
Dengan menargetkan fasilitas transportasi dan militer sekaligus, Iran mengirim pesan bahwa eskalasi tidak akan berhenti pada batas diplomasi.
Iran Klaim Operasi Terbesar dalam Sejarahnya
Media pemerintah Iran melaporkan Teheran kembali meluncurkan gelombang rudal dan drone pada hari yang sama. Serangan itu menargetkan Israel sebagai balasan atas operasi besar-besaran AS-Israel yang sebelumnya menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Televisi pemerintah Iran menyebut 27 pangkalan militer AS di kawasan, markas besar militer Israel, serta kompleks industri pertahanan di Tel Aviv sebagai target utama.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) kemudian mengumumkan dimulainya operasi ofensif paling dahsyat dalam sejarah Republik Islam Iran. Kantor berita Fars menerbitkan pernyataan tersebut pada Minggu pagi, beberapa jam setelah konfirmasi kematian Khamenei.
IRGC menegaskan operasi ini akan menyasar “wilayah pendudukan” dan pangkalan Amerika di Timur Tengah. Dalam pernyataan terpisah, Garda bersumpah akan menghukum pihak yang mereka sebut sebagai “para pembunuh” pemimpin berusia 86 tahun itu.
“Tangan pembalasan bangsa Iran untuk hukuman yang berat dan tegas tidak akan melepaskan mereka,” demikian bunyi pernyataan resmi.
Siapa yang Paling Terdampak?
Konflik ini tidak hanya mengguncang elite militer dan politik. Warga sipil di negara-negara Teluk kini menghadapi ketidakpastian keamanan. Bandara terganggu, aktivitas ekonomi melambat, dan pasar keuangan regional bergejolak.
Dampaknya meluas hingga pasar global. Harga minyak berpotensi melonjak tajam jika jalur distribusi energi di Teluk terganggu. Negara-negara importir energi, termasuk Indonesia, bisa merasakan tekanan inflasi dan pelemahan mata uang.
Investor global cenderung mengalihkan dana ke aset aman seperti emas dan dolar AS. Artinya, masyarakat di berbagai negara mungkin akan menghadapi kenaikan harga bahan bakar dan kebutuhan pokok dalam waktu dekat.
Kawasan yang Tak Lagi Kebal Konflik
Selama bertahun-tahun, kota-kota seperti Dubai dan Doha memasarkan diri sebagai oase stabilitas di tengah badai geopolitik Timur Tengah. Ledakan yang terdengar Minggu pagi mematahkan ilusi tersebut.
Ketika pangkalan militer berubah menjadi titik api dan bandara menjadi target, dunia harus mengakui satu hal konflik ini telah melampaui perang bayangan dan memasuki fase konfrontasi terbuka.
Pertanyaannya kini bukan lagi siapa yang memulai, melainkan siapa yang mampu menghentikan. Karena ketika rudal sudah berbicara, diplomasi biasanya hanya kebagian sisa suaranya. @dimas





