Senin, Juni 15, 2026
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
  • Global
  • Nasional
  • Regional
  • Deep
  • Edge
  • Check
  • Culture
  • Life
  • Talk
  • Vibes
  • Book Club
  • Madilog Series
  • Tabooo
  • Reality
  • Taboooverse
  • Pattern
  • Figures
No Result
View All Result
Bicara Tabu, Itu Tabooo!
No Result
View All Result

Penjara Dan Keadilan Longgar: Skandal “Jual Sel” Blitar dan Sistem yang Bermain

by teguh
Mei 3, 2026
in Deep
A A
Home Deep
Share on FacebookShare on Twitter
Di balik tembok tinggi Lapas Blitar, keadilan ternyata punya harga. Bukan soal vonis. Bukan soal hukum. Tapi soal kamar dan siapa yang mampu membayarnya.

Tabooo.id: Deep – Ketika tiga tahanan korupsi membeli kenyamanan seharga Rp180 juta, masalahnya langsung melebar. Bukan lagi soal pelaku. Tapi soal sistem yang memberi ruang.

Fakta, Kronologi, dan Retakan Sistem

Kasus ini muncul tepat di hari pertama Kepala Lapas Kelas IIB Blitar, Iswandi, mulai bertugas pada Rabu, 22/04/2026. Saat itu, ia membuka ruang keluhan. Lalu, tiga tahanan langsung bicara.

Mereka mengaku membayar agar bisa menempati Kamar D1 ruang yang terasa “lebih manusiawi”.

“Awalnya diminta Rp100 juta per orang, lalu setelah tawar-menawar jadi Rp60 juta,” ujar Iswandi, Selasa, 28/04/2026.

Totalnya mencapai Rp180 juta. Keluarga tahanan mengirim uang lewat transfer dan tunai. Sementara itu, tiga petugas ADK, RJ, dan W menerima transaksi tersebut.

Namun, masalahnya tidak berhenti di situ. Justru di sinilah persoalan utama terlihat jelas sistem membuka celah.

Ini Belum Selesai

Aksi Mahasiswa 12 Juni: Saat Generasi Membaca Kegelisahan Rakyat

Plain Packaging dan Perang Baru Industri Rokok

Realitas Lapas: Overkapasitas yang Jadi Celah

Lapas Blitar hanya mampu menampung 140 orang. Namun sekarang, jumlah penghuni mencapai 537 orang. Artinya, tekanan terjadi setiap hari.

Akibatnya, ruang berubah menjadi komoditas. Kemudian, kenyamanan berubah menjadi privilege.

Kamar D1 memang bukan sel mewah. Akan tetapi, fasilitasnya tetap berbeda:

  • Waktu buka lebih lama, hingga pukul 18.00 WIB
  • Akses ibadah hingga malam
  • Jumlah penghuni lebih sedikit, sekitar 15 orang

Sebaliknya, sel lain menampung 20–25 orang. Karena itu, perbedaan kecil langsung terasa besar. Dan ketika perbedaan muncul, transaksi pun mengikuti.

Konflik Sosial: Hukum vs Uang

Secara hukum, semua tahanan setara. Namun dalam praktik, realitas berbicara lain. Yang punya uang, membeli ruang. Yang tidak, menerima kondisi.

Pengamat hukum pidana, Dr. Roni Saputra, melihat pola yang berulang.

“Ini bukan sekadar pelanggaran individu. Ini tanda sistem pemasyarakatan belum tertata dengan kuat,” ujarnya, 30/04/2026.

Selain itu, sosiolog Prof. Nur Aini menyoroti relasi kuasa di dalam lapas.

“Di ruang tertutup, kekuasaan berubah jadi transaksi. Uang langsung menggeser posisi,” jelasnya.

Twist Tabooo: Ini Bukan Kasus. Ini Pola.

Kasus ini bukan kejadian tunggal. Sebaliknya, pola terus berulang.

Overkapasitas menciptakan tekanan. Tekanan melahirkan kebutuhan. Kebutuhan membuka peluang transaksi. Lalu, kekuasaan masuk.

Budayawan Emha Ainun Nadjib pernah mengingatkan:

“Masalah kita bukan kurang aturan. Tapi aturan kalah oleh praktik.”

Kalimat itu terasa nyata di sini.

Perspektif Pemerintah & Penegakan Hukum

Saat ini, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan menangani kasus tersebut. Sejak Senin, 27 April 2026, RJ dan W menjalani pemeriksaan di Surabaya.
Sementara itu, ADK juga menghadapi proses yang sama.

