Tabooo.id: Talk – Bayangkan ini di satu sisi, gema takbir mengalun, orang-orang saling bermaafan, jalanan dipenuhi arus mudik. Di sisi lain, pulau justru hening total lampu padam, aktivitas berhenti, langit terasa lebih dekat. Dua suasana yang kontras, bahkan bertolak belakang. Tapi anehnya, keduanya terjadi hampir bersamaan.
Pertanyaannya sederhana kita benar-benar siap hidup berdampingan dengan perbedaan seperti ini, atau masih sekadar “toleransi di spanduk”?
Tahun ini, momen Idul Fitri dan Nyepi berdekatan, bahkan nyaris bersamaan. Umat Islam merayakan kemenangan setelah sebulan berpuasa, sementara umat Hindu memasuki Tahun Baru Saka dengan cara yang justru berlawanan: diam, hening, dan menahan diri dari dunia luar.
Lucunya, dua momen ini sebenarnya punya “jiwa” yang sama: sama-sama ngajak kita berhenti sejenak dan bertanya, “kita ini sudah jadi manusia yang lebih baik belum?”
Sunyi dan Ramai, Tapi Tujuannya Sama
Umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian. Mereka mematikan lampu, menghentikan aktivitas, bahkan menahan diri dari hiburan. Mereka tidak sekadar diam, tapi benar-benar “mengosongkan diri” untuk refleksi.
Di sisi lain, umat Islam merayakan Lebaran dengan cara yang lebih ekspresif. Takbir menggema, orang mudik, rumah-rumah terbuka, maaf-maafan terjadi di mana-mana. Ramai? Iya. Tapi esensinya tetap sama: kembali ke fitrah.
Jadi sebenarnya, ini bukan soal siapa yang lebih “benar” dalam beribadah. Ini soal cara yang berbeda untuk mencapai tujuan yang sama.
Masalahnya, kita sering berhenti di permukaan. Kita lihat perbedaan bentuk, lalu buru-buru menilai. Yang satu dianggap terlalu bising, yang lain terlalu kaku. Padahal, dua-duanya sedang bicara dengan Tuhan hanya bahasanya berbeda.
Negara Turun Tangan: Toleransi Perlu Diatur?
Menariknya, pemerintah sampai harus turun tangan. Nasaruddin Umar meminta umat Islam khususnya di Bali menyesuaikan perayaan takbiran. Tidak ada konvoi, tidak pakai pengeras suara berlebihan, dan waktunya dibatasi.
Sekilas terdengar “membatasi kebebasan”. Tapi coba balik pertanyaannya: kalau kebebasan kita mengganggu ketenangan orang lain, itu masih layak disebut kebebasan?
Kesepakatan ini justru menunjukkan satu hal penting toleransi itu bukan cuma soal niat baik, tapi juga soal kompromi nyata.
Tapi Jujur Saja, Kita Sudah Toleran?
Kita sering bangga bilang Indonesia itu negara toleran. Tapi kalau jujur, toleransi kita kadang masih “musiman”. Ramai saat momen besar, sepi saat konflik kecil muncul.
Kita gampang bilang “hormati perbedaan”, tapi masih ribut soal hal-hal teknis: suara toa, perizinan ibadah, sampai cara berpakaian.
Padahal, kalau kita tarik ke akar, semua agama besar bicara hal yang mirip. Dalam Islam, manusia diminta menjaga hubungan dengan Tuhan, sesama, dan alam. Dalam Hindu, konsep Tri Hita Karana juga bicara hal yang sama: harmoni dengan Tuhan, manusia, dan lingkungan.
Jadi kalau masih ada konflik, mungkin masalahnya bukan di agamanya. Tapi di cara kita memahami atau mungkin, cara kita memanfaatkan agama.
Agama: Menyatukan atau Justru Memecah?
Sejarah sudah sering menunjukkan dua wajah agama. Di satu sisi, agama bisa jadi sumber kedamaian. Di sisi lain, ia juga bisa jadi alat konflik.
Semua tergantung interpretasi.
Ketika orang memahami agama sebagai jalan moral jujur, adil, peduli maka agama jadi solusi. Tapi ketika agama dipakai untuk identitas sempit, untuk “kami vs mereka”, maka konflik tinggal tunggu waktu.
Dan ironisnya, konflik antarumat beragama sering bukan murni soal agama. Ada politik, ekonomi, bahkan ego kelompok yang ikut bermain.
Jadi, masih yakin semua masalah ini soal iman?
Momen yang Terlalu Berharga untuk Dilewatkan
Momen berdekatan antara Nyepi dan Lebaran ini sebenarnya langka. Ini seperti “ujian praktik” toleransi dalam kehidupan nyata.
Kita diberi kesempatan untuk tidak hanya memahami perbedaan, tapi juga merasakannya. Umat Islam belajar menahan ekspresi demi menghormati keheningan. Umat Hindu melihat bagaimana ekspresi kebahagiaan bisa tetap berjalan tanpa mengganggu.
Ini bukan sekadar hidup berdampingan. Ini belajar menyesuaikan diri.
Dan mungkin, di titik ini kita perlu jujur: rukun itu tidak terjadi otomatis. Ia butuh usaha, kesadaran, bahkan kadang pengorbanan kecil.
Jadi, Kita Mau Jadi Apa?
Akhirnya, semua kembali ke pilihan kita. Mau berhenti di level “toleransi formal” yang penting tidak ribut? Atau naik ke level berikutnya: saling memahami, bahkan saling menjaga?
Karena jujur saja, dunia tidak butuh lebih banyak orang yang sekadar “tidak konflik”. Dunia butuh orang yang aktif menciptakan damai.
Momen Nyepi dan Lebaran ini sudah memberi contoh sunyi dan ramai bisa hidup berdampingan, tanpa saling meniadakan.
Tinggal kita yang menentukan, mau belajar dari situ atau tidak.
Lalu, kamu di kubu mana? @dimas







