Tabooo.id: Talk – Pernah nggak sih kamu merasa scroll media sosial sambil mikir, “Apa kita masih peduli sama bangsa sendiri?” Ya, saya juga. Rasanya seperti patriotisme digital itu setipis story Instagram muncul sebentar, lalu hilang di feed berikutnya. Padahal, di tengah percepatan transformasi digital, pemuda Indonesia seharusnya jadi pionir perubahan, bukan korban algoritma yang bikin nyaman di echo chamber.
Internet, media sosial, dan AI itu keren banget. Bisa belajar apa saja, kerja di mana saja, membangun jejaring tanpa batas. Tapi di balik kemudahan itu, ada sisi gelap yang nggak boleh kita anggap remeh. Budaya instan bikin kita susah tahan banting, empati digital rendah bikin komentar kasar seperti menu sehari-hari, dan patriotisme gampang luntur kalau konten viral lebih menarik dari sejarah bangsa. Pernah kepikiran, kenapa banyak pemuda nggak ngerti lagi soal perjuangan kemerdekaan? Karena konten edukatif kalah saing sama meme dan reels TikTok.
Gigih atau “Jalan Pintas”?
Sekarang, coba lihat fenomena “gigih” atau perseverance. Di dunia offline, ketekunan itu pilar kesuksesan. Tapi di dunia digital, kita terbiasa “jalan pintas”. Influencer sukses terlihat instan, startup bisa viral dalam semalam. Akibatnya, banyak pemuda gampang menyerah ketika proyek atau ide gagal. Burnout? Frustasi karena likes sedikit? Hmm, itu wajar sih, tapi kalau terus-terusan, daya juang kita bisa hilang padahal ekonomi digital kompetitif banget.
Empati yang Tergerus Layar
Dulu kita ngobrol di warung, saling mendengar, bisa baca ekspresi lawan bicara. Sekarang? Chat cepat, emoji, dan komentar pedas. Cyberbullying, trolling, toxic behavior di game online semua ini bikin empati sosial tergeser. Identitas digital bisa jadi topeng, bukan cerminan nilai. Kalau pola ini terus dibiarkan, generasi muda bisa tumbuh tanpa kepekaan sosial, padahal kepemimpinan yang baik lahir dari kemampuan memahami orang lain.
Program Formal vs Realitas Digital
Tentu ada sisi lain. Pemerintah dan komunitas bilang, “Santai dulu, kita sudah ada program digital citizenship, mentoring, lomba inovasi, dan hackathon kebangsaan.” Wah, keren. Tapi, apakah itu cukup? Kalau hanya sekadar program formal, sementara realitas digital dan budaya instan terus mengikis nilai gigih, patriotik, dan empati, bukannya kita cuma bikin konten keren tapi karakter tetap rapuh?
Pendidikan Karakter di Era Digital
Tabooo percaya, kuncinya bukan cuma program formal. Pendidikan karakter harus masuk ke ekosistem digital sehari-hari. Patriotisme bisa relevan lewat inovasi lokal, konten kreatif, atau dukungan pada produk dalam negeri. Gigih? Bisa dibangun lewat challenge-based learning, mentorship, dan failure learning culture. Empati? Ya, lewat pelatihan moderasi digital, dialog lintas komunitas, dan ruang kolaborasi yang aman. Tapi semua ini butuh konsistensi, bukan sekadar tren sesaat.
Nilai Kemanusiaan vs Teknologi
Humor sedikit pernah lihat pemuda yang bangga bikin startup tapi nggak bisa bantu tetangga banjir? Nah, itu ilustrasi kecil tapi nyata. Teknologi hebat, tetapi nilai kemanusiaan harus tetap jadi fondasi. Kalau tidak, generasi digital kita bisa jadi “pejuang layar kaca” yang pintar coding tapi lupa peduli.
Kolaborasi Semua Pihak
Kesimpulannya, pembangunan karakter pemuda di era digital itu tanggung jawab semua pihak pemerintah, keluarga, sekolah, media, dan masyarakat. Kementerian Pemuda dan Olahraga punya peran penting, tapi tanpa kolaborasi lintas sektor, semua program bisa berhenti di papan PowerPoint. Digital tanpa nilai, serupa motor tanpa bahan bakar: cepat, tapi nggak akan sampai tujuan.
Pertanyaan Terakhir untuk Kamu
Jadi, menurut kamu, apa yang lebih penting sekarang mengejar followers atau membangun karakter digital yang kuat? Apakah kita mau generasi yang gigih, patriotik, dan empatik, atau generasi yang cepat lelah, mudah menyerah, dan cuek sama lingkungannya? Lalu, kamu di kubu mana? @dimas