Iswandi langsung menegaskan sikapnya.

“Mulai saya berdinas di sini, tidak boleh ada pungli di Lapas Blitar.”

Namun, langkah ini memunculkan pertanyaan baru. Apakah cukup mengganti orang? Atau justru sistemnya yang harus dibongkar?

Praktisi hukum Yusril Ihza Mahendra pernah menekankan:

“Penegakan hukum tidak akan efektif jika sistemnya masih memberi ruang kompromi.”

Human Impact: Ini Dampaknya Buat Kamu

Sekilas, ini terlihat seperti masalah internal lapas. Namun dampaknya jauh lebih luas.

Jika pelaku kejahatan masih bisa membeli kenyamanan, kepercayaan publik ikut runtuh. Jika uang tetap menentukan posisi, rasa keadilan ikut melemah. Karena itu, isu ini menyentuh semua orang.

Analisis Tabooo: Negara Kehilangan Kontrol di Ruang Kecil

Negara sering berbicara tentang reformasi besar. Namun, ironi justru muncul di ruang kecil seperti sel penjara.

Di sanalah kontrol diuji secara nyata. Ketika praktik jual beli ruang terjadi, sistem tidak sekadar bocor. Sistem kehilangan kendali.

Closing (Reflektif)

Kasus Blitar membuka satu fakta penting. Penjara bukan hanya tempat menjalani hukuman. Penjara adalah cermin sistem hukum. Dan ketika uang masih menentukan kenyamanan di dalamnya, maka satu pertanyaan tak bisa dihindari.

Apakah kita benar-benar menegakkan keadilan atau hanya mengelolanya dalam versi yang lebih “rapi”?. @teguh

Tags: KeadilanLapas BlitarPenjaraPraktisi HukumSkandalSosiologUang

Kamu Melewatkan Ini

3.000 ASN Diduga Absen Bohong: Digaji Negara, Kerja dari Mana?

3.000 ASN Diduga Absen Bohong: Digaji Negara, Kerja dari Mana?

by teguh
Mei 7, 2026

Sekitar 3.000 aparatur sipil negara (ASN) di Brebes diduga memanipulasi absensi digital agar sistem tetap mencatat mereka hadir meski tidak...

Kenapa Kita Lebih Takut Ditolak daripada Gagal?

Kenapa Kita Lebih Takut Ditolak daripada Gagal?

by teguh
Mei 7, 2026

Ditolak memang sakit. Namun, banyak orang lebih takut menerima penolakan daripada menghadapi kegagalan. Kegagalan tidak selalu membuat hidup seseorang runtuh....

Bakar Sampah Jadi Listrik, Mental Buang Sembarangan Masih Gratis

Bakar Sampah Jadi Listrik, Mental Buang Sembarangan Masih Gratis

by teguh
Mei 7, 2026

Semua orang sedang sibuk bicara soal teknologi pengolah sampah jadi listrik. Nilainya miliaran. Bahasanya modern. Presentasinya futuristik. Tapi di saat...

Next Post
Negara, Sejarah, dan Hak atas Kebenaran yang Diperdebatkan

Negara, Sejarah, dan Hak atas Kebenaran yang Diperdebatkan

Madilog Series

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Logika: Kenapa Orang Pintar Bisa Tetap Bodoh? – Madilog Series #3.2

Juni 7, 2026
Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Logika: Senjata Pembebasan yang Jarang Dipakai – Madilog Series #3.1

Juni 2, 2026
Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Pemberontakan Tidak Selalu Berhenti Sebagai Pemberontakan – Madilog Series #2.5

Mei 27, 2026

Marx Series

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Labour Power: Cara Kapital Membeli Waktu dan Tenagamu – Marx Series #1.4

Juni 2, 2026

Uang Menjadi Kapital: Ketika Uang Berubah Jadi Mesin Penghisap – Marx Series #1.3

Mei 29, 2026

Fetisisme Komoditas: Saat Barang Terlihat Lebih Penting daripada Manusia – Marx Series #1.2

Mei 25, 2026

Komoditas: Cara Pasar Menyembunyikan Kerja Manusia – Marx Series #1.1

Mei 17, 2026
Bicara Tabu, Itu Tabooo!

© 2026 Tabooo.id

Explore Tabooo

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy

Stay in the Loop

No Result
View All Result
  • Tabooo.id
  • Reality
  • Taboooverse
    • Deep
    • Edge
    • Check
    • Talk
    • Life
    • Vibes
    • Culture
  • Pattern
  • Figures

© 2026 Tabooo.id